
Allahuakbar, Allahuakbar!
Alunan suara merdu itu membangunkan Reza yang baru saja terlelap setelah pergulatan panas mereka tadi malam.
Reza menggeliat, namun terasa berat. Ia membuka matanya dan menoleh pada sang istri yang begitu lelap tidur dalam pelukannya.
Reza terkekeh, dengan pelan ia mengecup sekilas bibir Rani dan memindahkan kepala Rani ke bantal.
Dengan segera ia bangkit menuju kamar mandi dan mulai melakukan ritual mandi besar terlebih dahulu.
Setelah selesai, ia bangunkan Rani yang masih terlelap. ''Sayang, bangun. Udah subuh, sholat dulu.'' bisik Reza di telinga Rani.
Rani menggeliat. Tanpa sadar ia merangkul leher Reza. ''Bawa kekamar mandi, Bang! Aku masih ngantuk. Hooaaamm.. ngantuk banget Abang!'' seru Rani di ceruk leher Reza.
Reza terkekeh, ''Bangun ih!'' paksa Reza. Rani tetap sama masih bergelayut manja di lehernya.
''Ngantuk Abang! Mau kayak gini aja! Enak kayak gini. Hee.mmm.. Abang wangi!'' celutuk Rani.
Dengan sedikit nakal, ia menggoda Reza. Mengecup ngecup leher Reza yang masih basah dan terbuka karena baru saja habis mandi.
''Bangun sayang! Jangan memancing Abang! nanti Abang makan kamu disini lagi, mau? Kita belum sholat loh..''
''Ah, Abang nggak asik! Awas, aku mau lewat!'' ketus Rani.
Reza terkekeh. ''Abang tunggu kamu siap. Kita jamaah sholat subuhnya!''
''Hem,'' sahut Rani.
Dengan pelan ia masuk ke kamar mandi sebelum nya ia memakai handuk yang diberikan Reza padanya.
Baru satu langkah berjalan Rani sudah meringis. ''Ssshhhtt... aduhhh..'' rintih Rani.
Reza yang baru saja memakai CD nya menoleh pada Rani yang masih berdiri sambil menahan sakit.
Dengan cepat, Reza memakai kembali handuknya dan membopong Rani menuju ke kamar mandi.
''Eh, eh, loh,loh. Abang!'' seru Rani terkejut.
__ADS_1
Cup!
Reza kecup sekilas bibir yang sedang manyun lima centi itu. ''Jangan manyun.. nanti Abang makan lagi itu bibir bisa habis kamu!''
Rani melipat bibirnya kedalam dan menggeleng. ''Ayo, duduk di dalam sana. Hati-hati. Udah Abang isikan air hangat untuk kamu bisa berendam sebentar agar rasa sakit itu berkurang.''
''Abang mau ngapain?'' tanya Rani saat melihat Reza ikut masuk kedalam bathup yang sudah berisi air hangat dengan aroma mawar.
''Bantuin kamu mandi! Kenapa? Kamu mikir Abang ngapain, hem?'' goda Reza dengan segera mendekati wajah Rani lagi.
Rani melengos. ''Nggak mikir apa-apa! Awas ih! Aku mau mandi loh.. masa iya sih berdua sama Abang dalam satu bathup begini?''
Reza terkekeh lagi. ''Abang hanya ingin membantumu sayang. Nggak ada niat yang lain. Kalaupun ada, habis sholat subuh kita lanjutin lagi!'' goda Reza dengan menggerakkan alisnya naik turun.
Rani menepuk dada Reza yang terbuka di dalam air yang penuh dengan buih sabun. Reza tertawa.
''Sini, Abang bantuin kamu keramas.'' ucapnya dengan segera ia meletakkan sedikit shampo di telapak tangan dan mulai memijat lembut di kepala Rani.
Rani menerima dengan senang hati. Lima belas menit kemudian, mereka sudah siap untuk melanjutkan sholat subuh berjamaah.
''Dek?''
''Hem?''
''Kamu bahagia tidak menikah dengan Abang? Maksud Abang, apakah kamu tidak akan kecewa jika nantinya kamu mendapati ada sesuatu yang cacat di diri Abang?''
''Maksudnya?'' tanya Rani kebingungan.
''Maksudnya, gimana kalau seandainya Abang tidak bisa memberikan keluarga kita keturunan karena penyakit Abang?''
Deg!
''Abang sakit? Sakit apa? Kenapa nggak pernah ngomong sama Rani? Ayok, kita kerumah sakit!'' seru Rani begitu panik melihat wajah Reza yang begitu serius.
Reza terkekeh namun sendu. ''Abang bertanya sayang. Apakah jika suatu saat nanti Abang tidak bisa memberikan keturunan, apakah kamu akan pergi meninggalkan Abang?''
Rani tertegun. Ia menatap datar pada Reza. Reza menelan Saliva nya. Wajah Rani menyeramkan saat ini.
__ADS_1
''Kenapa Abang bertanya seperti itu?! Apakah masalah atau tidak, itu bukan urusan kita! Sampai kapanpun Rani tidak akan pergi dari Abang! Sekalipun Abang tidak bisa memberikan keturunan di keluarga kita! Cukup kita berdua saja! Tidak perlu ada anak lagi! Jika kita nantinya tiada, kita sumbangin semua harta ayah Alam ke panti sosial dan yang lainnya. Tak perlu ada kehadiran seorang anak di dalam keluarga kita! Kalau mau anak, kita bisa mengadopsi nya? Iyakan? Jangan bicara yang tidak-tidak, Rani nggak suka!'' tegas Rani dengan wajah datar namun mata itu berkaca-kaca.
Dengan segera ia bangkit dan duduk dipangkuan Reza. Reza tertegun. ''Apapun Abang, Rani tidak masalah. Yang Rani inginkan, adalah Abang! Bukan yang lain! Jangan berbicara seperti itu! Itu sama saja dengan Abang tidak percaya denganku!'' lanjut nya lagi dengan bibir bergetar.
''Abang hanya takut, sayang. Kecelakaan kita di hutan kemarin itu mengakibatkan salah satu alat produksi s****a Abang menjadi tidak bagus untuk bisa membuahi sel telur kamu.. Abang hanya takut kamu kecewa sayang.. Abang takut kamu kecewa...'' lirih Reza dengan memeluk erat tubuh Rani.
Rani membalas pelukan itu Reza tak kalah erat. ''Rani mencintai Abang dengan segala kelebihan dan kekurangan Abang. Tidak masalah jika kita tidak punya anak. Kan kita bisa pacaran saja, hem? Udah halal loh.. duduk kayak gini aja halal. Apalagi yang lain?'' goda Rani dengan tersenyum nakal pada Reza.
Reza yang tadi nya murung, kini jadi tertawa. Inilah yang di inginkan nya. Ini juga yang ingin disampaikan nya kemarin malam.
Tapi semua itu gagal karena melihat wajah Rani yang malu-malu padanya. Reza menyukaii hal itu. Jadilah apa yang harus ia katakan, hilang seketika.
''Beneran nih?'' tanya nya memastikan.
''Hooh!' sahut Rani sambil mengangguk pasti.
''Tapi kamu masih sakit kan?''
''Sedikit,. tapi harus sering di biasakan bukan?''
Reza tertawa. ''Kamu benar! Jangan salahkan Abang, jika kamu tidak bisa berjalan nanti!''
''Tak apa. Untuk suamiku tercinta apapun akan kulakukan! Termasuk jika dia meminta nyawaku, maka aku bersedia memberikan nya!''
Lagi, Reza tertegun dengan ucapan Rani. ''Nggak! Abang nggak akan minta nyawa kamu! Jika suatu saat terjadi seperti itu, maka Abang lah yang akan memberikan nyawa untukmu. Bidadari surgaku uuu..'' ucap Reza ia bernyanyi di ujung kalimatnya.
Rani tertawa. ''Abang pengganti ayah buatku, saudara, sahabat sekaligus suami. Tanpa mu apalah aku. Ku tak berdaya aaaa...'' balas Rani.
Mereka tertawa-tawa bersama. Suatu kebahagiaan bisa tertawa bersama seperti itu setelah masa sakit yang harus mereka jalani.
Kini, mereka akan hidup dengan status baru. Dalam rumah yang baru. Walau tanpa kehadiran seorang anak, tapi itu tidak akan menyurutkan cinta mereka.
Semoga saja.
Selamat berbahagia!
The End
__ADS_1