
Mata mama Nia menatap Reza dengan tatapan kosong. Papa Rustam terlihat begitu lemas. Wajahnya pucat pasi. Reza masuk dan mendekati dua orang itu.
''Pa..'' panggil Reza setelah ia tiba di kamar mereka.
Papa Rustam menatap datar pada Reza.
''Temukan dalang teror itu Za! Jika sudah, bun*h dia!''
Deg!
Deg!
Reza mematung, namun hatinya bersorak girang. ''Waktu nya membalas perlakuan yang dulu pernah kalian lakukan pada ayah dan ibu.'' Gumam Reza dalam hati.
''Kamu dengar Reza? Cari dalang teror itu! Bun*h dia! kalau kau sudah menemukan nya! Berani bermain dengan keluarga Rustamsyah, maka inilah yang terjadi. Nyawa taruhannya!'' geram Papa Rustam.
Rahang nya mengetat mengingat teror yang baru saja terjadi di keluarga mereka.
''Kau akan Mati!'' gumamnya dalam hati.
Reza cukup mendengar kan saja. Wajahnya sedikitpun tidak berubah. Datar tanpa ekspresi.
''Baik,, akan segera kami lakukan!'' Sahut nya, dengan senyum smirk menghiasi wajahnya.
Fatih dan Karin saling pandang memberikan kode agar keluar dari kamar itu. ''Pa, kami keluar dulu ya?''
''Ya,'' sahut Papa Rustam.
Mereka bertiga keluar bersamaan setelah meminta ijin pada dua orang yang sedang dalam masalah itu.
''Za...''
''Aku tau Bang.. sebaiknya kita bergerak cepat. Karena aku melihat dia pun sudah bergerak saat ini. Nanti malam. Tunggu nanti malam!'' imbuh Reza, setelahnya ia berlalu meninggalkan Fatih dan Karin yang termangu disana.
__ADS_1
Sore harinya.
Papa Rustam sedang duduk santai dengan istrinya saat tiba-tiba pintu kamar mereka di ketuk dari luar.
Tok, tok, tok.
''Permisi tuan.. saya mau masuk untuk mengantarkan makan malam anda..'' ucap suara di belakang pintu kamarnya.
Papa Rustam mengernyit kan dahinya. ''Makan malam? Kan masih sore? Masih setengah lima pula. Siapa sih yang menganggu kami? Ck!" gerutu Papa Rustam.
Walaupun ia menggerutu, tapi tetap menyuruh masuk pelayan itu. Seseorang di balik pintu menyeringai.
"Permainan di mulai!" Imbuhnya dengan segera ia membuka pintu kamar keluarga Rustamsyah itu.
Ceklek,
Pintu kamar utama terbuka. Terlihat dua orang paruh baya sedang berpelukan dan tidur bersama.
Seseorang itu terkekeh namun sendu. "Masih bisa terlelap kalian berdua ya? Setelah teror yang dibuat tadi pagi oleh putra mu, hem?" gumam nya.
Ceklek!
Pintu itu terkunci dari dalam. Mendengar pintu di kunci dari dalam, Papa Rustam memicingkan matanya.
Klep, klep.
Ia mengerjabkan matanya. Ia melihat ada seorang wanita sedang membelakangi mereka berdua.
Wanita itu memakai baju gamis berwarna pink lembut senada dengan hijabnya. Papa Rustam memicing melihat siapa sebenarnya wanita itu.
Ia terus melihat pergerakan dari wanita itu. Dan saat berbalik.
Deg!
__ADS_1
Deg!
"Kamu?!"
Orang itu tersenyum manis. Begitu manis mengalahkan gula dan madu. Eh?
"Selamat sore Pakde Rustamsyah!"
Deg!
Mama Nia tersentak ketika mendengar suara familiar itu. Ia membuka kedua matanya secara paksa.
"Ra-rani!!" serunya terkejut.
Rani tersenyum, " Ya, ini saya Bude Nia. Apa kabar? Saya dengar Bude sakit? Kebetulan sekali saya bawa bubur spesial untuk kalian berdua! Buatan tangan saya!" imbuh Rani masih dengan senyum manis tersungging di bibir nya.
Dua paruh baya itu mematung melihat Rani. Mereka masih mencari kebenaran jika Rani masih hidup atau yang ada di hadapan mereka ini adalah arwahnya?
"Kamu Rani?"
"Ya! Aku Rani! Rani yang dengan tega kalian bunuh di dalam mobil kemarin malam! Inilah aku Rani! Putri kandung Muhammad Alamsyah! Pemilik sah, harta yang sekarang kalian nikmati! Aku kembali untuk mengambil apa yang menjadi milikku! Kalian tidak berhak dengan semua ini! Kalian hanya pencuri dan benalu! Berani mengambil hak yang bukan milik kalian dan mengakuinya! Aku kembali untuk menuntut balas pada kalian berdua karena telah berani mengganggu ketenangan hidupku dengan cara membun*h kalian berdua di kamar ini! Akan ku pastikan, jika kalian berdua tidak akan ada yang tau tentang kematian kalian berdua!" ucap Rani dengan mata dingin dan wajah datar.
Terlihat begitu menyeramkan saat ini. Tubuh Mama Nia gemetar. Papa Rustam mematung mendengar ucapan Rani.
Putri kandung dari adik sepupunya yang telah di nyatakan meninggal kemarin malam kini sudah kembali di hadapan nya.
Jika Rani masih hidup, siapakah yang meledak bersama mobil Malam itu?
💕💕💕
Ikuti terus kelanjutannya!
Maaf jika othor semalam nggak update, othor lagi pusing sendiri ingin nulis kayak apa kelanjutannya.
__ADS_1
Hihihi... buntu ide! 😄😄
TBC