Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 10


__ADS_3

Setelah puas tidur, Lucy membuka mata, dia masih berada di dalam gendongan Yohan. Berapa lama pemuda ini berjalan? ini sudah pagi tapi dia masih terus melangkah tanpa henti.


Kali ini berbeda, tempatnya tidak semenyeramkan tadi malam, malahan teramat cantik.



Mata Lucy memandang kagum, udara di sini juga segar membuat pikirannya rileks. Rupanya tadi malam dia tidur begitu nyenyak sampai tidak sadar jalur apa yang ditempuh Yohan hingga sampai ke tempat ini.


“Selamat pagi, Nona. Tidurmu nyenyak?”


“Yohan kau berjalan semalaman?”


“Iya.”


“Kau tidak capek? Apalagi menggendongku.”


“Tidak.”


“Tidak takut?”


“Tidak.”


Lucy turun dari punggung Yohan, dia ingin berjalan sendiri menyapa bunga liar yang tumbuh tidak beraturan.


“Yohan, cantik sekali.” Lucy menyampaikan kegembiraan yang memancarkan kemerlap indah di matanya. Yohan tersenyum tipis melihat wajah gadis ketus berubah menjadi hangat seperti ini.


“Nona suka?”


“Suka!”


Dengan senyum bahagia Lucy mampu merontokkan rasa lelah Yohan, ia tidak akan pernah menyesali moment ini walaupun nyawa sebagai taruhan. “Nona bermain-mainlah, di sini tidak ada apa-apa selain tumbuhan.”


Lucy ke sana kemari seperti Rapunzel yang baru turun dari menara. Yohan duduk bersandar di pohon dengan mata yang tidak lepas dari Lucy. Sampai gadis itu kembali--duduk di samping Yohan.


“Yohan.”


“Hmmm?”


“Terima kasih.”


Yohan tersenyum tipis, kemudian dia meraih ransel kecil yang ia bawa. “Nona makanlah, tidak apa-apakan hanya roti?”


“Iya tidak apa-apa.”

__ADS_1


“Aku akan mencari buah nanti, di hutan ini banyak sekali jenis beri-berian.”


Mungkin karena dalam situasi senang Lucy jadi penurut seperti ini, untunglah.


Siang harinya Yohan mengajak Lucy bermain di sungai untuk menangkap ikan, baju Lucy habis basah tapi gadis itu terlalu asik hingga tidak peduli.


“Yohan ikannya tak mau ditangkap!”


Yohan terkekeh, ikan mana yang mau menyerahkan diri untuk dimakan?


“Tidak apa-apa, Nona. Aku sudah dapat empat. Ini cukup sampai makan malam.”


Siang itu mereka makan ikan dan juga ubi bakar. Sederhana memang, tetapi menyenangkan. Lucy bahkan habis banyak sekali sampai dia tidak bisa bergerak karena kenyang, persis seperti pacat gemuk.


“Nona ganti bajulah nanti masuk angin.”


“Aku gak bawa baju.”


“Saya bawa baju ganti untuk kita.”


Ransel kecil itu ternyata banyak muat barang. Yohan sudah mempersiapkan segala keperluan untuk mereka di sini.





Menjelang malam, mereka sekarang berada di bangunan tua untuk berteduh malam ini. Lucy kembali takut, otaknya sudah menggambarkan berbagai macam jenis hantu.



“Nona kita tidur di sini malam ini,” kata Yohan sambil membentang kain untuk alas. Ada dua kain, semuanya untuk Lucy, satu untuk alas dan satu lagi untuk selimut, Yohan sandaran saja di tembok.



Tapi Lucy malah takut begini.



“Yohan~”


__ADS_1


“Iya?”



“Kau tidur juga di sini.” Lucy menepuk tempat di sisinya.



Yohan ragu, mau bagaimana pun juga Lucy adalah seorang gadis, tidak wajar jika mereka tidur bersebelahan seperti itu.



“Nona tidur saja, aku akan berjaga di sini.”



“Aku tidak bisa tidur jika seperti ini! Aku takut!” Lucy marah sedikit meninggikan suaranya.



“Apa tidak apa-apa?”



“Untuk malam ini tidak masalah.” Tidak ada keraguan dalam hati Lucy, yang ada hanya ketakutan dengan hantu yang bisa menyeretnya saat dia tidur.



Yohan ikut berbaring di atas kain itu, dia tidak membawa bantal, sebagai gantinya tangan Yohanlah yang dijadikan oleh Lucy bantal, sedangkan tubuhnya jadi guling.



Malam itu mereka tidur nyenyak, walaupun Lucy takut tapi karena ada Yohan dia merasa aman, begitu pula dengan Yohan yang kelelahan.



Tbc.



...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....


__ADS_1


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....


__ADS_2