
Di sini Bagas berada di rooftop sekolah bersama gengnya, matanya menatap gadis di bawah sana yang sedang duduk di bangku taman sekolah. Gadis itu begitu manis, bagas menyukainya namun tak berani mengatakan.
“Kalau suka bilang aja, ngapain takut sama Lucy,” ujar teman Bagas.
“Kalian taukan seberapa dekat Vivian dengan Lucy? Aku yakin dia akan menolakku demi Lucy.” Bagas mengenal Vivian kerna pernah satu SMP juga dengan Vivi.
“Coba aja dulu, sebelum keduluan orang lain loh.”
“Gak semudah itu bro, Vivian terlalu baik. Dia pasti tak ingin menyakiti Lucy,” kata Bagas, selama ini dia membenci Lucy kerna alasan persahabatannya dengan Vivian. Tak masalah bersahabat, tapi Lucy itu gila, entah apa yang akan dia lakukan pada Vivian kalau sempat tau Bagas menyukai Vivi.
Sementara itu Lucy hanya berdua saja dengan Vivian. Yohan pergi mengambil catatan Lucy yang ketinggalan di rumah.
“Bisa bisanya kamu lupa membawa catatan, hari ini dikumpul padahal.” Ucap Vivian sambil mengunyah martabak full keju milik Lucy. Mereka berdua memang terlalu dekat hingga kalau pingin makanan satu sama lain tinggal comot aja, tidak perlu bilang.
“Biarin, kan Yohan lagi pergi ambilkan.”
“Jadi bodyguardmu kayaknya capek banget ya Cy”
“Kamu mau jadi bodyguardku? gajinya besar loh.”
“Enggak deh.”
__ADS_1
Lucy tertawa dengan mulut yang masih mengunyah. “Lagian mana mungkin bisa kau jadi Bodyguardku, mereka itu harus kuat dan serba bisa sedangkan kau sangat lembek seperti jelly.”
“Uhh jadi pingin jelly.” Vivian membayangkan jelly gara-gara Lucy menyebutkan nama makanan itu.
“Eh kulihat di internet ada kafe puding dekat depan taman kota, ke sana yuk aku yang teraktir.”
“Enggak bisa kalau hari ini, aku mau bantu mama ngurus loundryan.” Orang tua Vivian memang buka usaha loundry, jadi kalau lagi ramainya Vivian harus ikut membantu agar waktunya terkejar.
“Yaudah deh aku pergi sama Yohan aja nanti.”
“Eh Cy, martabaknya enak banget, kamu beli di mana?”
“Yohan yang belikan, entah di mana.”
“Iya, eh Yohan kamu beli martabak ini di mana?”
“Depan universitas di jalan X.”
Kemudian Vivian menanyakan harganya, dia ingat kakenya pingin martabak, malah Vivian di sini yang makan. Vivian jadi tidak enak hati. “Harganya berapa?” tanya Vivian.
“250 ribu seporsi.”
__ADS_1
Vivian menelan ludahnya kasar, uang jajannya hanya 20rb sehari, mana cukup untuk membeli martabak yang sama.
“Memang kenapa Vi? Kamu pingin lagi, ya?”
“Kakeku pingin martabak, nanti aku beliin yang dua puluh ribuan aja deh untuk dia ehehe.”
“Yohan pergi sana beli satu lagi untuk kake Vivi.”
“Enggak usah Cy, aku-”
“Udah diam kau, uangku gak bakal habis hanya kerna membelikanmu martabak.”
Yohan merasa bangga, Lucy ternyata punya sisi baiknya juga, gadis itu tidak pelit sama teman sendiri, dia tidak perhitungan kalau soal uang.
Selagi dua gadis itu berdebat, Yohan pergi menjalankan perintah Lucy, membeli martabak full keju sama seperti yang ia beli tadi. “Setidaknya dengan temannya dia tidak jahat,” batin Yohan.
Huh~ untuk sekian kalinya Yohan bolak-balik hari ini.
Tbc.
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
__ADS_1
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....