Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 74


__ADS_3

Hari-hari Licy habiskan waktu di rumah Vivi, sudah sebulan lamanya sejak kejadian yang mengguncang mental Lucy. Keadaannya semakin lama semakin buruk, setiap malam Lucy menyebutkan nama Yohan dalam tidurnya.


Tubuh Lucy semakin kurus bahkan kulitnya tidak lagi berseri seperti dulu, ia pucat pasi bak mayat hidup. Mengetahui itu, paman Tian datang membawa dokter psikolog untuk Lucy.


“Lucy menghilang!” jerit Vivi memasang raut panik. Padahal dia hanya meninggalkan Lucy sebentar kerna harus mencuci piring, kedatangan paman Tian bersama dokter membuat Vivi beranjak dari pekerjaannya untuk membenahi penampilan Lucy. Tapi apa? Lucy malah tidak ditemukan di mana pun sudut rumah Vivi.


Mereka panik, kemudian berpencar untuk mencari Lucy di area Luar. Keadaan mental Lucy akan sangat berbahaya jika di biarkan seorang diri.


>>>


Di dekat jembatan yang di bawahnya terdapat laut biru nan Luas, Lucy berjalan lalu kemudian dia berhenti menatap birunya air laut. Angin menerpa rambutnya, Lucy terus dengan lamunannya hingga pemandangan yang ia lihat mulai berubah.


Tadinya itu laut tapi di mata Lucy hamparan rumput hijau membentang luas di sana, tampak juga seorang pemuda yang bersandar di bawah pohon dengan segerombolan domba seakan dia adalah pengembala.


“Yohan,” gumam Lucy dengan air mata yang mulai menetes ke aspal.


Pemuda itu menoleh kemudian melemparkan senyum manis ke arah Lucy, terdengar suara pemuda itu memanggil Lucy. “Nona, kemarilah,” Katanya, padahal jarak mereka cukup jauh tapi kenapa bisa Lucy mendengar suara Yohan yang di sana?

__ADS_1


“Aku akan ke sana, jangan tinggalkan aku.” Kaki Lucy mulai menaiki pembatas jalan, dia sudah terjebak dalam hasutan setan yang menciptakan imajinasi untuk menjerumuskan Lucy ke hal yang berbahaya.


Yohan merentangkan tangan seolah menunggu Lucy untuk berlari ke dalam pelukannya.


“Yohan.” Sudut bibir Lucy terangkat, dan....


“Lucy!” teriak Vivian, tapi terlambat. Lucy tidak dapat mendengar suara siapapun itu kerna dia sudah masuk ke dalam pedangkap setan.


Byur.


Lucy melompat dalam keadaan yang sangat bahagia, dia tenggelam ke dalam lautan dalam semakin dalam. Padahal dia bisa berenang, tapi entah kenapa dia tidak ada niatan untuk mencoba naik ke permukaan.



Jangan tinggalkan aku lagi, Yohan. Perlahan Lucy menutup matanya, rasa panas di dada kerna kekurangan oksigen tidak mampu menyadarkan Lucy di mana dia sekarang berada. Dia semakin jauh tenggelam dalam bayangan tengah dipeluk oleh Yohan, padahal aslinya dia hanya seorang diri ditelan laut.


.

__ADS_1


.


Sedangkan itu Vivi menangis di atas jembatan, dia melihat dari jauh, bagaimana dengan sendirinya Lucy melompat ke laut. Gadis itu tadi menampakkan senyum yang selama ini hilang setelah kepergian Yohan.


“Lucy..” Vivian terduduk berlinangan air mata, tempat Lucy melompat tadi sudah penuh dengan orang-orang yang berhenti untuk melihat.


Kemudian paman Tian berserta rombongannya datang menghampiri Vivi.


“Di mana nona Lucy?” tanya paman Tian yang belum mengetahui apapun.


Vivi menutup mulutnya sambil menunjuk arah laut, dia kesulitan untuk berbicara kerna masih dalam keadaan syok.


Biarpun begitu paman Tian langsung mengerti kerna mendengar desas-desus orang yang menggosip.


“Nona.” Detik itu jantung Tian seakan ingin meledak, dia gagal melindungi gadis yang seharusnya ia jaga setelah Yohan mengorbankan nyawanya. Maaf, Yohan. Aku gagal.


Tbc.

__ADS_1


...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....


__ADS_2