Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 62


__ADS_3

Dari pagi sampe sore Lucy tidak banyak membantu. Para ibu-ibu tidak sadar akan hal itu kerna mereka sibuk cerita dan tertawa, tidak ada yang tau jika Lucy hanya berhasil mengupas 10 bawang merah dan juga satu jahe.


“Aku pulang ya,” pamit Lucy, dia mencoba kabur dan bersikap seramah mungkin di hadapan mereka. Pinggang Lucy terasa encok akibat duduk seharian.


“Iya dek, nanti malam datang lagi gak?”


“Gak tau, lihat keadaan dulu deh.”


Lucy pergi keluar celingak-celinguk mencari Yohan. Pemuda itu bilang akan menunggu, tapi di mana dia sekarang?


“Om, lihat Yohan gak?” tanya Lucy pada bapak-bapak berperut buncit yang tengah berdiri sambil menghisap sebatang rokok.


Bapak itu menoleh. “Istrinyakan?”


“I-iya.” Sepertinya Lucy harus terbiasa dipanggil istri Yohan di desa kecil ini. Sulit sekali untuk menyangkal, dia ingat tentang perkataan Yohan.


“Itu dia,” tunjuk si bapak pada seorang pemuda yang tengah memegang kapak di tangannya, Yohan sedang membelah kayu untuk bahan bakar pembuatan dodol yang sudah berlangsung hampir seharian.


“Yohan.”


Suara Lucy berhasil menghentikan ayunan kapak Yohan. Pria itu menoleh dengan keringat yang membanjiri tubuhnya, mungkin kerna panas berada di dekat perapian. Tapi... dia tampak seksi!

__ADS_1


Lucy menelan ludah kasar, pengawalnya benar-benar tampan. Ah sial, kenapa dia jadi hot gitu?


Yohan malah tersnyum manis menampakan gigi rapinya. Dia berpamitan pada para lelaki yang tengah bersusah payah mengaduk dodol. “Saya duluan, Paman”


“Iya silahkan, Yohan.”


>>>


Malam hari, di saat mereka berdua sudah bersih dan wangi, mereka makan malam dari hasil masakan Yohan. Lucy tidak bisa masak jadi tidak bisa mengandalkan gadis itu.


“Yohan aku mau ngemil puding, kamu carikan nanti.”


“Emang di sini gak ada, apa?”


“Enggak.”


“Terserah, yang jelas aku mau puding!”


Sepertinya Lucy lupa kalau Yohan bukan lagi pengawalnya, status itu sudah hilang bersama meledaknya mobil Yohan untuk memalsukan kematian mereka. Yohan sudah tidak digaji lagi oleh Dion, dia belum mengambil gajinya bulan ini, malahan Yohan harus menghidupi Lucy sekarang.


Benar-benar Lucy gadis yang tidak sadar diri.

__ADS_1


Permintaan Lucy begitu berat, tidak mungkin dia kembali ke kota di saat mereka di sana masih menjadi pembicaraan media, bagaimana kalau salah satu orang melihat Yohan?


“Nona, berita kita saya rasa belum kering, tidak mungkin saya pergi untuk mencari puding Anda di sana”


“Tapi aku pingin puding~” Lucy menunduk sedih, dia kebiasaan apa yang diinginkan harus dapat, jadi begini deh. Manja!


Yohan memikirkan cara lain agar Lucy menahan keinginannya untuk saat ini. “Kalau saya pergi, Nona akan sendiri di sini. Tidak takut?”


Lucy menelusuri pandangannya ke area rumah, gelap! Mereka tidak memakai listrik. “A-aku ikut kamulah!”


“Tapi jalan kita melewati hutan, ini malam jumat pasti banyak hantu yang berkeliaran huu~ saat aku lengah dia akan menarik kaki Nona dan... BAAA! Nona hilang dimakan hantu.”


Lucy merinding hanya mendengar cerita Yohan, dia mengurungkan niatnya. “Ya-yaudah deh pudingnya gak usah! Aku ngantuk, ayo tidur.”


Cara Yohan berhasil.


Tbc.


...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....

__ADS_1


__ADS_2