Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 58


__ADS_3

“Yohan kapan sampainya?” Rengek Lucy yang digendong di punggung Yohan.



Perjalanan melewati jalan yang tidak diketahui oleh banyak orang menuju sebuah desa yang jauh di pedalaman itu cukup mengerikan. Sebenarnya ada jalan yang lebih bagus, tapi tujuan Yohan bukanlah untuk cepat sampai, melainkan sampai tujuan tanpa ketahuan siapa pun.


“Sebentar lagi.”


“Ini udah hampir pagi.”


“Nona lelah?”


Lucy menggelengkan kepala, lelah apanya? blBahkan dia tidak lepas dari gendongan Yohan sejak meledakkan mobil sendiri tadi malam. Ya, meledakkan mobil adalah bagian rencana Yohan, satu teman yang di bayarnya memberikan kesaksian palsu dengan mengatakan melihat kepala berambut panjang jatuh ke laut.


Biarkan mereka berpikir kalau Yohan dan Lucy sudah mati.


“Aku haus Yohan.”


“Di sana ada sungai kecil, Nona bisa minum di sana”



Daun menjadi wadah untuk Yohan memberikan Lucy minum, dengan hati+hati dia mengambil air yang bersih. “Ini Nona minumlah.”


Lucy minum banyak sekali, sepertinya gadis ini memang haus berat. “Ahhh leganya.”


“Ayo Nona kita lanjutkan perjalanan.” Yohan berjongkok agar Lucy naik ke punggungnya.

__ADS_1


“Aku mau jalan sendiri.”


“Jalannya becek Nona, Anda yakin?”


“Yakin.”


“Banyak akar pohon besar, Nona bisa tersandung juga. Tidak apa-apa, naiklah, saya tidak capek sama sekali.”


Moto yohan, apapun demi Lucy matipun dia rela. Walaupun tubuh itu sebenarnya sudah sangat lelah, dia tidak menunjukkan sama sekali rasa lelah itu, di mata Lucy Yohan tidak seperti manusia yang bisa merasakan capek ataupun sakit.


Ingatkan? Lucy menganggap pelayan ataupun pengawal adalah robot.


“Iya ya? Yaudah deh.” Lucy naik ke punggung Yohan. Langkah demi langkah, Yohan terus menapak tiada keluh.


Hingga sampailah dia di sebuah desa terpelosok. Lucy turun dari gendongan, jalan sudah bagus, dia bisa melangkah bebas di sana.


“Di rumah teman saya.”


“Kita tinggal bersama mereka ya?”


“Tidak Nona, kita hanya berdua. Teman saya sudah pindah ke kota, jadi dia pinjamkan rumah dia untuk kita.”


Teman yang Yohan maksud adalah orang yang sama dengan yang memberikan kesaksian palsu atas tragedi meledaknya mobil.


Pagi-pagi ini warga desa sudah di depan rumah pergi kerja ataupun menyapu halaman.


“Hei, mau kemana dek?” tanya seorang ibu-ibu yang membawa bakul.

__ADS_1


Orang desa rata-rata memang begitu, kenal tidak kenal mereka tidak akan segan untuk berkomunikasi. “Pindahan Buk di daerah sini.”


“Ohh, begitu. Di mana?”


“Itu, rumah yang itu,” tunjuk Yohan pada rumah kecil yang tak jauh dari sana.


“Kalian pengantin baru ya?”


“Eng-” Mulut Lucy langsung dibekap oleh Yohan.


“Iya Buk,” jawab Yohan. Mata Lucy membulat, bisa-bisanya Yohan berbohong seperti itu. “Yaudah Buk, kami duluan ya.”


“Iya, mari.”


Ibu itu pergi, Yohan pun melepaskan tangannya dari mulut Lucy. “Apa maksudmu itu hah!”


“Nona, di desa pria dan wanita dewasa yang belum menikah tidak boleh tinggal di rumah yang sama, apalagi hanya berduaan. Kalau tidak ingin digibahi dan diusir lebih baik kita berbohong.”


“Terserah deh.”


Hehehe, dalam hati Yohan sangat girang. Orang orang akan mengira Lucy adalah istrinya, membayangkannya saja Yohan sudah salting menahan senyum yang ingin terbit.


Tbc.


...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....

__ADS_1


__ADS_2