Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 68


__ADS_3

Siang-siang Lucy sudah memasang wajah masam, sekarang pukul sepuluh pagi dan Lucy baru saja bangun. Mau tahu apa yang membuat Lucy bad mood? Yohan, pria itu entah kapan perginya yang jelas dia hanya meninggalkan uang di atas meja.


Lucy lapar, dia tidak pandai memasak dan dia juga tidak pernah berbelanja sendiri sebelumnya. Anggaplah Lucy tidak tahu diri, dia menghubungi Yohan untuk memakinya.


“Iya Nona ada apa?”


“Aku lapar!” Kata Lucy dengan nada ngambek. Sabarkan Yohan Tuhan.


“Beli saja Nona, saya sudah tinggalkan uang.”


“Cuaca sangat panas! Kau menyuruhku keluar?”


“Tidak apa Nona, cahaya matahari juga ada vitaminnya. Di dekat jembatan ada yang jual nasi kuning sama lontong, Nona bisa ke sana.”


“Tidak mau!”


Lucy langsung memutuskan panggilan, memang mood Lucy setelah bangun tidur itu sangatlah jelek. Bahkan dia kembali berbaring dan menangis, mungkin karena dia tidak terbiasa terlantarkan seperti ini makanya ada perasaan sakit hati.


15 menit kemudian Lucy berlari menuju pintu yang terdengar suara ketukan. Jejak air mata masih ada di pipinya tapi dia biarkan saja itu, dengan wajah bahagia dia meraih gagang pintu dan kemudian membukanya.


Seketika senyumannya luntur, Lucy pikir tadi Yohan yang datang tapi ternyata bocah. Ya lagian tidak mungkin Yohan sampai secepat itu.

__ADS_1


“Kak ini pesanan bang Yohan. Kata mamak totalnya 30 ribu,” kata bocil pendek itu sembari menyerahkan kantong plastik berwarna merah.


Lucy menatap sinis bocah itu. “Siapa yang menyuruhmu ke sini?”


“Mamak.”


“Bukannya Yohan, ya?”


“Abang Yohan yang pesan, terus aku yang disuruh antar ke kakak sama mamakku.”


Kesal banget melihat bocil itu, yang Lucy inginkan itu Yohan. Dengan kaki yang di hentak-hentakan Lucy berjalan kembali ke kamar untuk mengambil uang. Dia malah ngambek sama bocil itu.


Tak sampai satu menit Lucy kembali lagi memberikan uang seratus. Bocil itu seperti sudah dipersiapkan, dia membawa kembalian 70 ribu dari sang ibu. Sepertinya Yohan sudah memberitahu si ibu penjual kuning untuk membawa kembalian.


“Terima kasih, kak.”


“Hmm.”


Bocil itu pun berlari pergi, Lucy masuk ke dalam untuk melihat apa yang dipesan Yohan. Ada satu bungkus nasi kuning paket komplit, lontong sayur dan juga gorengan serta kerupuk.


“Baunya enak.” Mood Lucy membaik, memang makanan adalah salah satu solusi yang bagus untuk memperbaiki mood.

__ADS_1


Sedangkan si bocil anak ibu si penjual nasi kuning kembali pada ibunya yang tengah sibuk melayani pembeli lain.


“Mak lain kali janganlah mamak suruh aku antarkan pesanan ke rumah kak Lucy.”


“Memangnya kenapa?”


“Di rengutinya aku tadi, entah apa salah aku, Mak?”


“Lagi kesal dia itu sama suaminya, kalau enggak itu enggak mungkin suaminya sampai nelfon bapakmu untuk antarkan pesanan ke rumah dia. Bisalah dia jalan sendiri kalau dia lagi enggak merajuk.”


“Ehh yasudahlah Mak, untung kakaknya cantik jadi enggak kesal-kesal betul aku sama dia.”


“Mana duitnya?”


“Nih.” Dia memberikan uang 100 ribu pada mamaknya, kemudian dia mendapatkan imbalan dua ribu buat beli jajan. Bocil senang dan kembali berlari untuk bergabung main bersama teman-temannya.


Tbc.


...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....

__ADS_1


__ADS_2