
Dua anak lelaki tengah berdiri di jembatan yang biasa dijadikan tempat nongkrong oleh anak-anak di daerah itu.
Mereka adalah Alen dan Bagas, biasanya di malam Sabtu mereka memang datang ke tempat itu untuk bercerita atau hanya sekedar menikmati suara air di bawah sana.
“Kau tumben banyak diam begini?” tegur Bagas.
Alen hampir meneteskan air matanya, dia kemudian mendongak menatap langit sambil berkata, “Lucy menolakku.”
“Memang kapan kau menyatakan cinta sama Lucy?”
“Semalam, saat Lucy sendiri di dalam kelas.”
Bagas menepuk pundak Alen pelan. “ Sabar Len, sebenarnya Lucy sudah jadian dengan Yohan. Wajar saja dia menolakmu, jadi mulai sekarang kau harus membuka hati untuk wanita lain.”
Alen sedikit syok, yang ia tahu Yohan adalah pengawal Lucy, bagaimana mungkin mereka bisa jadian? Itulah yang ada di pikiran Alen.
“Kok bisa?”
“Bisalah, lagian siapa yang bisa melarang Lucy sekarang? Papanya atau abangnya? Yohan menjadi lebih bebas terhadap Lucy, lagian Lucy dilindungi pria itu dengan tulus, siapa yang tidak jatuh hati coba?”
Alen semakin patah semangat untuk mengejar Lucy. Bagas benar, lagian mana mungkin Alen bisa bersaing dengan Yohan yang hampir mendekati sempurna, tampan, pintar, dan tentu saja punya uang yang bisa menyenangkan gadis.
Sedangkan Alen? Dia berwajah pas-pasan dan lebih buruknya lagi dia masih minta uang dengan orang tua.
Sedangkan di tempat lain, Lucy tengah fokus membaca dan mempelajari bukunya. Besok sudah ujian semester, Lucy ingin uang tidak bicara untuk nilai selanjutnya seperti dulu.
__ADS_1
“Ah monyet, aku tidak sanggup mengapalnya,” teriak Lucy sembari menggaruk-garuk kepala yang terasa panas.
Yohan tertawa kecil melihat Lucy yang ingin nilai bagus tanpa uang tapi gadis itu sudah mengeluh hanya dengan melihat catatannya.
“Kalau tidak bisa jangan dipaksa Cy, sana tidur saja ini sudah pukul sepuluh.” Yohan tidak ingin Lucy menjadi pusing.
“Besok ujian Han!”
“Tidak apa-apa, kalau nilai kamu buruk aku akan membeli nilai.”
Tanpa berbasa-basi lagi, Yohan mengangkat tubuh Yohan untuk dibawa ke kamar gadis itu. Setelah sampai dia membaringkan Lucy dan juga menyelimuti gadis itu hingga sampai ke dada.
“Yohan kenapa malah menidurkanku?”
“Kamu itu jagonya di bidang melukis, kalau memang buruk di ilmu pengetahuan umum jangan dipaksakan, nanti setelah tamat SMA aku akan masukan kamu di kampus jurusan yang memang ahli di bidang melukis, ok.”
__ADS_1
“Bukannya itu curang? Teman-temanku berusaha keras untuk nilai tapi aku malah selalu menggunakan uang.”
“Curang, memangnya kenapa? Di dunia ini tidak ada yang benar-benar bersih.”
Cup.
Yohan mengecup kening Lucy, gadis itu memejamkan mata saat Yohan \*\*\*\*\*\*\* bibirnya juga. Setelah sekiranya dua menit Yohan melepaskan pautannya.
“Tidurlah Sayang, good night.”
Lucy tersenyum tipis perlakuan lembut Yohan selalu berhasil membuatnya luluh. Saat pemuda itu sudah hilang di balik pintu, Lucy memejamkan matanya yang memang terasa berat. “Selamat malam juga, Yohan,” gumam gadis itu mulai terhanyut ke alam mimpi yang indah.
Yohan bersandar di pintu kamar Lucy yang tertutup, kalau boleh jujur dia ingin sekali ikut masuk ke dalam selimut Lucy. Dia selalu menahan diri walaupun sebenarnya Lucy sudah ia rusak sebelumnya, ingin melakukan lagi tapi Yohan tidak ingin Lucy seperti sosok pemuas nafsu dari pria bejat yang hanya menginginkan kesenangan.
Walaupun dia adalah Yohan, sosok pemuda yang sangat mencintai Lucy, tetap saja melakukan hal itu di luar nikah sangatlah berengsek.
__ADS_1
Tbc.