
Sehabis pulang dari sekolah, Lucy langsung membersihkan rumah yang sekarang merupakan bagian tugasnya. Kali ini pun Lucy berhasil dengan baik, ruangan sudah bersih dan rapi.
Tak sengaja Lucy menemukan kotak di bawah meja, dia langsung menepuk jidatnya sendiri. “Bagaimana bisa aku lupa?” gumamnya, yang ia temukan adalah kotak titipan ayah Bina tetangga sebelah.
“Malas banget.” Lucy mengambil kotak itu, mau bagaimanapun itu bukanlah miliknya jadi harus dikembalikan.
Langsung saja Lucy menuju ke apartemen Bina. Dia menekan bel hingga tak lama setelah itu tuan rumah membuka pintu.
“Ada apa?” tanya gadis pirang setelah melihat perawakan Lucy.
“Ini, aku sempat lupa memberikan ini padamu.”
“Apa ini?”
“Titipan ayahmu kemarin.”
Raut gadis pirang itu langsung berubah masam. “Untukmu saja aku tidak mau,” tolaknya ingin menutup pintu, namun terlebih dahulu Lucy menahan pintu.
“Merepotkan banget! Jangan menambah pekerjaanku lagi, ambil ini atau kujambak kau!” kesal Lucy, dia sudah lelah ditambah lagi gadis itu banyak tingkah.
“Kalau tidak mau ya buang saja, apa susahnya?”
“Kalau mau buang ya buang sendiri, jangan menyuruhku.” Lucy melemparkan kotak itu ke dalam lalu langsung pergi meninggalkan gadis pirang itu.
Gadis pirang merasa kesal dengan Lucy, akibatnya dia membanting pintu saat ingin menutupnya.
__ADS_1
“Sabar Bina, sabar,” peringatnya pada diri sendiri sambil mengelus dadanya. Kotak yang dilempar Lucy tadi, isinya berhambur keluar, Bina mendekati untuk melihat apa isi kotak itu, dia sudah terlanjur kepo karena isi dari kotak itu sudah keluar.
Beberapa foto membuat Bina ternganga. Itu adalah gambar yang menunjukkan perselingkuhan mama kandung Bina. “Mama..”
Padahal kemarin Bina sempat mengira kalau ayahnyalah yang berengsek dengan meninggalkan mama Bina. Namun ternyata pria itu hanya ingin lepas dari wanita yang mengkhianatinya.
Bina jadi menyesal karena bersikap kasar dengan ayahnya, tapi tetap saja Bina tidak suka dengan istri baru ayahnya itu.
Rasa suntuk menyerang Lucy, dia menanti kepulangan Yohan tapi ini masih pukul empat sore sedangkan Yohan pulang saat waktu makan malam nanti.
“Goblok!” pekik Lucy juga terloncat ketika setitik minyak panas mengenai kulitnya. Dia hanya kaget, namun suara tawa dari mana merespons Lucy yang seketika berbalik untuk melihat siapa yang tertawa.
“Yohan!” tegur Lucy, pemuda itu berjalan mendekati Lucy kemudian menggeser sedikit tubuh Lucy.
__ADS_1
“Sini aku ajarkan.”
Entah sejak kapan Yohan datang, tapi kemunculannya benar-benar tiba-tiba. Sore itu menjadi ajang masak romantis di dapur minimalis itu, Yohan mengajarkan Lucy dua materi memasak yaitu menggoreng dan juga menumis.
Belajar dari orangnya langsung lebih mudah dipahami oleh Lucy. “Ini mudah.” Lucy menegakkan kepalanya sombong, dia berhasil membuat dua menu berkat bimbingan dari Yohan.
“Bagus, nanti belajar yang lain,” kata Yohan sembari melepas jaketnya. Lucy menutup matanya dengan tangan yang mekar, itu sama saja matanya tidak ditutup.
“Aku masih pakai baju kok, sini ayo kita makan.” Yohan memang masih menggunakan kaos, dia melepas jaket karena dia merasa panas terlebih mereka ingin makan.
“Hehe tahu, aku bercanda kok.” Lucy nyengir kuda berjalan menuju meja makan duduk berdampingan dengan Yohan.
Masakan Lucy cukup enak, hanya saja tumis jamurnya kurang asin tapi setidaknya itu masih lebih baik dibandingkan masakan Lucy yang sebelumnya.
__ADS_1
Tbc.