Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Bab 77


__ADS_3

Rumah kayu yang sederhana dengan suasana yang tenang tampak kacau dengan banyaknya rumput yang tumbang akibat injakan kaki dari banyak orang. Lucy mendongak memandang Yohan yang hanya berdiri diam. “Jadi kacau banget ya, Yohan,” katanya dengan senyum kikuk yang tergambar di bibir.


“Anda lapar, Nona? Saya ada bawa pudi-” Yohan tidak menyelesaikan perkataannya ketika matanya menangkap beberapa ayam yang tengah mengais dan mematuk kantung puding yang ia bawa tadi. “Pu-pudingnya.”


Lucy mengikuti arah netra Yohan, kemudian dia terkekeh geli. “Tidak apa-apa Yohan, lagian kita mau pindah ke kota lagi, kan?”


“Pindah? Kita enggak tinggal di sini saja ya, Nona?”


“Terus bagaimana dengan sekolahku? Sebentar lagi ujian loh.”


Yohan baru teringat akan sekolah Lucy, gadis ini memang sudah lama tidak masuk sekolah padahal sebentar lagi ia tamat. Kasihan Lucy kalau jenjang SMA-nya tidak terselesaikan.


“Baiklah, tapi saya tidak bisa mengawal Anda lagi.”


“Aku mengerti, mulai sekarang berhenti bersikap formal kepadaku, aku bukan nonamu lagi, Yohan.”


“Jadi saya harus memanggil apa?”


“Sayang misalnya?” Lucy menyenggol lengan Yohan dengan senyuman menggoda, apalagi alisnya naik turun.


Sedangkan yang digoda langsung syok terdiam seribu bahasa dengan mulut menganga.


“Jujur saja, kau suka sama aku kan? Cintakan? Aku juga cinta kok sama Yohan, mulai sekarang Yohan pacarku.”


Bruk.

__ADS_1


Tiba-tiba Yohan terduduk di tanah, kakinya lemas seperti tidak memiliki tulang, benarkah ini nyata? Pertanyaan itu memenuhi pikirannya.


“Non-”


“shutt, aku bukan majikanmu, ingat itu.”


“Lucy?”


“Begitu juga tidak apa-apa.”


Berkat mengulang waktu, Lucy tahu perasaan Yohan yang sebenarnya.


Walaupun tadi siang Lucy yang terlebih dahulu menembak Yohan, tapi kini gadis itu malah merasa canggung, tidak seorang diri tapi Yohan juga begitu.


“Lucy lapar, aku akan memasak.” Yohan berujar dengan raut yang tegang.


“Iya.”


Begitulah hari pertama resminya hubungan mereka, siapa sangka kalau akan jadi sekaku itu.


Pagi yang tidak seperti biasanya, Lucy bangun terlebih dahulu dari pada Yohan. Dia berinisiatif untuk menyiapkan sarapan, walaupun tidak bisa masak setidaknya dia bisa berjalan untuk membeli makanan.


“Bibi aku mau nasi kuningnya dua bungkus,” pesan Lucy dengan senyuman yang mengembang.


Si bibi nasi kuning jadi ikut tersenyum karena Lucy begitu indah pagi ini. “Cerah banget, lagi bahagia ya?”

__ADS_1


“Em iya.”


“Semalam yang datang ke rumahmu itu siapa? Kami sekampung kaget loh, apalagi mereka membawa senjata.”


“Bukan apa-apa Bik, cuman kesalahpahaman saja.”


Lucy langsung menyerahkan uang setelah pesanannya siap, dia tidak mau berlama-lama lagi karena takut di interogasi para warga, apalagi melihat ibu-ibu pada curi pandang.


Sampai di rumah ternyata Yohan sudah bangun dengan ekspresi panik hendak keluar mencari Lucy, tapi gadis itu sekarang berada di depan jalan masuk ke rumah.


“Huh~” Yohan bernapas lega setelah melihat kehadiran Lucy. “No- ehem kamu dari mana?” Yohan memperbaiki panggilannya yang hampir menyebut nona, dia harus membiasakan diri.


“Beli sarapan, hihi ayo makan,” ajak Lucy yang langsung bergelayut manja di lengan Yohan.


Mereka kembali masuk ke dalam rumah menikmati sarapan yang Lucy beli. Langkah awal Lucy untuk berubah sudah semakin terlihat, dia memang tidak bisa terus bertingkah seperti bos.


Kata orang, kehilangan bisa membuat seseorang berubah, ada yang menjadi baik ada juga yang menjadi jahat. Begitulah yang terjadi pada Lucy, beruntungnya Tuhan memberikan kesempatan untuk Lucy yang merupakan gadis manja itu.


 


Tbc.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2