Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 29


__ADS_3

Dua mata pelajaran Lucy lewatkan begitu saja, tadinya mau melewatkan semua namun datanglah Vivi menghampirinya. Hanya Lucy yang sadar di situ, sedangkan Yohan sudah pulas tidur.


Vivi memasang raut kesal dengan tangan berkacak pinggang, sungguh sahabatnya satu ini benar-benar menganggap sekolah adalah miliknya. “Tinggal satu mapel lagi, kau mau lewatkan juga!?”


“Iya, aku malas.”


“Astaga tuan putri, untung kamu kaya! Kalau gak, jangan mimpi naik kelas.”


“Kalau kau hanya ingin mengoceh lebih baik pergi saja, hus hus,” usir Lucy dengan tangan yang seperti mengusir ayam.


Vivi duduk di samping Lucy, dia melirik lukisan indah pemandangan di situ. “Pfft.” Vivi tertawa melihat lukisan Lucy, tergambar di kanvas itu lingkungan yang sama dengan yang mereka tempati sekarang, namun ada Yohan tidurnya juga.


“Kenapa Yohan nya kau gambar juga ahah. ”


“Kerna dia ada di wilayah objekku.”


“Hihi tapi ganteng sih, udah berapa lama dia tidur?”


“Kayanya tiga jam deh.”


“Lama juga. Udah deh, aku mau ke kalas sebentar lagi lonceng masuk.” Vivi pergi sambil melambaikan tangannya. Dia berlari kecil hingga hilang dari pandangan Lucy.




Yohan akhirnya bangun setelah cukup puas tidur, dia terlonjak kaget melihat Lucy mencuci tangan di tepi sungai, langsung saja Yohan mendekati. “Nona anda bisa jatuh.”



“Enggak, aku cuman cuci tangan.” Lucy menunjukkan tangan yang sudah bersih. Mereka kemudian kembali ke tempat semula. “Yohan coba lihat lukisanku”



Yohan tersenyum senang, Lucy menggambarkan dirinya dengan sempurna. Selama ini Yohan jarang memperhatikan penampilan, dari lukisan Lucy dia menyadari kalau wajahnya tampan.

__ADS_1



“Waw nona ternyata wajahku lumayan juga.” Tiba tiba Yohan jadi narsis.



“Emang selama ini kamu tidak sadar?”



“Saya sibuk dengan tujuan saya, jadi tidak begitu memperhatikan penampilan”



Kerna cuaca tak lagi mendukung mereka tuk terus di luar, mereka pun memutuskan untuk mencari tempat lain atau masuk ke kelas saja, sambil jalan Lucy bercerita. “Aku pingin banget jalan-jalan ke luar negeri, walaupun aku punya banyak uang, aku bahkan tak pernah keluar dari kota ini, kecuali denganmu waktu ke hutan itu.”



“Nona mau naik kapal pesiar gak?”




“Kita diam-diam, papa dan abangmu empat hari lagi bakal pergi ke Jepang. Itu kesempatan, kebetulan di kapal pesiar akan diadakan pelelangan, anda mungkin bisa membeli sesuatu.”



Pemuda ini benar-benar berani, sangat berbeda dengan pengawal Lucy yang dulu, mereka sangat patuh pada Dion dan Sangga. “Ayok!” jawab Lucy girang, Yohan adalah pengawal terbaik bagi Lucy, Lucy percaya Yohan akan membawanya ke dunia baru melewati batas yang dibuat oleh Dion.



“Nona percaya sama saya?”


__ADS_1


“Aku percaya sama Yohan.”



“Tidak takut di marahi?”



“Tidak!” Wajah Lucy sangat cerah, dia tidak sabar menantikan hal baru dalam hidupnya. Menaiki kota terapung yang menjadi salah satu tempat wisata elit dikalangan menengah atas.



“Baiklah, terlebih dahulu kita harus menyogok orang rumah untuk tutup mulut.”



“Bagaimana caranya? paman Tian adalah pelayan terpercaya papa.”



“Aku akan memastikan mulutnya terkunci Nona,”


ujar Yohan menjanjikan segala hal untuk membuat Lucy senang.



Tbc.



...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....



...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....

__ADS_1


__ADS_2