Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 52


__ADS_3

Di depan pintu kamar Lucy, Yohan mematung di tempat. Perasaan gugup membuatnya memegang dada sendiri dengan mengatur nafas pelan berusaha mengatur ekpresinya yang campur aduk.


Tok tok tok.


Tidak ada sahutan di dalam sana, jadi Yohan langsung saja membuka pintu secara perlahan. “Nona?” gumam Yohan pelan. Apa yang terjadi? Kenapa gadis yang duduk di atas kasur itu terlihat hampa?



Dengan tatapan kosong ke arah jendela gadis itu tidak sadar ada orang yang masuk ke dalam kamarnya. Kaki Yohan melangkah perlahan, tepat di belakang Lucy dia memanggil panggilan yang biasa ia gunakan.


“Nona?”


Tidak ada respon sama sekali, gadis itu masih sibuk dengan dunianya sendiri. Dengan sedikit lancang Yohan berdiri di hadapan Lucy, gadis itu mendongak untuk melihat siapa yang menghadang objek penglihatannya.


“Yohan.” Lucy langsung menangis menyadari orang yang ada di hadapannya adalah orang yang semala ini dia cari. Masih berada dalam posisi yang sama, dia menangis bersitatap dengan Yohan.


“Ada apa? apa Nona sakit perut?”


“Tidak, mereka mengurungku Yohan, aku tidak diperbolehkan untuk keluar bahkan hanya untuk keluar kamar sekali pun,” isaknya mengadu.

__ADS_1


Tangisan Lucy terdengar pilu, terlihat jelas kalau dia sangat sakit hati. Suara tangisnya yang tersedu-sedu membuat Yohan ikut duduk memeluk tubuh gadis itu pelan.


Lucy membenamkan kepalanya di dada Yohan, tangisannya terdengar samar kerna terhalang dekapan Yohan. Dengan penuh kasih sayang, Yohan mengelus kepala Lucy hingga gadis itu diam tidak terdengar suara tangis lagi.


“Yohan.”


“Hmm?”


“Kenapa kau tidak pernah mengangkat telponku?”


“Saya ditugakan di tempat yang tidak ada jaringan bahkan listrik, maaf.”


“Baiklah.”


Lucy enggan turun dari pangkuan Yohan, dia takut pemuda ini pergi lagi meninggalkannya. Dengan tangan yang menggulung di leher si pengawal, posisi mereka terlihat jauh dari kata bawahan dan atasan.


Sangking nyamannya, mereka tidak sadar ada sepasang mata yang melihat mereka. “Apa ini? Apa sebenarnya mereka sepasang kekasih?” Dia adalah seorang maid yang ingin mengambil pakaian kotor Lucy, niat itu ia urungkan kerna melihat bahan gosipan baru di sana.


.

__ADS_1


.


“Eeeeh, masa?” kata pelayan lainnya setelah mendengar cerita dari rekan mereka yang memulai gosip tentang Lucy dan Yohan.


“Shuut! jangan keras keras suara kalian. Ini kita saja yang tau ok.”


“Aku gak nyangka aja loh, setelah sekian lama nona tidak mengeluarkan ekpresi, di hadapan Yohan dia mengadu tersedu-sedu? Aku sulit percaya!”


“Aku lihat sendiri bodoh!”


“Yaudah, kita diam-diam saja. Walaupun nona Lucy dulu kasar dengan kita, kita jangan sampai menyimpan dendam dengannya. Lingkunganlah yang membuat nona seperti itu, setidaknya dengan Yohan dia merasa aman dari segala tekanan tuan Dion dan juga tuan Sangga.”


Mereka mengangguk setuju, tapi ada satu maid muda yang tidak tau kenapa dia merasa tidak senang. Dia hanya bisa diam, selama ini dia juga ingin bertemu Yohan, tapi pemuda itu bahkan lupa dengan nama Mira, gadis maid yang selalu menyiapkan bekal untuk Yohan di kala mengawal Lucy ke sekolah waktu itu.


Tbc.


...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....

__ADS_1


__ADS_2