Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 59


__ADS_3


Lucy dan Yohan masuk ke rumah yang terbuat dari anyaman bambu, rasa tak percaya bagi gadis kaya ini bahwa ada rumah yang seperti ini. “Yo-yohan ini bukan kandang ayamkan?”


Jangan tersinggung! Ingatlah Lucy dulu bahkan tidak pernah jauh dari penjara emasnya. Bangunan serta kehidupan penduduk desa sangat awam bagi Lucy, dia baru pertama kali lihat.


Yohan menganggap wajar pertanyaan Lucy. “Ini rumah Nona, cukup kok untuk kita berdua.”


Saat pintu dibuka Lucy tambah kaget. Ruangan yang berantakan di mana-mana membuatnya mundur satu langkah, dia ragu rumah itu layak huni.


“Saya akan membersihkannya, Nona tunggu saja di luar,” ucap Yohan yang paham kenapa Lucy sampai mundur seperti itu.


“Berapa lama aku harus berdiri?”


Memang tidak ada tempat yang bisa diduduki, semua kotor. Yohan berjalan melewati Lucy, sampai di depan sebuah pohon pisang, dia memangkas daunnya untuk dijadikan alas duduk Lucy.


Yohan menyusun beberapa helai daun di bagian tangga masuk, memastikan tidak ada celah bagi debu untuk melekat di pakaian Lucy. “Duduk di sini, Nona.”


Setelah Lucy duduk nyaman barulah Yohan kembali masuk untuk bersih-bersih.


.


.


Yohan tidak hanya bersih-bersih, tapi dia juga mencuci kain dan piring yang ditinggalkan oleh pemilik rumah sebelumnya. Butuh waktu juga dia memperbaiki saluran air serta membuat kamar mandi yang hanya berdindingkan karung goni bekas arang.


Lucy sudah berpindah tempat untuk menonton apa yang Yohan lakukan. “Ini kamar mandinya ya?”


“Iya Nona.”


“Hanya berdinding karung? Bagaimana kalau ada orang yang merobek karungnya di saat aku mandi?”

__ADS_1


“Anda tenang saja, itu tidak akan terjadi.”


Yohan selesai dengan semua kerjaan. “Sudah hampir malam, ayo kita masuk.”


Gelap. Mungkin kerna sudah lama tidak berpenghuni, aliran listrik di rumah ini diputus. Yohan menghidupkan pelita sebagai penerang mereka malam ini.


“Kamarnya cuman satu, Nona tidurlah di kamar.”


“Kamu?”


“Aku tidur di sini saja.”


“Hmm ok.”


Lucy membuka pintu kamar kemudian dia kembali menghadap Yohan.


“Ada apa Nona?”


“Sini saya letakkan pelitanya di kamar Nona saja.”


Yohan membawa lampu colok itu diikuti Lucy di belakangnya. “Selamat malam, nona,” kata Yohan berjalan pergi meninggalkan Lucy di dalam kamar seorang diri.


Dua menit kemudian.


Brak!


“Yohan kau boleh tidur di dalam,” ucap Lucy yang berada di ambang pintu, jelas sekali kalau dia takut.


Yohan mengikuti kemauan Lucy, tapi dia tidur di lantai tanpa alas apapun bahkan bantal pun tidak. Hanya ada satu kasur pipih tanpa ranjang, satu selimut dan satu bantal saja di rumah ini, dan itu semua Yohan biarkan hanya untuk Lucy saja.


Grebek grebek. Bunyi suara katak saling bersahutan.

__ADS_1


“Yohan itu suara apa?”


“Katak.”


“Kok beda-beda?”


Kalian pernah mendengar suara katak yang berbeda-beda nada tapi saling bersahutan? Begitulah yang Lucy dengar sekarang.


“Hmm begitulah.”


“K-kau boleh tidur di sini!” Lucy duduk sambil menepuk nepuk di kasurnya.


“Anda yakin?”


“Cepatlah!”


Yohan berguling hingga naik ke kasur yang bahkan tidak lebar itu.


“Ngapain hadap belakang? Hadap sini!” Lucy menepuk punggung Yohan.


Pemuda itu pun berbalik, berhadapanlah mereka sekarang. Jantung Yohan hampir meledak, wajah Lucy begitu dekat, takutnya dia tidak bisa mengendalikan diri.


“Jaga aku! Jangan sampai katak itu naik,” ucap Lucy menatap Yohan santai.


Mereka tidur di kasur, bantal, dan selimut yang sama hingga pagi. Yohan harus berterima kasih dengan katak besok, berkat hewan itu dia bisa tidur nyaman bersama bintangnya tanpa merasakan kedinginan.


Tbc.


...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....

__ADS_1


__ADS_2