Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 12


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Lucy langsung masuk ke kamarnya. Sedangkan kepala pelayan membawa Yohan untuk berbicara empat mata.


“Yohan kau sangat berani, ya? Tuan terus menghubungiku untuk menanyakan nona, aku panik sekali dan terus berbohong.”


“Jadi kau akan mengadukan tentang ini, Paman Tian?”


“Kalau aku mengadukannya, maka aku juga akan kena imbas sebab berani berbohong. Yohan kepalaku pusing sekali, beberapa hari ini aku mengirim orang untuk mencari kalian, sebenarnya ke mana kau membawa Nona Lucy?”


“Ke tempat yang memang tidak mungkin kalian tahu.”


Yohan pergi meninggalkan paman Tian, setidaknya dia sudah memastikan bahwa paman Tian tidak akan mengadu begitu pula dengan penghuni isi rumah ini. Yohan sudah melibatkan mereka semua dalam kebohongan, mana bisa mereka mengadu ... sama saja seperti bunuh diri.


Akhirnya dia bisa mengistirahatkan tubuhnya di kasur yang empuk, semoga saja hari ini Lucy tidak meminta keluar rumah membuat masalah.


Beberapa menit kemudian Lucy datang dengan membuka pintu kasar walau niatnya tidak begitu.


“Yohan,” cicitnya pelab setelah menyadari pria yang yak kunjung menyahut panggilannya tengah pulas di atas tempat tidur.


“Sepertinya dia kecapean, nanti sore saja deh.” Lucy keluar dari kamar Yohan, untunglah hari ini dia ada sedikit rasa empati untuk membiarkan Yohan istirahat.


Lucy pergi ke dapur mencari sesuatu yang bisa diolah, pelayan yang melihat Lucy memegang pisau jadi panik mengejar Lucy untuk menghentikan gadis itu memotong daging.


“No-Nona biar, saya saja.”


“Pergi sana, jangan menggangguku!”


Lucy kemudian melamun menatap pisau itu, apa selanjutnya? Sayur atau daging? Lucy sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang memasak.

__ADS_1


Semenit...


Dua menit...


Satu jam kemudian..


Dapur ibaratkan kapal yang ingin berangkat, berantakan! Hasil kekacauan itu hanya menghasilkan telur goreng gosong dengan toping wortel di atasnya.


Aneh? Iya.


“Aku mau membuat kelinci, kenapa jadi seperti ini?” tanyanya sendiri.


“Pfft.” Mira kesulitan menahan tawanya, seketika mata Lucy meliriknya tajam. Di rumah ini ada larangan untuk tidak mengejek atau menertawakan majikan.


“Kau mengejekku?”


Plak!


Tangan Lucy begitu ringan menampar orang, Mira hanya diam dengan kepala yang tertunduk, jangan sampai dia menatap mata Lucy atau gadis itu akan mencongkel biji matanya.


“Pelayan di rumah ini seharusnya tidak memiliki ekpresi, kalian hanya robot pesuruh.”


Lucy kemudian menjambak rambut Mira. “Kau sudah paham itukan, babu?”


Seketika suasana hening, para pelayan menundukkan kepala tidak ada satu pun diantara mereka hendak menolong Mira yang menahan sakit.


Satu tangan kasar menggenggam tangan halus Lucy dengan pelan, membawa tangan itu agar lepas dari rambut Mira.

__ADS_1


“Nona tangan Anda bisa sakit jika menggenggam terlalu erat seperti itu,” kata Yohan membawa Lucy menjaga jarak dengan Mira.


Yohan tidak membela Mira tapi memang murni untuk Lucy, kuku Lucy panjang, jika menggenggam terlalu erat bisa melukai tangan sendiri.


“Lihatkan?” Yohan mengelap telapak tangan Lucy dengan tisu karena telapak tangannya sedikit berdarah.


“Aww tanganku.”


“Kenapa Nona kotor begini?”


“Aku mau buat telur bentuk kelinci seperti di video, tapi ....” Lucy mengeluarkan raut sedih tidak melanjutkan perkataannya.


“Ohh begitu, bisa coba lain kali. Nona sudah makan?”


“Belum.”


“Kau,” tunjuk Yohan pada Mira. “Siapkan makanan nona.”


“I-iya.”


Di ujung sana kepala pelayan menatap kagum Yohan, belum pernah ada sebelumnya orang yang mampu menenangkan Lucy, termasuk Dion dan juga Sangga. Biasanya Lucy akan mengamuk sebelum orang yang membuatnya kesal bersimpuh semalaman di atas butiran garam, cuman itulah dulu satu satunya cara.


Gadis itu cukup kejam.


Tbc.


...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....

__ADS_1


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....


__ADS_2