Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 67


__ADS_3

Ketiga anak SMA yaitu Vivi, Bagas dan Alen sudah berada di depan gerbang berpilar megah. Itu adalah rumah Lucy, pagarnya tertutup tidak membiarkan siapa pun lewat.


“Bagaimana cara kita memanggilnya?” Tanya Alen.


Vivi maju menyentuh pagar itu, di dalam sana ada post security yang berjaga dan bertugas untuk membuka gerbang. Dengan yakin Vivi memanggil security tersebut. “Pak security, Pak!”


Security yang tidak senang ada mereka yang berada di depan pagar pun segeran mendekat. “Ada urusan apa kalian!” tegasnya.


“Kami temannya Lucy.”


“Lebih baik kalian pergi.”


“Tidak! kami ingin bertemu dengan Lucy dulu,” keukeuh Vivi.


“Nona Lucy sudah meninggal, kalau mau bertemu sana ke alam baka saja.” Security langsung meninggalkan mereka tanpa membuka gerbang.


Ingin tidak percaya tapi semua orang mengatakan hal yang sama. Bagas menepuk pundak Vivi sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum tipis. “Ayo kita kembali, ikhlaskan dia,” kata Bagas.


“Aku masih belum bisa percaya, pasti dia ada di dalam. LUCYYYY” Teriak Vivi kencang, Bagas merengkuh pinggang Vivi mengajaknya untuk pulang.


Sedangkan Alen menangis dalam diam, sepertinya dia harus menerima kenyataan. “Semoga tenang di alam sana,” ucapnya dalam hati.




Sementara itu di dalam rumah besar itu tepatnya di bagian dapur, ada seorang yang belum bisa menghentikan tangisnya.



“Yang sabar ya buk, Mira pasti baik-baik saja di suatu tempat,” kata pelayan yang tidak tahu apa pun.


__ADS_1


Ibunya Mira hanya bisa menangis tanpa berbuat hal lain apa pun, dia tahu apa yang terjadi pada Mira tapi apa yang bisa ia lakukan? Mira pasti sudah meninggal sekarang, dia sadar itu, karena Dionlah yang mengancamnya.



“Mira tak akan kembali huhu.”



“Hus Bu jangan begitu, berdoalah yang baik”



“Percuma! Andaikan nona Lucy tidak mati duluan, hal begini tak akan terjadi pada Mira. Tuhan kenapa kau tega sekali membiarkan putriku yang tidak bersalah bernasib seperti itu huhu...”



“Apa hubungannya dengan nona Lucy Buk? dia sudah meninggal, mungkin mereka juga bertemu dan berteman di alam sana.”



.


.


Di depan patung cantik nyonyanya, Emelly. Tian bersimpuh dengan kepala yang tertunduk menatap lantai dengan air mata yang berjatuhan.



Dia sedih, sedih sekali. Dan sekarang dia menyesal dan ingin sekali keluar dari lingkaran hitam ini.



“Nyonya maafkan saya, seharusnya saya mengikuti perkataan Anda dulu. Saya menyesal nyonya, apa yang harus saya lakukan? Tolong saya.”

__ADS_1



Suara isakan itu terdengar pilu, dia telah sadar kalau apa yang ia lakukan selama ini salah. Dan dia tidak mungkin bisa lepas dari genggaman Dion karena dia sudah terlalu banyak mengetahui rahasia pria itu.



Mira. Nama satu gadis yang selama ini ia suka. Dion menjadikannya tumbal membuat Tian kehilangan pujaan hatinya. Anehnya tidak ada yang tahu kalau Mira bukanlah Lucy yang seharusnya menjadi persembahan utama untuk di kirim ke iblis.



Apa baphomet itu tidak tahu? benarkah dia Tuhan? Kenapa semuanya baik-baik saja. Hal itu membuat Tian ragu akan kepercayaannya.



“Bisakah aku keluar dari sini, nyonya?”



Percuma menangis di depan mayat yang di awet kan itu, tapi Tian percaya Emelly mendengar apa yang ia katakan. Dulu sebelum Elly meninggal dia pernah memperingati Tian untuk tidak termakan hasutan Dion masuk ke aliran sesat itu, tapi apa? Tian mengabaikan perkataan Elly dan sekarang dia menyesalinya.



Tbc.



 



...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....


__ADS_1


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....


__ADS_2