Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 30


__ADS_3

“Nona lihat, aku sudah dapat tiketnya,” kata Yohan yang menelusuk masuk ke kamar Lucy di tengah malam. Dia memperlihatkan dua tiket kapal pesiar yang ia beli pada Lucy.


“Yohan kita akan benar-benar pergi?” Bolehkah dia percaya ini? Lucy ingin terbang sekarang. Jantungnya berpacu cepat padahal mereka belum berangkat. Dia harus bersabar kerna keberangkatan Dion dan Sangga baru besok.


“Kita naik kapalnya dari pelabuhan Singapura.”


“Di sana?”


“Iya, kapal yang akan berlayar dalam waktu dekat ini juga berasal dari sana.”


Yohan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar Lucy, tidak baik kalau berduaan dengan Lucy di dalam kamar terlalu lama, apalagi dengan otak Yohan yang akhir-akhir ini mereng, dia sering menyangkal pikiran mesumnya sendiri.


“Yohan, kau mau kemana?”


“Berjaga di depan pintu, tidurlah Nona ini sudah jam sepuluh,” kata Yohan sambil tangannya menarik knop pintu.


...***...


Sangat tidak biasa, Lucy mengantar kepergian Dion dan Sangga hari ini. “Papa kapan pulang?” tanyanya.

__ADS_1


“Kami di sana paling 10 hari, ada apa nak?”


“Tidak ada, aku hanya ingin nanti pulang tolong bawakan aku Tokyo banana yang pernah Papa belikan kemarin.” Alasan yang sebenarnya Lucy ingin tau seberapa lama dia bisa bebas tanpa diketahui dua orang itu, Cake Tokyo banana hanya sebagai alibi.


“Nanti papa kirimkan biar Lucy gak perlu nunggu lagi, ya.”


“Engga, aku nunggu saja.”


“Yakin?”


“Iya.”


“Iya Tuan.”


Gak tau aja dia, kalau Yohan mau bawa Lucy berlayar menelusuri lautan luas, di dalam kapal pesiar yang mendapat julukan kota terapung.


Sangga memeluk Lucy. “Abang akan merindukanmu.”


“Hmm” Jawab Lucy datar, Yohan ingin menarik Sangga tapi... ah sudahlah, biarkan dia memeluk Lucy sebagai saudara.

__ADS_1


>>>


Sesudah mereka pergi, kepala pelayan mendekati Yohan. “Yohan sebaiknya jangan,” kata paman Tian. Dia sudah mendapat ancaman dari Yohan untuk tutup mulut atas rencananya.


Seringai Yohan memandang remeh paman Tian, dengan sinar mata yang penuh percaya diri dia berbalik meninggalkan tempat entah mau kemana. Jika Dion dan Sangga tidak ada di rumah, Yohan akan memperlihatkan taringnya pada penghuni istana ini.


“Nona Lucy, Anda yakin?” kata paman Tian kerna gagal memujuk Yohan.


Lucy memasang wajah tidak senangnya. “Jangan melarangku! ingat ya Yohan seperti itu juga kerna perintahku, satu di antara kalian yang cepu akan ku suruh Yohan membantai seluruh keluarga kalian,” ancam Lucy, pembantaian bukan hal yang asing terdengar di rumah ini, hal itu sering terjadi pada pengkhianat yang membocorkan informasi tentang majikan di rumah ini.


Setelahnya Lucy berlari kecil menaiki tangga, namun dia berhenti di tengah kemudian berbalik badan. “Satu orang bantu aku kemas pakaian, aku tunggu di kamar,” Panggilnya kemudian melanjutkan langkah.


Paman Tian mengurut kepalanya yang terasa berat, kehadiran Yohan menambah beban pikirannya kerna pemuda itu sangat berani melanggar peraturan yang di buat Dion. “Baphomet, apa yang harus aku lakukan?” ucap paman Tian.


Dia adalah salah satu pengikutnya.


Tbc.


...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....

__ADS_1


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....


__ADS_2