
Di jam segini sekolah masih sepi namun Vivi sudah datang, dia memang memiliki kebiasaan datang awal, baru saja hendak duduk ada sepucuk surat di mejanya.
“Untukku?” gumamnya melihat tulisan di cover surat. Entah siapa yang kekanak-kanakan mengirim surat seperti ini.
{Temui aku di rooftop}
Hanya satu kalimat yang terdapat di surat itu, satu hal yang pasti pengirim surat adalah orang yang tau kebiasaan Vivi datang pagi, jika tidak, dia pasti takut surat itu dia ambil orang lain.
“Siapa ini? Lucy kah? Enggak! Anak tidak mungkin datang sepagi ini.”
Ada rasa takut Vivi untuk memenuhi permintaan itu, tapi dia penasaran siapa pengirim surat. Dia pun memutuskan pergi ke rooftop.
Seorang pria tampak di sana, dia berdiri membelakangi Vivi tapi Vivi sudah dapat menebak siapa dia. “Apa kau yang meletakkan surat di bangkuku, kak Bagas?”
Bagas berbalik. “Iya.” katanya tersenyum tipis.
“Ada apa?”
Pria ini tampak ragu-ragu namun dia tidak bisa terus seperti ini, selagi Lucy belum datang ini adalah kesempatan berbicara dengan Vivi yang jika ada Lucy tak mungkin bisa dia dekati.
“Vivi.”
__ADS_1
“Iya?”
“Aku suka sama kamu.”
Jantung Vivi langsung berdetak kencang. “Kaka bercandakan?”
“Aku serius, mau gak jadi pacar aku?”
Sulit sekali bagi Vivi untuk percaya, bagaimana bisa Bagas menyukainya dan menolak gadis yang selevel Lucy.
“Ma-maaf kak aku... aku tidak bisa.”
“Aku sudah berteman lama dengan Lucy, aku tidak mau merusak persahabatan kami. Kaka taukan kalau Lucy menyukaimu”
Bagas mengusap wajahnya kasar, sudah dia duga Lucy akan menjadi penghambat terbesarnya, maka dari itu dia sangat membenci Lucy, kenapa wanita yang disukainya harus berteman dengan Lucy?. “Kita bisa diam-diam di belakang Lucy, toh gak 24 jam full kau di sampingnya Vi,” pujuk Bagas.
“Enggak bisa.”
“Waktu SMP kau menyatakan cinta padaku, saat itu aku menolakmu dan sekarang aku menyesal. Kau masih menyukaiku kan Vi? Jujur saja, aku sering melihatmu diam-diam memandangku”
“Sudahlah kak aku mau masuk ke kelas, aku anggap pembicaraan ini tidak pernah terjadi.”
__ADS_1
“Aku sangat membenci Lucy kerna ini.”
Vivi membelakangi Bagas lalu berkata. “Dia adalah sahabat yang baik bagiku, aku tidak mau putus pertemanan dengannya.”
“Baiklah, aku harap kau memikirkan tentang tawaranku untuk pecaran diam-diam.”
Tap tap tap.
Kaki Lucy melangkah pergi, dia tidak menjawab apa yang Bagas katakan sungguh sekarang dia diserang dilema. Memang Vivi menyukai Bagas sejak SMP dia tidak pernah cerita soal itu pada Lucy, entah apa reaksi Lucy jika tau.
Sampai di kelas, Vivi menyandarkan kepalanya di meja sambil menangis sedih, seandainya Lucy mencintai lelaki lain mungkin sekarang Vivi menerima Bagas dengan perasaan yang sangat bahagia.
“Dia menyukaiku, kuharap Lucy tidak tau.” Dada seakan sesak. Kalau kalian menjadi dia, apa yang akan pilih? Persahabatan atau lelaki.
Sudah pukul tujuh pagi para murid sudah semakin ramai, sebentar lagi pasti Lucy akan datang, entah kenapa tiba-tiba Vivi takut sama Lucy, harapannya nona kaya itu tidak masuk sekolah hari ini.
Tbc.
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....
__ADS_1