
Pada akhirnya Lucy datang.
“Eh dek ayo masuk,” ajak buk Desi ketika melihat Lucy berada di halaman rumahnya.
Gadis berperawakan sangat cantik menjadi pusat perhatian mereka di sana. Dalam benak mereka menganggumi Lucy dan juga perawakan Yohan yang sangat pantas berdampingan dengan Lucy.
“Yohan aku harus apa?” bisik Lucy.
“Ikut saja sama ibuk itu, saya akan berada di depan sini, Nona.”
Setelahnya Lucy dibawa buk Desi ke tetangga-tetangga yang lain. Mereka melihat Lucy sambil berbisik-bisik satu sama lain, jangan salah paham dengan gelagat para ibu-ibu itu, mereka hanya memuji Lucy dengan kata, cantik.
Mereka kenapa melihatku seperti itu? Aku harus apa nih? Balik lagi deh tanya Yohan.
Baru ingin berbalik Lucy dipanggil oleh buk Ijah yang merupakan orang pertama yang mengobrol dengan Lucy di desa ini. “Eh dek sini,” panggilnya.
Lucy yang tidak tau apa-apapun menurut.
“Duduk, kenapa berdiri terus.”
Lucy duduk di antara ibu-ibu lainnya yang tengah berhadapan dengan bawang. Mereka tengah mengupasi kulit bawang bersama-sama. Melihat itu Lucy tau apa yang harus dia lakukan, ingat MEM-BAN-TU.
“Aduh kamu cantik banget, udah berapa lama menikah?” sapa salah satu dari mereka.
“Ba-baru sebulan.”
__ADS_1
“Ohh pengantin baru, lagi panas-panasnya nih ya?” kekeh mereka bersamaan. Seru banget menggoda pengantin baru.
Lucy tidak mengerti apa yang dimaksud mereka hanya mengangguk-angguk saja dengan polos.
“Jadi berapa ronde tadi malam?”
“Hah?” Lucy masih tidak mengerti.
“Hahah orang cantik begini pasti digempur siang dan malam sama suaminya, iya gak?”
Kerna belum peka juga, Lucy jawab asal saja. “Iya.” Lucy nyengir. Mereka malah tambah keras ketawanya. Parahnya Lucy malah ikut tertawa, suara tawa ibu-ibu itu menular.
“Masih muda jadi masih kuat olahraga lama-lama, suamiku satu ronde saja udah capek dia.”
Biasalah obrolan ibu ibu, membicarakan hal intim pun bukan masalah bagi mereka. Tidak ada malu lagi, lagian mereka tidak melakukan dosa, tapi di sini ada satu gadis yang belum peka juga. Obrolan ini terjadi kerna bercak merah di leher Lucy yang kelihatan.
“Suami kamu kuat sampe jam berapa dek?”
*Kuat apa lagi nih? Jam? Begadangkah? R*onde-ronde apalagi tuh, memangnya lagi boxing? Ronda kali maksudnya, batin Lucy, kemudian dia menjawab, “Yohan bisa gak tidur selama tiga hari.”
“HUWAAAA AHAHAHA.” Satu dapur heboh dan tertawa, Lucy hanya tersenyum. Dia tidak tau kalau 'bisa tidak tidur selama tiga hari' akan mendapat reaksi seheboh ini.
“Terus kamu tahan gak selama tiga hari?”
“Enggak, aku tidur, dia saja yang bergadang.”
__ADS_1
“Dia bergerak tak peduli kamu sedang tidur?”
“Iya.”
“Kamu gak kesakitan dek?”
“Dia jaga aku dengan sangat baik kok.”
“Ohh dienakin gitu kali, ya?”
“Hmm, iya.”
“Biasalah, lakik kalau dah dapat enak, baik dia. Jadi ratu kita.”
“Suamimu kuat banget ya.”
“Iya dia kuat banget,” jawab Lucy semangat, tentu saja Yohan kuat, tubuhnya sudah terlatih dan dilatih sejak kecil.
Lancar sekali Lucy menjawab, jawabannya menjadi bahan tertawaan ibu-ibu, mereka terhibur dengan cerita Lucy. Padahal apa yang mereka pikirkan dengan apa yang ada di otak Lucy itu tidak sinkron.
Tbc.
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....
__ADS_1