Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Bab 84


__ADS_3

Malam yang dingin, Karin merebus mi instan campur telur untuk menemaninya menghangatkan diri. Selagi dia memasak, terdengar suara bel yang menandakan ada tamu di luar sana.


Sebelum pergi, Karin mengecilkan api kompornya terlebih dahulu. Mata Karin membulat besar setelah membuka pintu mendapati abangnya berdiri di depan dengan membawa koper besar.


“Apa maksudnya ini?” tanya Karin.


Akmal main masuk saja ke dalam sebelum Karin kembali menutup pintu.


“Abang akan tinggal bersamamu, Ibu yang menyuruh begitu, katanya sekalian mengawasimu.”


“Ih! Engga mau aku, Abang pergi sana cari rumah sendiri, enggak malu apa tinggal di rumah adik?”


“Tenang saja kau, selanjutnya sewa bulanan tempat ini abang yang bayar.”


“Tetap saja-”


“Shuut diam, kalau mau protes jangan sama abang tapi sama ibu.”


Karin mengentak-entakkan kakinya sebal, kalau seperti ini dia tak akan bisa sebebas seperti sebelumnya, mau di sekolah ataupun di rumah.


“Kau masak apa? Masakkan abang juga,” pinta Akmal karena hidungnya menangkap bau mi rebus.

__ADS_1


>>>


Mereka sudah selesai makan, Karin mencuci piring sedangkan Akmal sibuk dengan ponselnya sendiri. Saat Karin lewat Akmal memanggil Karin.


“Karin, sini dulu.”


“Apalagi, Bang?” sahut Karin dengan nada malas.


“Sini dulu duduk.”


Karin duduk di sofa berhadapan dengan Akmal, rasa sebalnya belum hilang sejak tadi namun Akmal memancing emosi itu.


“Kenapa?” ujar gadis yang sedang kesal.


Karin langsung terduduk tegap. “Kenapa Abang bertanya tentang Lucy, Abang suka ya sama dia?”


“Engga bukan begitu, tadi abang lihat dia diganggu sama anak-anak cowok.”


“Benarkah?” Karin juga tidak menyangka Lucy akan mengalami hal yang biasa dialami para cewek-cewek cantik di sekolah.


“Lah kok balik nannya?”

__ADS_1


“Ya biasanya tak ada yang berani mengganggu Lucy, mungkin sekarang karena Lucy tidak membawa pengawal lagi ke sokolah makanya mereka berani.”


Karin menceritakan tentang Lucy dari awal masuk sampai sekarang, gadis yang menyandang nama sebagai musuh Lucy tentu saja dia tahu kehidupan luar Lucy karena dia selalu berurusan dengan Lucy.


Akmal mendengar cerita Karin dengan baik, dia jadi tahu lebih banyak tentang Lucy walaupun baru sehari bertemu.


“Oh jadi orang paling kaya di sekolah mu? Sekarang pengawalnya di mana?”


“Mungkin karena papanya meninggal dan abangnya koma jadi Lucy memanfaatkan itu kebebasannya. Cuman itu yang aku tahu Bang, kehidupan di rumahnya tidak ada siapa pun yang tahu karena keluarga Ranxio itu sangat tertutup dari publik.”


Akmal mengangguk paham, di detik selanjutnya Karin malah bertanya pada dirinya sendiri. “Loh kok aku kaya kenal banget sama Lucy sih? Abang juga kenapa nannya tentang sampai sebegitunya?”


“Lah kan kamu yang cerita, abang cuman nannya ke mana perginya pengawal Lucy, selanjutnya kamu yang antusias melanjutkan cerita.”


Karib berkedip cepat beberapa kali, yang di katakan Akmal ada benarnya. Karin jadi berpikir apa sebenarnya dia itu pengagum Lucy namun dia tidak sadar.


“Ah tidak-tidak, aku begitu karena Lucy musuhku. Sebagai seorang musuh harus tahu tentang lawannya,” pikir Karin menolak pemikiran yang sebelumnya.


Akmal kembali ke kamarnya, biarkan saja Karin yang bingung sendiri di sana. Akmal sudah mendapatkan jawaban lebih dari apa yang dia mau, sebenarnya dia mulai tertarik dengan Lucy bukan dari karakter Lucy namun dari rupa elok gadis itu.


Memang pada dasarnya rupa seseorang menjadi objek utama untuk di sukai oleh lawan jenis.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2