
“Yohan, di mana liontinku,” tanya Lucy yang baru teringat akan liontinnya yang hilang.
Yohan kemudian mengeluarkan liontin yang sudah pecah untuk di perlihatkan pada Lucy. “Sudah pecah, Lucy masih mau menyimpannya?”
Pecahan liontin itu sama persis dengan apa yang di buat Emelly, dari retakan dan pecahannya tidak ada yang berbeda, Lucy sekarang benar-benar percaya bahwa dirinya telah mengulang waktu.
“Aku akan tetap menyimpannya.”
Kini mereka berada di kota, Yohan sudah membeli satu unit apartemen yang sudah lengkap dengan perabotan untuk ia tempati bersama Lucy.
Barang bawaan mereka tidak banyak, hanya satu koper dan dua tas.
“Apartemen begini saja tidak apa-apa kan?” tanya Yohan ketika mendapati Lucy tengah memperhatikan segala aspek ruangan.
Lucy mengangguk dengan senyuman yang merekah. “Jadi, di mana kamar kita?”
“Kamarnya ada tiga, Lucy pilihlah salah satu.”
“Aku mau sekamar dengan Yohan.”
__ADS_1
Yohan menghela napas pelan, ia berhadapan dengan Lucy sambil memegang sisi kanan dan kiri bahu gadis itu. “Lucy, tidak baik kalau kita sekamar terus.”
“Kenapa?”
“Kerna aku laki-laki, kau harus mengerti tak selamanya aku bisa mengendalikan diri. Kita bukan pasangan legal, Lucy.”
“Ti-tidak apa-apa, kalau kau mau lakukan, lakukan saja. Aku tidak akan marah.”
Jawaban Lucy berhasil menggugah iman Yohan, rasa tidak percaya karena Lucy tidak menolaknya sama sekali, tapi Yohan takut Lucy malah hamil duluan di usia Lucy yang terlalu muda dan juga pemikiran yang belum matang.
“Lucy tamatkan dulu SMA, setelah itu kita bisa menikah dan tidur bareng setiap harinya.”
“Sesekali aku akan menemani Lucy, saat hujan petir ataupun saat Lucy ketakutan,” pujuk Yohan lembut, kalau mengikuti keinginan, sebenarnya Yohan sangat ingin tidur dengan Lucy, tapi terkadang dia takut tidak bisa mengendalikan diri dan berakhir membuat Lucy tidak puas akan masa remajanya.
“Baiklah, kalau begitu kamar kita bersebelahan saja, ya.”
Yohan mengangguk, setidaknya Lucy mau mengerti dan keras kepalanya sedikit berkurang.
Saat Lucy hendak melangkah pergi, Yohan terlebih dahulu menarik Lucy dan langsung meraup bibir gadis itu. Lucy tersentak kaget namun kemudian dia menerima ciuman Yohan dengan membuka mulut memudahkan akses Yohan.
__ADS_1
Yohan melepas Lucy setelah beberapa menit lalu berkata, “Kalau ciuman tidak apa-apa kan?”
Ada ya, orang yang berbuat terlebih dahulu lalu kemudian bertanyanya belakangan? Namun si gadis malah mengangguk girang kemudian berlari untuk menyembunyikan rasa malu.
>>>
Lucy memilih kamar bernuansa lembut dengan warna tembok putih berhiasan warna mocca dan latte. Lucy menyukai desain sederhana kamar itu di bandingkan kamar lamanya yang mewah.
Setelah itu Lucy memasukkan bajunya ke dalam lemari, dia sedikit mengalami kesulitan karena tidak pernah melakukan hal seperti ini sendiri.
“Jangan manja Lucy, kau bisa kau bisa,” gumamnya menyemangati diri sendiri yang tengah menyusun pakaian agar terlihat rapi.
Satu jam kemudian Lucy selesai dengan urusan lemari, dia bangga karena berhasil menyusun dengan rapi.
“Capeknya.” Lucy terlentang di atas ranjang, biarpun mulutnya berkata capek tapi gadis ini tengah tersenyum bahagia.
#Maaf papa, aku bahagia atas kematianmu, semoga saja bang Sangga tidak dendam padaku saat ia sadar dari kama nanti. Ah tidak, maksudku semoga saja bang Sangga tidak tahu kalau aku yang membunuh papa. Batinnya tersenyum jahat, entah sejak kapan Lucy menjadi selicik ini.
Tbc.
__ADS_1