
Lagi, Vivian sendiri lagi tanpa ada Lucy sahabatnya. Dulu Lucy jarang sekali libur, tapi semenjak Yohan menjadi pengawal barunya Lucy bisa libur secara berturut-turut. Di sini dia termenung melihat meja Lucy yang kosong, satu orang lagi datang duduk di kursinya sendiri setelah makan siang, mungkin.
“Gak masuk lagi ya sahabatmu?” tanya Karin di ujung sana.
Vivi tidak punya masalah dengan Karin, gadis ini layaknya tidak punya musuh. “Iya,” jawab Vivi singkat.
“Baguslah, aku kalau lihat dia rasanya sakit kepala, terlalu bossy dan menyebalkan.”
Vivi tidak ingin menanggapi, susah memberi pengertian pada orang yang berhati iri dengki. Kemudian nama Vivi di panggil oleh orang yang di ambang pintu sana.
“Vivi.”
Vivi menoleh begitu juga dengan Karin.
“Iya, ada apa kak?”
“Bisa kita bicara sebentar?”
“Bicaralah.”
“Ikut denganku.”
__ADS_1
Yang memanggil barusan adalah Bagas, Vivi ragu mau ikut, apalagi ada Karin yang melihat mereka. Dengan itu dia mencoba mengeraskan hati.
“Tidak mau kak, kalau mau bicara, bicara aja langsung.”
Ku mohon pergilah, jangan mengatakan cinta di sini ada Karin. Aku takut dia akan mengadu pada Lucy, batin Vivi berusaha bersikap santai agar Karin tidak curiga.
Bagas tidak bodoh, dia tau gimana sifat dengki dan iri hati Karin, maka dari itu dia mengajak Vivi untuk pergi ke tempat lain. “Tolong ke ruang OSIS, anggotamu juga sudah berkumpul di sana,” ucapnya mencoba mengelabui Vivi, Vivi memang bagian dari OSIS, jadi dia gunakan saja status itu untuk mengalihkan kecurigaan Karin.
“Ba-baiklah,” jawab Vivi kemudian berdiri mengikuti langkah Bagas yang memimpin.
Sampai di ruang OSIS, tidak ada siapa-siapa di sana, mereka hanya berdua saja. “Ada apa lagi, kak?” singgung Vivi langsung.
Bagas menarik nafas dalam lalu kemudian memegang kedua tangan Lucy. “Kaka mohon pikirkan lagi tawaran kaka kemarin.”
“Kita diam-diam Vi, setelah Lucy menyerah denganku barulah kita perlahan publikasikan.”
“Lucy tidak akan mudah menyerah.”
“Dia akan menyerah, ibaratkan buaya yang menyerah mengigit kura kura yang keras begitu pula dengan Lucy, dia pasti akan lelah.”
Vivi bimbang, disatu sisi dia memang sudah lama menyembunyikan perasaan pada Bagas tapi di sisi lain dia tak ingin bersaing dengan sahabatnya Lucy, bagaimana ini?
__ADS_1
“A-aku-”
“Tolong terima aku Vi, kita bisa menyembunyikan status kita pada Lucy, kau juga harus memikirkan perasaanmu sendiri.”
“Apa aku boleh begitu?”
“Kau memiliki hak untuk itu.”
“Tapi Lucy sangat baik padaku”
“Kau juga sangat baik padanya.” Bagas terus membujuk Vivi yang tampak ragu, dia akan benar-benar mengutuk Lucy jika kali ini ditolak lagi.
“Berikan aku waktu kak.”
“Besok, tolong jawab besok.” Bagas ingin mendapat kepastian, dia tidak punya cukup kesabaran untuk menunggu dengan waktu yang panjang.
“Baiklah.”
Di ruang lain ada yang menguping. “Sudah kuduga, mereka ada apa-apa,” gumam Karin sendiri sebagai penguping di ruang sebelah, cukup kedengeran dari situ. “Kira-kira bakal diterima gak yak sama si Vivi? Kalau besok diterima aku akan mengadu pada Lucy biar mampus Vivi dimusuhi sama Lucy.” Gadis yang juga menyukai Bagas itu mana mungkin diam saja ketika tau gebetannya menyukai orang lain.
Tbc.
__ADS_1
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....