Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 17


__ADS_3

Di hari wekend begini Lucy malah tidak semangat ngapa-ngapain, tubuhnya terasa berat dan lemas, sudah siang namun Lucy masih bergulung di dalam selimut.


Kepalanya makin pusing namun tidak ada satupun orang yang mengeceknya di sini, mungkin kerna libur sekolah jadi mereka membiarkan Lucy tidur lebih lama dari biasanya.


“Kemana mereka? aku mati di sini pun mereka tidak tahu,” rutuk Lucy dia mengurut dahinya sendiri yang terasa sangat pusing, perlahan Lucy tidur kembali guna menghilangkan rasa sakit itu.


Pukul sebelas siang Lucy kembali bangun, ada punggung seseorang dekat jendela sana, kepala Lucy juga terdapat kain yang tertempel. “Yohan?” gumamnya, pemilik nama pun menoleh.


“Sudah bangun nona.”


“Kau ngapain di sini?”


“Anda sakit mana mungkin saya biarkan sendiri, tunggu saya pergi ambil nasi, anda harus makan dulu baru minum obat.”


Lelaki itu pergi hilang dari balik pintu, Lucy melirik jam ternyata udah sangat siang, sudah berapa lama Yohan menunggunya bangun? Beberapa menit kemudian Yohan datang membawa mampan di tangannya.


“Silahkan makan nona.”


“Aku tidak berselera.”


“Setidaknya makanlah sedikit.”


“Tidak mau.”


“Baiklah, saya akan panggilkan dokter untuk menginfus Anda.”

__ADS_1


“Eeeeh! iya iya aku makan.”


Lucy terduduk akan ancaman Yohan, dia paling takut dengan jarum suntik, walaupun tidak berselera dia memaksakan diri untuk terus menelan.


“Udah, aku tak mampu memakannya lagi.”


Setidaknya Lucy sudah makan setengah, Yohan mengangguk lalu memberikan obat untuk Lucy. “Sekarang minum obatnya nona.”


Setelah meminum obat Lucy kembali ngantuk,dia pun tidur kembali. “Kenapa bisa sakit?” gumam Yohan sambil mengecek kembali dahi Lucy. Dia sangat khawatir kerna memang Lucy tidak main panas atau apalah itu yang bisa menyebabkan demam. Tiba-tiba saja jadi begini.


Yohan pergi menutup jendela agar angin tidak masuk, dia duduk dekat sofa menunggu Lucy. Dia tidak akan meninggalkan Lucy kalau seperti ini.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu membuat Yohan kembali bangun dari duduknya. Pintu dibuka menampakkan Mira si maid muda yang datang sendirian, entah apa urusan dia.


“Apa nona sudah baikan?”


“Dia tidur.”


“Apa perlu memanggil dokter?”


“Tidak perlu, dia hanya demam biasa bentar lagi juga panasnya akan turun.”


“Oh begitu, baiklah aku hanya ingin menanyakan itu.”

__ADS_1


Yohan kembali menutup pintu, sebenarnya Yohan ingin sekali memanggil dokter tapi takut nya Lucy malah disarankan untuk suntik, gadis itu pasti akan takut, lebih baik minum obat saja dulu, kita lihat bagaimana perkembangannya.




Semakin di lihat Lucy semakin cantik, Yohan kesulitan untuk melepaskan pandangannya pada sosok yang terlelap tenang di sana. “Apa apaan ini! sadarlah Yohan dia terlalu tinggi untuk kau miliki,” gumamnya sendiri, mencoba menyadarkan diri untuk tidak membawa perasaan, dia hanya pemuda yang dititipkan seorang putri untuk dijaga.



Yohan terus menyangkal kalau dia memiliki perasaan pada Lucy bahkan jauh sebelum dia datang ke sini, tidak aneh! Yohan mencuci otaknya sendiri dengan nama Lucy Lucy dan Lucy, bahkan dia rela menderita mengembangkan diri selama 14 tahun demi melindungi Lucy dimasa depan.



“Bintang tak mungkin bisa kugenggam,” katanya sambil mendongakkan kepala ke atas menatap langit-langit kamar Lucy, Yohan tidak sadar kalau dia terlalu meninggikan Lucy sampai mengibaratkannya sebagai bintang di angkasa yang tak mungkin dia gapai.



Tbc.



...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....


__ADS_1


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....


__ADS_2