
“Wah kecil banget,” kata Lucy ketika memasuki kostan Asya.
“Ya namanya juga kostan,” sahut Asya menahan kesal, tolonglah kalau bukan demi Yohan, Asya malas banget mengundang nona kaya menyebalkan itu masuk ke kandangnya.
“Tak ku sangka buk Asya miskin banget.”
“Heh! ini juga udah lumayan,” jawab Asya. Kostan itu memang terbilang standar, Lucy aja yang terlalu kaya.
“Di mana aku duduk?”
“Lesehan aja di lantai.”
“Lesehan? lesehan itu apa?”
“Duduk di lantai Lucy, aduh maaf ya tuan putri, ibu tidak punya kursi dan meja belajar,” singgung Asya dengan nada di buat-buat.
Lucy duduk di lantai dengan tangan yang mengeluarkan buku-bukunya. “Nah, ayo mulai Bu, apa yang harus aku lakukan?”
“Tunggu ya ibu ganti baju.”
Asya pergi ke kamar mandi setelah mengambil baju di lemari. 5 menit kemudian dia datang dengan pakaian yang bisa di bilang seksi, celana yang teramat pendek juga tanktop hitam saja yang ia kenakan.
“Ibu kaya seorang penggoda saja,” kata Lucy apa adanya.
“Ibu memang kaya gini kalau di kost, yaudah ayo sini bukumu. Ibu jelaskan kamu dengarkan ok.”
__ADS_1
Asya menjelaskan dengan suara yang dibuat selembut mungkin, agar terlihat seperti cewek penyabar dan baik hati. Siapa yang perduli itu? Yohan bahkan sibuk dengan ponselnya sendiri.
“Aduh Buk lama-lama leher dan pinggangku sakit kalau menunduk seperti ini,” keluh Lucy yang sudah duduk lesehan selama 30 menit.
“Baring telungkup aja nulisnya.”
Selagi Lucy merangkum catatan yang diberi Asya, guru muda itu pun duduk mendekati Yohan yang bersender di dinding. “Enak ya kerja menjaga Lucy?”
“Hmm.”
“Kamu apa sudah lulus sekolah?”
“Sudah S1.”
Malas banget meladeni basa basi Asya, perlu diketahui Yohan ini tipe orang yang agak irit ngomong kecuali dengan Lucy, Lucy selalu mendapat pengecualian dari Yohan.
>>>
Selama tiga jam Asya mengajari Lucy, memang benar-benar mengajari, saat Lucy mengerjakan tugas nona kaya itu pun tertidur dengan posisi telungkup.
“Di mana tempat tidurnya?” tanya Yohan yang ingin memindahkan Lucy ke tempat yang lebih nyaman.
“Ka-kasurku?”
“Kalau kau tidak punya cadangan, kasurmu juga boleh, tolong kasih selimut yang udah dicuci ya.” Yohan berdiri mendekati Lucy, dia balik tubuh itu menjadi terlentang sebelum mengangkatnya ke ranjang. Dengan sangat pelan Yohan menaruh Lucy di atas ranjang tidur Asya, Lucy berada di tempat yang lebih nyaman untuk tidur sekarang.
__ADS_1
“Aku hanya punya satu kasur itu,” ujar Asya dengan senyum paksanya.
“Berarti kau tidur di bawah, kamu sendirikan yang menyarankan untuk kami menginap di sini, kenapa tidak ada persiapan?”
“Aku sudah siapkan karpet kok.”
Yohan pergi duduk di belakang pintu, dia tidak mau tidur bersama Asya mengingat ruangan itu sempit.
“Yohan ngapain kau di situ?”
“Tidur.”
“Di belakang pintu?”
“Hmm.”
“Lebih baik di sini saja, gak apa apa aku kasih sekat pake bantal.”
Yohan hanya menggelengkan kepalanya saja, dia memejamkan mata dengan posisi duduk, lagian Yohan sudah terbiasa tidur dengan posisi itu. Ingatkan setiap malamnya Yohan berjaga di depan pintu kamar Lucy?.
Tbc.
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....
__ADS_1