
Di tengah hutan sama sekali tidak ada jaringan, Yohan hanya bisa menatap foto nonanya yang selalu terselip di dompet. HP Yohan sudah lama mati, tidak ada listrik di sini bahkan hanya untuk sekedar mengisi daya, tangisan para wanita yang terkurunglah yang menjadi alunan memekakkan telinga Yohan.
“Nona, bagaimana kabarmu sekarang?”
Rasa rindu menggerogoti hingga sampai ke tulang-tulang, sepinya hutan semakin membuat pikiran Yohan hanya kepada Lucy, nona kaya kesayangannya.
Memikirkan tentang Lucy saja mampu membuatnya tersenyum seorang diri, halu itu menjadi penghibur bagi Yohan yang menginginkan sosok Lucy.
“Aku akan kembali,” gumamnya.
Seorang tahanan mencoba bicara lagi dengan Yohan, kemarin-kemarin Yohan selalu mengabaikan mereka bahkan hanya mengasih makan sebuah keledek manis satu kali sehari.
“Hei kau pemuda.”
Yohan sempat melirik lalu kemudian mengacuhkan kembali.
“Kami memohon ampun padamu sepertinya tidak ada guna, tapi... ada satu hal yang ingin kutanya.”
Wanita itu terdiam sebentar, Yohan benar-benar mengabaikannya. Tak perduli itu, dia tetap berbicara. “Seandainya orang yang berada di foto yang selalu kau lihat itu berada di di posisi kami, apa yang kau rasakan?”
Pertanyaan itu berhasil menarik perhatian Yohan. “Tidak akan, ada aku yang selalu menjaganya.”
“Anggap saja begitu, tapi bagaimana kalau kau gagal melindunginya? Perasaanmu pasti akan hancur, emosi tidak stabil dan rentan depresi”
Yohan menatap nanar wanita itu, raut yang menunjukkan orang yang sudah pasrah dan juga kesedihan, mungkin?
__ADS_1
“Aku pasti bisa melindunginya, pasti!”
“Dulu ayahku berkata begitu juga, lihatlah sekarang? Aku di sini dalam bahaya dan dia tidak datang, dia gagal akan janjinya,” ucapnya sambil meneteskan air mata.
“Jangan remehkan aku, selama 14 tahun kuhabiskan masa kecilku untuk persiapan menjaga nonaku”
“Nona? jadi dia seorang wanita ya?”
“Bukan urusanmu!”
“Kau mencintainya?”
Yohan diam.
“Sepertinya iya ya? Kau langsung meladeniku ketika kusinggung tentang foto yang selalu kau lihat setiap detiknya.”
“Dia adalah bintang yang di kepung langit malam, keberadaannya sangat jauh sampai aku harus mendongak untuk melihatnya”
“Kata-kata yang bagus, tapi apa maksudnya bintang di langit malam?”
Yohan abaikan pertanyaan wanita itu, dia merasa terlalu banyak bicara. Ia baringkan tubuhnya di atas sofa, kembali melihat foto Lucy Ranxio.
Sedangkan mereka yang terkurung di jeruji besi sempit-sempitan di sana. Berbagai macam ekpresi yang dapat dinilai oleh mata, sedih, takut, trauma sampai yang sudah pasrah, berada dalam kurungan yang sama.
“Nona kau baik baik saja kan?” gumam Yohan sendiri.
__ADS_1
“Yohan.”
Sedangkan di tempat lain ada gadis yang menangis sambil terus menyebut namanya. Mungkin sudah terhitung ribuan kali dia mencoba menghubungi nomor Yohan, sayangnya semua itu sia-sia.
“Aku membencimu Yohan, tega sekali kau tinggalkan aku. Tolong cepat pulang huhuhu, bawa aku pergi jauh dari penjara bentuk istana ini.”
Berada di tempat berbeda, saling tidak tahu kabar, namun saling memikirkan satu sama lain. “Yohan/Lucy,” ucap mereka berbarengan menatap bulan yang sama saling memanggil nama satu sama lain.
Tbc.
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
__ADS_1
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....