Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Bab 38


__ADS_3

Kehilangan seorang adik membuat Aris tidak bisa tidur senalaman, penampilannya berantakan dengan mata yang membengkak. Apa yang harus dia katakan pada kedua orang tuanya mengenai Kelvin? Ah God, dia ingin Kelvin kembali.


“Ris, kalau kau lesu begini bagaimana cara menemukan pelaku? aku yakin dia masih berada di dalam kapal ini,” ucap teman Aris, Kenta seorang pria berdarah campuran Jepang.


“Kamarin dia mendatangiku dengan keadaan babak belur.”


“Mungkin, yang membunuh adalah orang yang sama dengan yang memukuli adikmu. Apa dia ada mengatakan sesuatu tentang orang itu?”


“Dia bilang diserang oleh pria yang wanitanya diganggu Kelvin, hanya itu.” Aris menjawab dengan tatapan mata yang datar namun genangan air terlihat jelas di sana.


“Kamu kalau lesu begini bagaimana mau menemukan pelaku? semangatlah demi Kelvin.”


“Aku mau ambil kopi sebentar”


“Yaudah sana, biar matamu itu melek.”


Kenta memijat pelipisnya, padahal baru kemarin dia main game bareng Kelvin. Sungguh tidak menyangka Kelvin sudah tidak ada sekarang, terlebih mati dengan cara membunuh, tidak heran kalau Aris begitu terpuruk.


>>>


“Awww,” jerit seorang wanita, barusan pahanya terkena kopi panas. Reflek sang pengawal mengambil tisu untuk mengelap cairan hitam itu.


“Maafkan aku, aku tidak sengaja,” kata Aris, dia tadi berjalan sambil melamun hingga kakinya tersandung, akibatnya kopi yang ia bawa jatuh di paha Lucy yang sedang makan disert.


Aris ingin membantu tapi sudah keduluan Yohan yang sigap kapan saja, Lucy tampak merasa sakit kerna air yang mengenainya adalah kopi panas.


“Bisa bisanya, sebenarnya kemana matamu melihat!” bentak Lucy begitu pula dengan Yohan yang menatap Aris tidak senang, ingin sekali dia mencekik Aris kerna sudah membuat nonanya kesakitan.


Kemudian satu pria lagi datang menengahi mereka, dia adalah Kenta. “Maafkan teman saya Nona, dia barusan kehilangan adiknya. Tolong dimaklumi, dia gagal fokus kerna banyak pikiran. Aris cepat minta maaf lagi.”


“Sekali lagi maafkan saya, Nona.”

__ADS_1


“Waduh abangnya, yaudah deh biarkan dia pergi saja,” batin Lucy. “Ya-yaudah pergi sana.”


Kalau saja Aris bukan abangnya Kelvin pasti urusannya dengan Lucy akan semakin ribet.


Aris? Kelvin? Yohan sangat ingat dengan nama itu, dua bersaudara yang dulu selalu mengisiknya, benarkah mereka orang yang sama? Kalau iya Yohan senang sekali telah menyingkirkan salah satu dari mereka dan membuat Aris bermata bengkak seperti ini. “Benarkah mereka?” batin Yohan sambil menahan senyuman bahagianya.


“Emm, Nona maaf,” ucap Kenta.


“Pergi sana, apalagi yang kalian tunggu?”


“Kami hanya inigin bertanya, apa anda ada melihat orang keluar dari kamar 0198 waktu tengah malam?”


“Enggak! aku tidur di jam segitu.”


“Oh begitu ya, kalau gitu kami pamit, sekali lagi kami minta maaf ya, Nona.”





“Perih Yohan huhu.”



“Obatnya dingin Nona, Anda akan merasa lebih baik setelah ini.” Yohan mengabaikan \*\*\*\*\*\* \*\*\*\*\* yang ia lihat, matanya berusaha fokus untuk mengobati luka bakar itu. Sungguh, setelah merasakan tubuh Lucy Yohan semakin sulit mengendalikan diri.



“Yohan kau benar-benar tidak akan ketahuan kan?”

__ADS_1



“Iya.”



“Tadi itu abangnya loh, Yohan.”



Yohan meniup paha Lucy membiarkan rok itu tetap tersingkap agar tidak mengenai obatnya. “Biarkan begini dulu Nona.”



“Woi respon perkataanku yang tadi.”



“Nona jangan khawatir, malahan bagus kita sudah mengetahui keluarganya.”



“Kamu sih main bunuh-bunuh aja.”



Yohan tersenyum tipis, pria ini benar benar tenang tanpa sedikitpun keraguan. Dia mengambil kipas kecil lalu mengarahkannya ke paha Lucy. Pengertian Yohan melebihi statusnya sebagai bodyguard.



Tbc.

__ADS_1



...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!...


__ADS_2