Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 11


__ADS_3

Pagi-pagi Lucy sudah bangun, tapi dia tidak mendapati Yohan di mana pun. Lucy panik, dia langsung berdiri tegap celingak-celinguk mencari keberadaan bodyguardnya.


“Yohan!”


“Yohan kau di mana!”


Kaki Lucy melangkah pelan menelusuri reruntuhan tua itu. Merasa sendiri di tengah hutan benar benar mengerikan, berbagai macam pikiran negatif terlintas di pikiran Lucy. Ini rencananya sejak awal 'kan? Dia sengaja meninggalkanku di sini dan mati setelahnya, huhu mama tolong aku. Begitulah kira kira.


“Nona.”


Lucy berbalik ternyata ada Yohan di belakangnya.


Plak! Tangan ringan Lucy mendarat sempurna di pipi Yohan, menciptakan suara gema di reruntuhan tua itu.


“Kenapa kau tinggalkan aku!” bentak Lucy dan tak segan menunjukkan air mata paniknya di hadapan Yohan.


“Maaf.”


“Kau tau kan aku sangat takut!”


“Saya pergi mencari makanan.”


“Tidak bisakah menunggu aku bangun terlebih dahulu!”


Tadi Yohan tidak tega membangunkan Lucy, gadis itu tampak nyenyak, Yohan pikir akan sempat dia mencari sesuatu yang bisa dimakan sebelum Lucy bangun, ternyata tidak.


“Maaf, Nona.” Dari pada menyangkal lebih baik mengalah.




Setelah memastikan Lucy sudah sarapan, Yohan mengemasi kain-kain yang terbentang di tanah, walaupun kotor Yohan tetap memasukkannya ke dalam ransel.



“Nona kita pulang sekarang.”



“Sore aja bisa enggak? Aku masih mau di sini.”



“Kalau sore kita sampainya pagi, itu berarti kita menghabiskan malam untuk berjalan. Kemarin saat Anda tidur saya bertemu dengan kuntilanak merah di perjalanan, saya sih tidak takut.”



“Pu-pulang sekarang!”



“Enggak Nona, saya cuman bercanda. Tidak ada apa-apa, kita mulai perjalanan sore saja. Anda bisa tidur di gendongan saya jadi tidak usah takut.”


__ADS_1


...\*\*\*...



Ini sudah pukul satu malam, Lucy tidak mau tidur membuat Yohan khawatir. Mereka memulai perjalanan sore hari, jadi malam ini mereka berada di hutan rimbun yang penuh semak dan akar pohon.



“Nona tidurlah, ini sudah sangat malam.”



“Yohan.”



“Hmm.”



“Di hutan ini cuman ada kita berdua, 'kan?”



“Iya.”



“Coba kau berhenti sebentar.”




Ngeeeeeng~



“Tuh, 'kan. Dari tadi aku mendengar suara Sinso, siapa yang menebang pohon di waktu seperti ini?”



“No-Nona sebaiknya Anda tidur.”



“Yohan bulannya lumayan terang, ya ... eh eh! Itu apa yang merah merah?” tunjuk Lucy di atas pohon sana. Tergambar samar bentuk mahluk itu, tapi warna merahnya terpantul jelas oleh cahaya bulan yang merembes masuk melalui sela-sela daun yang rindang.



Ketakutan Yohan pun terjadi, dia takut gadis ini akan melihat mahluk penghuni hutan, makanya dari tadi dia menyuruh Lucy tidur. Yang ia katakan tadi siang memang benar, dia tidak bercanda sama sekali.



“Nona pejamkan mata Anda, itu bunga yang perih jika kena mata,” tipu Yohan.

__ADS_1



“Tapi kok kayak ....”



“Nona pejamkan mata sampai saya suruh buka, ya. Bunga itu sangat pedih dan menjijikan. Ada banyak belatung di kelopaknya.”



“Ihhh, baiklah.“



Yohan kembali berjalan, dia tidak perduli dengan penampakan yang mengganggu jalannya. Suara dengkuran halus membuat Yohan lega, akhirnya Lucy tidur, tidak ada yang perlu di khawatirkan untuk melewati mahluk halus itu.



“Gawat kalau Lucy sampe lihat, dia bisa trauma ataupun sakit.”



\>\>\>



Saat Lucy terbangun dia sudah berada di dalam mobil dengan matahari yang sudah lumayan tinggi. Mereka sudah melewati area hutan, buktinya banyak kendaraan lain yang lewat juga.



“Yohan kita sudah tiga hari pergi dari rumah, papa tidak tahu, 'kan?”



“Tenang saja, Nona.”



“Bagaimana kalau Kepala Pelayan mengadu, kalau aku sudah tidak di rumah selama tiga hari.”



“Itu urusanku, Anda tenang saja,” ucapnya seraya tersenyum tipis.



Tbc.



...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....



...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....

__ADS_1


__ADS_2