
Mungkin kerna bukan di kamar sendiri, Lucy jadi bangun lebih awal dari biasanya. Bunyi cicitan burung kecil di jendela mengusik tidur Lucy, sang fajar sudah timbul memang sudah waktunya untuk bangun dan bersiap untuk bersekolah.
“Enggg~” Lucy meregangkan tubuh yang terasa kaku. “Hoaaam~” Dia menetralkan penglihatan yang terasa rabun, melihat ke sana ke mari dan....
“Aaaaaa!” tariak Lucy membuat dua orang lainnya bangun.
“Nona ada apa?” panik Yohan, saat ingin berdiri dia mendapati Asya yang kepalanya di pangkuannya. “I-ini?”
Lucy berdiri mendekati mereka lalu dia menarik kaki Asya.
“Yohan aku tidak percaya kau-”
“Nona, aku tidak tau sejak kapan dia di dekatku seperti ini.”
Dengan hanya melihat saja Lucy sudah dapat menebak siapa yang sengaja di sini. Asya duduk mengusap-usap matanya, dia juga sadar kalau Lucy adalah orang yang berteriak dan juga menarik kakinya.
“Lucy maaf, ibu juga tidak sadar.”
Plak!
Lucy menampar Asya, hingga wanita itu jadi sepenuhnya sadar dari kantuknya. Asya terdiam, mendapat tamparan dari murid sendiri adalah sebuah kejutan yang luar biasa.
“Kau sengajakan!” Telunjuk Lucy mengarah ke wajah Asya.
“Kau sangat kurang ajar! aku gurumu!”
“Guru taik! sejak awal yang kau incar Yohan kan? Segala menyuruhku les privat, ikut aku jalan jalan, memakai baju seksi padahal udah tau ada laki-laki, dan lalu kau beralasan tidak sadar tidur di pangkuan Yohan? KAU SENGAJA!” teriak Lucy, persetan dengan sopan santun.
__ADS_1
Yohan tidur di belakang pintu, itu sudah biasa bagi Lucy. Jika Yohan tidur di karpet bersama Asya, maka Lucy pasti akan menyalahkan Yohan, ini sudah sangat jelas kalau Asya lah yang berpindah tempat.
“Nona kita pulang sekarang?” tawar Yohan, dia tidak ingin memperpanjang masalah ini.
“Tunggu aku mandi dulu, dan kau Buk Asya buatkan sarapan untukku, semalam aku udah membeli bahan bahannya kan? masak aja itu.” Lucy pergi ke kamar mandi sedangkan Asya di sini terdiam, dia tidak bisa berbuat apa-apa mengingat keluarga Lucy bisa saja membuatnya kehilangan pekerjaan.
Yohan melirik Asya sebentar lalu kemudian dia keluar, Asya malu setengah mati, bagaimana tidak? Dia ketahuan sengaja menggoda Yohan di depan Yohan itu sendiri.
10 menit kemudian Lucy keluar sudah lengkap dengan baju sekolah.
“Kamar mandi Ibu kecil banget.”
Asya diam, dia fokus mengaduk aduk masakan yang ia buat.
“Yohan mana?”
Asya tampak mengabaikan Lucy, dan tentu saja itu memancing emosi Lucy.
PRANG!
Lucy membanting gelas kaca ke lantai, kebisuan Asya membuat Lucy marah. Sontak Asya menoleh, tatapan Lucy menatapnya penuh amarah.
“Lucy kau!”
“Aku tanya kenapa tidak jawab!”
“Apa perlu membanting gelas seperti itu?”
__ADS_1
“Ini masih mending dari pada gelas ini kulempar ke kapalamu, biasa aku lakukan itu pada pelayanku di rumah. Jangan sampai kau kenak juga, Buk.”
Asya gemetar, Lucy si tuan putri kaya ternyata sangat menyeramkan. Bagaimana cara keluarganya mendidik attitude Lucy?”
“JAWAB!”
“Ta-tadi dia keluar, gak tau kemana.”
“Cepat masaknya, aku lapar,” kata Lucy lalu dia pergi keluar kost melirik ke sana ke sini mencari keberadaan Yohan dan.. Jumpa! Yohan duduk di anak tangga sambil menghisap batang rokoknya seorang diri.
“Yohan kamu kenapa duduk di sini?”
“Merokok, Nona.”
“Aku benci asap rokok, matikan rokokmu dan mulai sekarang kamu tidak boleh merokok.”
“Baiklah.”
Benar benar definisi apapun demi Lucy yang tertanam di otak Yohan, dia sendirilah yang menanamkan hal itu, sebut saja mencuci otak sendiri.
“Ayo masuk kita sarapan,” ajak Lucy berjalan naik ke atas begitu pula dengan Yohan.
Tbc.
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....
__ADS_1