
Tinggal beberapa hari lagi menjelang ujian tengah semester, murid yang di janjikan akan masuk sekolah pada saat itu tengah melangkah memasuki area sekolah.
Semua mata tertuju padanya dengan segala keterkejutan mereka, gadis yang semakin bertambah cantik bergaya angkuh melewati mereka tanpa peduli dengan semua perhatian itu.
“Lu-Lucy?”
Ya, Lucy Ranxio, si gadis yang di rumorkan telah mati kini terpampang nyata di hadapan mereka.
Hal yang lebih membuat mereka tidak percaya adalah, gadis itu berjalan tanpa pengawalan sama sekali, ia sendiri.
“Benarkah itu, Lucy?”
“Sudah kuduga, berita itu hanya rumor.”
“Tapi, di mana pengawalnya? Lucy tanpa pengawal bukanlah Lucy.”
Berbagai gosip langsung menyebar ke seluruh sudut sekolah, bahkan saat Lucy belum sampai ke kelasnya berita tentang kedatangan Lucy terlebih dahulu sampai.
“Ada apa nih heboh-heboh?” Karin tak ingin ketinggalan berita, ia masuk ke dalam obrolan anak cupu di kelas.
“Ka-Karin?” Mereka menatap takut, wajar saja, karena tidak biasanya salah satu gadis populer bergabung dengan mereka. Para komplotan cupu itu takut dibully.
“I-itu, katanya Lucy masuk sekolah.”
__ADS_1
“Jangan mengada, diakan sudah mat-” Belum selesai lagi ia mengatakan kata mati, Lucy sudah sampai di kelas, berjalan santai menuju bangku yang selama ini kosong. “Lucy!”
“Apa?” jawab Lucy menoleh ke arah Karin.
“Bagaimana bisa kau masih hidup?”
“Ya, aku juga bingung. Oh iya, Vivian mana, ya?”
Kemudian terdengar langkah seseorang yang berlari di koridor menuju kelas. Dia membuka pintu kasar dengan air mata yang terus jatuh.
“Lucy!” tangisnya dramatis setelahnya langsung melempar diri mendekap Lucy. “Syukurlah, syukurlah ya Allah, Lucy masih hidup.”
“Vivi?”
Lucy terbelalak, ternyata ada satu orang lagi yang menyadari bahwa mereka telah mengulang waktu.
Lucy mendorong tubuh Vivi kasar agar mereka bisa bersitatap. “Vivi, bagaimana kau tahu!” Suara Lucy memelan.
Vivi menghapus air matanya kemudian berujar, “Jadi benar waktu talah terulang?”
“I-iya tapi bagaimana bisa kau tahu?”
“Setelah kau terjun ke laut, tak lama itu kemudian aku juga ikut terjun untuk menyelamatkanmu. Aku juga mati karena tertabrak beton jembatan saat melompat, rohku sudah keluar melihat jasadku, eh tiba-tiba aku hidup lagi, sedang menyetrika baju yang dulu aku gosongkan.”
__ADS_1
“Kenapa kau ikut terjun bodoh!”
“Aku kan ingin menyelamatkanmu.”
Lucy menepuk jidatnya sendiri, sahabatnya itu malah mati konyol karnanya. Mungkin ini salah satu alasan kenapa Vivi tahu rahasia besar itu, sebab Vivi mati bersamaan dengan Lucy.
“Ok, Vivi. Kamu jangan bilang siapa-siapa ya, ini rahasia kita berdua saja.”
“Beri tahu aku dulu, bagaimana ini bisa terjadi?”
“Aku juga tidak tahu, kau tanya tuhan sana, gih.”
Karin masih berada di kumpulan cupu, dia mencoba menguping apa yang dikatakan dua sahabat bersuara pelan itu.
“Eh cupu, kalian dengar enggak apa yang mereka bicarakan?” tanya Karin.
“Kami enggak benar, mana berani kami menguping mereka, nanti Lucy memarahi kami.”
“Cih, apa yang perlu di takutkan dari Lucy?” Karin pergi menjauhi mereka menuju bangkunya sendiri. Ada perasaan sebal di benak Karin apalagi kedatangan Lucy menjadi topik utama sekolah, seolah Lucy adalah idol yang datang berkunjung.
“Heboh banget, biasa aja kali,” singgungnya mencibir para cowok yang memperhatikan Lucy.
Tbc.
__ADS_1