Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 53


__ADS_3

Malam pukul sepuluh. Yohan sibuk menukangi pintu kamar Lucy, dia mengganti gagang pintu dan juga kuncinya. Lucy hanya menonton di atas kasurnya.


“Kenapa diganti han?”


“Agar Sangga tidak bisa masuk mengganggu Nona lagi. Dia memiliki kunci cadangan, maka dari itu saya ganti semuanya.”


Lucy mengangguk paham, dia kembali menarik selimut untuk mencoba tidur. Memang hanya Yohan yang bisa membuat Lucy merasa aman, bahkan mata Lucy sudah merasa kantuk, dia tidak perlu khawatir lagi akan Sangga, sudah ada Yohan di sini.


Terlelaplah Lucy setelah selama tujuh bulan ini tidak bisa tidur dengan tenang.


Selesai dengan pekerjaannya, Yohan hendak pergi keluar. Dia tutup pintu memastikan pintu kamar Lucy terkunci dengan baik.


Berbekalkan senapan yang belum tersusun, Yohan mengelabui mereka yang melihat Yohan. Mungkin mereka mengira tas yang disandang Yohan adalah tas biasa.


“Yohan kau mau kemana?” tanya Mira yang kebetulan berpapasan.


“Tidak kemana-mana,” kakinya terus melangkah hingga hilang di balik pintu.


Mira kecewa kerna dia diabaikan, bolehkah Mira cemburu dengan nona mudanya, Lucy.




Dahan pohon menjadi tempat persembunyian di gelapnya malam. Masih berada dalam ruang lingkup kawasan rumah keluarga Ranxio, Yohan bertenggek mengamati dua orang menggunakan pembidik sanapannya.



Dua targetnya itu adalah Sangga dan juga Aris yang tengah mengobrol bersama sambil merokok, entah sejak kapan mereka jadi teman.



Melihat mereka tertawa di atas penderitaan Lucy menambah kebencian Yohan, tangannya sudah geram untuk membunuh saja. Tapi... bukan itu tujuan Yohan, dia hanya ingin membuat Sangga tertidur koma.


__ADS_1


“Ternyata benar Aris.” Yohan baru tau itu setelah Lucy seharian cerita tentang dirinya tanpa Yohan.



“Akhhh!” ringis Aris, kakinya tertenam peluru entah dari mana. Sedangkan Sangga sudah tumbang duluan dengan darah yang sudah menggenangi lantai. “SANGGA!” teriak Aris, Sangga mendapat tembakan di jantungnya.



Senapan tidak mengeluarkan suara, pria ini turun dari pohon setelah membongkar kembali senapannya.



\>\>\>


Kembali lagi Yohan ke kamar Lucy, dia menyembunyikan senapannya di sana, di tempat yang sangat aman.



Tok tok tok.




“Tentu saja menjaganya, tadi kulihat dari jendela ada orang bersenjata berlarian di halaman.”



“Nona Lucy baik-baik sajakan?”



“Iya, dia tidur.”


__ADS_1


“Kau tidak usah tidur malam ini, jaga nona. Tuan Sangga dan Aris tertembak, takutnya dia mengincar nona Lucy juga.”



“Aku mengerti,” jawab Yohan.



Paman Tian pergi, dia tidak mencurigai Yohan sama sekali. Tidak tidur katanya? Enggaklah, Yohan mau tidur, dia sangat lelah. Lagian pelakunya memang dirinya sendiri jadi untuk apa takut?


.


.


“Nona Lucy baik-baik saja tuan, ada Yohan yang berjaga di kamarnya,” ucap Paman Tian melalui sambungan telpon. “Benar, tidak ada jejak CCTV yang menangkap pelakunya.... Iya Tuan, kami akan terus mencari.”



Panggilan pun berakhir, Paman Tian menghela nafasnya berat. Malam ini akan menjadi malam yang melelahkan bagi mereka.



Sedangkan si pelaku malah enak tertidur nyenyak di dalam kamar Lucy. Dengkuran halus Yohan tidak membangunkan Lucy di atas ranjang sana, malam ini mereka sama sama nyenyak.



Tbc.



...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....



...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....

__ADS_1


__ADS_2