
Buk Asya masuk di jam pertama, matanya langsung melotot kerna yang duduk di belakang bangku Lucy bukanlah pujaan hatinya. “Lucy ganti orang lagi? Yohan kemana?” Asya jadi tidak tenang, dia tidak berani bertanya pada Lucy, apa pandangan orang terhadapnya nanti.
“Lihat tuh buk Asya, kayaknya nyari Yohan,” bisik Vivi.
“Dia itu genit banget dengan Yohan.”
>>>
Kemudian di saat jam istirahat semua orang termasuk Vivi berhamburan keluar untuk mengisi perut mereka, sedangkan Lucy sedang malas berjalan.
“Aris belikan aku sandwich buah yang ada di kantin sekolah.”
“Aku ini pengawal bukan pesuruh,” batin Aris namun dia tetap pergi untuk membelikannya.
Lima menit kemudian Aris kembali hanya dengan tangan kosong, alis Lucy terangkat kerna tidak melihat apapun di tangan Aris.
“Nona sandwichnya habis.”
“Terus kau kembali dengan tangan kosong gitu?”
“Jadi?”
Bak!
Lucy melempar buku tebalnya ke wajah Aris, bisa-bisanya pria itu terlihat sangat santai. “Jadi, katamu?”
__ADS_1
“Ini sakit Nona.”
“Aku tidak perduli! Cari sandwichnya sampai ketemu!”
“Di mana saya pergi mencari kalau sandwichnya sudah habis!”
“Cari!”
“Di man-”
Plak!
Pada orang yang penurut saja tangan Lucy begitu ringan, apalagi dengan orang yang membantah seperti ini? Sebenarnya ada cara lain untuk membujuk Lucy tapi itu hanya bisa di lakukan oleh Yohan.
Rasa panas di pipi membuat Aris terdiam merasa tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi, dia ditampar oleh seorang gadis.
“Pergi cari!” bentak Lucy kerna Aris masih berdiam di tempat.
Aris melangkah pergi dari sana, dia pernah ditampar tapi kalau kerna masalah sepele seperti ini, ini benar-benar pertama kalinya. Dia diperlakuan seakan budak oleh Lucy, itulah yang membuatnya sedikit shock.
Ke sana ke mari Aris mencari sandwich dan pada akhirnya dia jumpa tapi...
“Huwekk sandwich apa ini? Rotinya kasar, tidak enak!”
Lucy malah membuang sandwich yang susah payah Aris dapatkan, padahal baru satu gigitan tapi roti itu sudah dilempar ke tong sampah. “Kalau begini aku akan kelaparan, sana belikan aku bakso kantin sekolah saja.”
__ADS_1
Tangan Aris gemetar menahan amarah, setelah susah payah dia mencari sandwich kemudian di buang! Sekarang Lucy kembali memerintah untuk membeli bakso.
Mereka tidak hanya berdua lagi di ruangan ini, sebagian siswa sudah masuk bahkan mereka menertawakan Aris yang bernasib malang sebab nona kaya menyebalkan.
Aris kembali membawa semangkuk bakso. “Mana minumnya,” tanya Lucy.
“Nona tidak ada nitip minum tadi.”
“Seharusnya kau yang berinisiatif, Yohan biasanya begitu. Kau ini benar-benar tidak bisa diandalkan ya.”
Sakit hati Aris mendengarnya. “Nona mau minum apa?”
“Air putih biasa.”
“Merek?” Bukan tanpa sebab dia bertanya, dia hanya takut Lucy tidak suka dengan rasa air salah satu merek.
“Basing.” Jawab Lucy dengan tangan yang dilipatkan, dia memandang rendah Aris sambil tersenyum mengejek. “Dalam waktu dua menit kau harus sudah sampai,” tutur Lucy.
Suara siswa lain begitu jelas menertawakan Aris, pria ini semakin mengepalkan tangannya, terus menahan gejolak ingin menggebuki mereka. Dengan langkah cepat dia keluar dari kelas membiarkan Lucy yang tengah makan sendiri di sana.
Tbc.
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....
__ADS_1