Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 41


__ADS_3

Gerbang besar terbuka membiarkan beberapa mobil yang masuk, para pelayan memberi sambutan selamat datang kembali pada tuan mereka yang hampir sebulan ini tidak ada di rumah.


“Panggil Yohan, suruh dia ke ruanganku.” Suara tegas itu memerintah salah satu dari mereka yang berbaris.


Rumah yang besar ini pun di jelehahi untuk mencari Yohan yang entah di sudut yang mana, dari lantai atas dia melihat Lucy yang duduk di taman belakang yang jaraknya lumayan jauh.



Di seberang danau tepatnya di gazebo yang berbentuk kubah ada Lucy yang tengah melukis dengan sangat tenang. Kata orang kalau ada asap berarti ada api, pasti Yohan ada di sana kerna dia hampir 24 jam bersama Lucy.


“Nona,” panggilnya setelah berlarian dari bangunan utama. Lucy cuek, dia memang tipikal angkuh pada siapapun.


Si pelayan melihat area sekitar, namun tidak ada Yohan di sana. “Nona di mana pengawal Anda?”


“Apa urusanmu?” Jawab Lucy tampa menoleh sedikitpun.


“Tuan Dion memanggil”


“Dia pergi membeli cat untukku, nanti kalau dia kembali aku akan langsung menyuruhnya menemui papa.”


“Apa masih lama?”


“Entahlah.”

__ADS_1


Si pelayan masin berada di tempat dengan pikiran yang sudah kusut, dia takut di marahi Dion.


“Kenapa masih di sini? pergi sana!”


“Tap-”


Brak!


Lucy melempar papan paletnya ke wajah si pelayan, dia benci sekali dengan pelayan yang tidak bisa dibilang sekali saja, kehadiran perlayan itu saja sudah cukup mengganggu waktu tenang Lucy. Wajah pelayan laki-laki itu di kotori oleh cat warna akibat dia melupakan sifat Lucy yang buruk.


“Pergi! Kau sangat mengangguku”


“Baiklah maafkan saya Nona.” Dia undur diri menahan kesal ingin mencekik gadis itu. Tangannya mengepal erat kemudian berbalik dengan wajah penuh dendam, sampai matanya menemukan Yohan di hadapan.


Bugh!


“Ahkkk, Yohan kenapa kau memukulku?” Ringisnya memegang pipi yang lebam.


“Apapun yang dilakukan nona kau tidak boleh berekpresi seperti itu,” ucap Yohan melewatinya begitu saja, Yohan tidak suka pelayan tidak tau diri itu menampakkan wajah dendam apalagi sampai dilihat Yohan seperti ini.


“Yohan kau di panggil papa.” Lucy berujar tanpa menoleh.


“Saya akan segera kembali, Nona,” pamitnya.

__ADS_1


>>>


Memasuki rumah utama Yohan dicegat oleh paman Tian. “Tuan besar tadi tampaknya serius.”


“Terus?”


“Mungkin dia mengetahui kau yang tidak patuh pada peraturan dan seenaknya pada Nona.”


“Paman tampak yakin sekali dengan itu.”


“Jelas, satu hal yang masih kuragukan adalah, apakah nona Lucy masih perawan.” Tian sangat khawatir, kerna Lucy akan menjadi persembahan utama nanti.


“Tidak baik mempertanyakan keperawanan seorang gadis Paman, apalagi dia adalah majikanmu”


Yohan melanjutkan langkahnya menuju ruangan Dion, tidak ada ketakutan ataupun keraguan yang menyerang Yohan. Mati pun ia rela jika itu demi Lucy, tapi apa memang mereka ketahuan ya?


“Tuan memanggil saya?”


“Iya duduklah dulu, ada hal penting yang ingin kubicarakan,” Dion menunjuk kursi di hadapannya yang berbataskan meja.


Hanya ada mereka berdua di sini, Dion tidak tampak seserius yang Yohan pikirkan? Padahal paman Tian bilang begitu tadi, nyatanya Dion bahkan tampak santai menyeruput kopi hitam.


Tbc.

__ADS_1


...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....


__ADS_2