
Suara TV menjadi objek pusat perhatian orang orang di kafe, biasanya pelanggan tidak perduli dengan TV tapi kali ini berbeda kerna presenter di sana membawakan berita yang beberapa minggu ini viral di sosial media.
“Belum ketemu juga ya orang orang hilang itu,” kata Lucy sembari menyendok pudingnya, mereka sekarang memang berada di sebuah kafe.
“Hmm.”
“Yang hilang cuman anak gadis loh Han, cantik cantik pula, aku jadi ngeri sendiri.”
Yohan menatap sedih Lucy, sementara Yohan hanya bisa bungkam, dia tau maksud si penculik gadis itu, maka dari itu Yohan di sini untuk menjaga Lucy dari mereka semua tidak perduli jika Yohan mati kerna itu.
“Nona.”
“Iya?”
“Percayalah aku akan selalu mmelindungimu.”
“Ya itu memang tugasmu” Percayalah pipi Lucy jadi merah ketika Yohan mengatakan akan melindunginya dengan suara yang ah.. serak-serak seksi ditambah dengan tatapannya yang terasa nembus sampe ke tulang.
Orang-orang di kafe ini menganggap Lucy dan Yohan seperti sepasang kekasih, duduk berhadapan di meja bulat kecil yang dikhususkan memang untuk dua orang. Siapa yang tidak akan salah sangka?
“Yohan pudingmu kenapa tidak di habiskan?”
“Ini sangat manis, saya tidak begitu suka.”
“Habiskan!”
“Baiklah.” Terpaksa Yohan menghabiskan puding itu walaupun dia tidak suka, dasar nona pemaksa.
“Kak tolong bungkus kan dua lagi, ya,” kata Lucy meminta kepada pelayan yang kebetulan lewat.
“Ok dek.”
__ADS_1
“Padahal dia sudah makan banyak,” batin Yohan.
“Ini bukan untukku tapi sengaja kubelikan untuk Vivi dan juga kak Bagas.” Lucy seakan mendengar kata hati Yohan, hmm tidak juga, sebenarnya ekpresi Yohanlah yang membuat Lucy tau.
>>>
Terlebih dahulu Lucy ke rumah Vivi lebih tepatnya ke tempat loundry, pasti Vivi di sana.
“Vivi ini untukmu.”
“Uuuuh~ teman baik aku, terimakasih ya, Cy.”
“Iya, bye aku balik dulu, ya. Yohan udah nunggu di mobil.”
Tempat selanjutnya adalah rumah Bagas, ramah Bagas lumayan bagus berlantai dua minimalis, papa Bagas bekerja sebagai direktur pemasaran disalah satu kantor.
Lucy tidak perlu masuk ke dalam kerna ternyata Bagas duduk di teras sambil merokok.
“Kau! ngapain kau ke sini?”
“Aku ada beliin kamu puding, dimakan, ya.”
Lucy memberikan bingkisan imut itu dengan senyuman yang di buat semanis mungkin. tapi...
Brak!
Senyum itu pudar kerna Bagas membuang pemberiannya ke dalam tong sampah.
Dari mobil Yohan bisa melihatnya, segera dia turun menatap Bagas dengan penuh kebencian, seandainya Lucy tidak menyukai lelaki itu sudah dipastikan Bagas akan babak belur oleh Yohan.
Yohan tidak mengeluarkan sepatah kata pun, dia pergi ke tong sampah mengambil apa yang sudah Bagas buang barusan, lalu kemudian menarik Lucy yang hampir menangis di situ.
__ADS_1
“Kita pulang nona.”
Di dalam mobil.
“Nona.”
“Bagas tega banget Han, huhuhu.” Air mata Lucy begitu deras Yohan ingin memeluknya tapi dia masih ingat batasan. Namun tiba-tiba Lucy lah yang duluan memeluknya. “Hatiku sakit banget Yohan.”
Pria itu sempat mematung lalu kemudian sadar Lucy butuh teman curhat, tangannya pun terulur untuk mengelus kepala Lucy. “Jika sakit kenapa diteruskan nona?”
“Kau akan mengerti kalau cintamu bertepuk sebelah tangan!”
“Maafkan saya, sekarang kita pulang, ya?”
“Untuk apa kau memungut puding itu?”
“Untukku.”
“Katanya tidak suka.”
Memang tidak suka, tapi Yohan tidak bisa membiarkan apa yang Lucy berikan masuk ke dalam tong sampah. Terlalu berharga hingga Yohan memaksakan diri untuk memakan itu semua.
Yohan membuka bingkisan lucu yang bentuk isinya tidak secantik semula. Dia memakan puding itu di hadapan Lucy hingga habis. “Udah habis, terimakasih atas pudingnya nona.”
“Hihihi sama-sama,” kekeh Lucy, akhirnya gadis itu tidak menangis lagi.
Tbc.
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....
__ADS_1