
Entah kemana Karin membawa Lucy, katanya jalan-jalan agar Lucy tidak menung terus. Taman akan menjadi objek utama bagi mereka yang sedang ingin menikmati wekend di luar.
“Ngapain kau membawaku ke taman ini?”
“Jalan-jalanlah, kan enak nih ramai orang.”
“Bodoh! bagaimana kalau aku tertangka-” Belum selesai Lucy ngomong, terlebih dahulu Karin memotong perkataannya.
“Lucy coba lihat, itu Bagas kan?” Tunjuk Karin pada Bagas yang duduk di bangku sana.
Bagas tidak sediri, ada seorang gadis bersamanya. Hanya Bagas yang terlihat, Lucy tidak dapat melihat si gadis kerna tertutup ranting pohon jika dilihat dari sudut Lucy.
“Gadis itu siapa?”
“Ayo kita samperin, Cy.” Karin sangat antusias menarik tangan Lucy untuk melihat gadis itu secara langsung. Dalam hatinya bersorak ria.
Terlihatlah tampang jelas gadis itu, bahkan Lucy bertatapan dengannya. Sungguh sulit di percaya, untuk pertama kalinya Lucy sangat kecewa pada Vivi yang merupakan sahabatnya berduaan dengan Bagas di sini.
“Lu-Lucy?”
Inilah tujuan Karin sebenarnya, dia tau Bagas dan Vivi akan ke taman ini, maka dari itu dia mau membantu Lucy dengan tujuan membawa gadis itu ke sini. Lucy terdiam, Karin tidak bisa membiarkan itu, dia harus memanasinya.
“Sudah kubilangkan Cy, kalau Vivi tu mengkhianati kamu. Eh Vivi, kamu mau beralasan apalagi?”
Lucy pun terpancing. “Vivi jadi kau berbohong denganku?”
“Maaf Cy, tapi aku juga suka sama kak Bagas. Kupikir kami bisa merahasiakan hubungan kami sampai kau bisa melepaskan kak Bagas.”
Bagas merasa Vivi tidak bersalah, jadi untuk apa minta maaf. “Gak usah minta maaf, ayo kita pergi.” Bagas menarik Vivi pergi.
Dengan tatapan kecewa Lucy menatap punggung Vivi, gadis itu bahkan tidak menoleh ke belakang lagi. Dia berjalan lurus mengikuti langkah Bagas tanpa memperdulikan Lucy.
“Masih mau berteman dengan Vivi?” Hasut Karin.
“Engga sudi!”
__ADS_1
Padahal Vivi tidak sepenuhnya salah, tidak ada yang bisa memaksakan perasaan. Seperti yang kita tau, Lucy lah yang egois. Vivi dan Bagas saling menyukai, seharusnya sebagai sahabat, Lucy mengikhlaskan hubungan mereka.
Dalam perjalanan pulang ke apartemen Karin, gerombolan mobil mengepung mobil Karin hingga tidak ada celah untuk berbelok.
“Apa-apaan mereka!” Karin panik.
“Ku-kunci pintunya!”
Terlambat. Sebelum itu terjadi para bawahan Dion sudah berhasil membuka pintu mobil Karin secara paksa.
“Enggak!”
Selanjutnya Sangga turun dari mobil, dia menarik paksa Lucy, menggendong gadis itu untuk kembali pulang. “KARIN TOLONG AKU!” teriak Lucy memberontak.
Apa yang bisa di lakukan Karin? Dia bahkan sudah sangat gemetaran, siapa yang tidak takut di kepung seperti ini.
__ADS_1
\>\>\>
Pada akhirnya Lucy kembali lagi ke rumah, dia mengunci diri dalam kamar kerna merajuk. Makan siang ia lewati, Dion mengetuk pintu kamar Lucy guna menyuruh gadis itu makan.
“Lucy, buka pintunya, nak.”
Lucy dengar, tapi dia sedang tidak ingin makan apa-apa sekarang. Kenyang lontong pecal yang diberikan Karin tadi pagi masih terasa.
“Aku sudah kenyang!”
“Yakin?”
“PERGI SANA SIALAN!”
Dion hanya bisa menghela nafas kasar. Sebaiknya dia pergi saja, Lucy adalah tipe orang yang tidak tahan lapar, kalau lapar dia pasti akan keluar dari kamarnya.
Tbc.
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
__ADS_1
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....