Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 76


__ADS_3

Rasa tak percaya menaungi otak Lucy yang sedang berpikir, apa yang sebenarnya terjadi. Kejadian ini seperti sebuah nostalgia, di mana Lucy sekarang berada di sebuah ruangan yang hanya ada keberadaan dirinya dan juga Dion, sang papa.


“Apa alasanmu membuat kematian palsu, Lucy?”


Perkataan itu, perkataan yang sama seperti dengan yang sebelumnya. Bagaimana mungkin? Lucy mencoba mencerna situasi, seingatnya dia sudah mati bahkan bertemu Emelly di alam lain.


Apa aku sedang bermimpi?


Situasi ini sangat sulit di cerna oleh otak Lucy, namun dia tidak punya banyak waktu untuk berpikir, lebih baik melakukan pembuktian saja sekarang.


Aku tidak tahu ini mimpi atau aku kembali mengulang waktu, kalau benar demikian setidaknya aku tahu kalau papa memiliki pistol, sebelum Yohan datang, aku harus merebut pistol itu terlebih dahulu.


Tiba-tiba Lucy melangkah cepat menghampiri Dion, pria itu tampak heran dengan Lucy yang mendekatkan diri.


“Kau mau apa?”


“Mau ini,” kata Lucy sambil menunjukkan senjata api yang berhasil ia rebut tanpa dirasa oleh Dion, sepertinya Lucy memiliki bakat untuk maling.


“K-kau! Sejak kapan?”


Lucy mengambil jarak untukmengarahkan pistol ke kepala Dion sambil berkata, “Durhakakah aku jika membunuhmu, Papa?”


Dion takut dengan berdiri kaku, dia tidak menyangka bahwa Lucy tahu dengan letak senjata yang ia simpan di balik baju. Kalau begini Dion harus mencari dalih untuk membujuk Lucy.

__ADS_1


“Kenapa harus membunuh papa, Sayang. Papa membawamu pulang hanya karena khawatir, sini pistolnya berikan pada papa, setelah ini kita bisa makan malam bareng.”


“Aku muak denganmu, Papa. Lebih baik Papa mati. Sampaikan salamku pada mama, selamat tinggal.”


Dor.


Suara tembakan itu bertepatan dengan kehadiran Yohan, pemuda itu melihat darah segar yang mengalir dari jidat Dion. Masih dengan mata yang terbuka, tubuh pria itu jatuh dan langsung meninggal di tempat.  


“Nona?” tegur Yohan dengan keterkejutan yang luar biasa. Siapa yang menyangka Lucy berani melakukan hal itu?


Tangan Lucy gemetaran dengan kepala yang tertunduk mengarah ke lantai, dia tidak berani melihat darah yang tergenang di sekitar Dion.


Kaki Lucy melemas, sebelum dia jatuh, terlebih dahulu Yohan menyambutnya. “Tidak apa-apa Nona, tenanglah.”


“Saya di sini, saya tidak akan meninggalkanmu, Nona.” Yohan mengelus kepala Lucy yang bersembunyi di dekapannya. Walaupun tidak terdengar suara tangisannya, tapi baju yang terasa basah sudah membuktikan jelas, seberapa banyak air mata yang tumpah dari mata Nonanya.


“Tanpamu aku bisa bunuh diri, Yohan.”


“Apa yang Nona katakan? Hal itu tidak akan terjadi.”


Yohan tidak tahu saja, kalau itu sudah benar-benar terjadi. Lucy enggan melepaskan Yohan hingga akhirnya Yohanlah yang menggendong tubuh itu untuk keluar.


Saat menuruni tangga, tatapan paman Tian dan seluruh pekerja di rumah besar itu terpaku pada Yohan dan Lucy.

__ADS_1


“Paman, tolong urus mayat Dion,” titah Yohan menyebut nama Dion tanpa panggilan, Tuan.


Paman Tian sempat terkejut namun kemudian dia mengangguk paham maksud Yohan.


“Jangan sampai berita ini diketahui oleh publik, lakukan secara rapi.”


“Baik, Tuan muda.”


“Enggak, aku bukan tuanmu, tunggu Sangga sadar, dialah pewaris harta yang sebenarnya. Kami pergi dulu, sampai jumpa.”


Tian tetap membungkuk hormat pada Yohan, begitu pula dengan para pekerja lainnya yang melepas kepergian Yohan dan Lucy penuh hormat.


Akhirnya rumah itu menjadi tempat tak bertuan untuk sementara.


“Yohan.”


“Iya?” 


“Kita bawa mama, ya,” pinta Lucy yang masih enggan menunjukkan muka.


“Baiklah.”


Hari itu mereka pergi dengan membawa mayat Emelly bersama mereka, mungkin saat ini mayat itu masih belum ingin di kuburkan oleh Lucy, tapi dia berjanji saat umur 20 tahun akan mengubur tubuh utuh itu dengan benar.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2