
Pagi ini Lucy sudah siap dengan seragam sekolahnya. Dia keluar dari kamar menuruni tangga menuju meja makan. Melihat Sangga di sana Lucy langsung memasang ekpresi penuh kebencian.
Duduklah Lucy di kursi paling ujung jauh dari Dion dan juga Sangga. Biarkan saja, yang penting gadis itu mau makan.
Setelah selesai Lucy mau pergi, namun Dion menghentikannya. “Mau kemana kau Lucy?”
“Sekolah!”
“Mulai sekarang kau tidak diperbolehkan keluar lagi.”
“Kau gila! Mengekang anak juga ada batasannya!”
“Ini hukuman kerna kau kabur dari rumah semalam.”
“Bagaimana dengan sekolahku!”
“Online.”
“Tidak mau.” Lucy mengabaikan Dion, saat dia sampai di depan pintu, pintu itu terkunci tidak terbuka untuk membiarkan Lucy lewat. Ternyata Dion tidak bercanda, dia serius.
Lucy balik lagi ke meja makan. “Apa maksudnya ini!”
“Sudah papa beri tahukan tadi.”
“Papa tidak boleh mengekangku seperti ini!”
“Boleh, aku papamu”
__ADS_1
Prang!
Lucy menarik kain yang menjadi alas di meja makan, semua isi di atasnya berhamburan di lantai. Pecahan kacanya bahkan sampai mengenai kaki Dion. Namun pria itu tidak menggubris darah yang keluar di kakinya, dia hanya diam.
“ Kalian jahat, kenapa sampai seperti ini sama aku!? Aku tidak mengerti, kurasa keluarga ini tidak normal. Kalian tidak berperan sebagai pelindungku di sini, bahkan aku merasa kalianlah penjahatnya,” tangis Lucy.
“Ini demi kebaikanmu, nak.”
“Katakan padaku, di mana letak kebaikannya?”
Dua orang itu terdiam, Sangga dan Dion memiliki pemikiran yang berbeda beda terhadap Lucy. Satunya kerna menyukai adiknya sendiri, tidak rela rasanya si adik menyukai pria lain di luar sana. Sedangkan satunya lagi menganggap Lucy adalah tumbal yang tidak bisa dibiarkan kabur.
“Kenapa kalian diam?”
“JAWAB!”
“Tidak ada yang perlu di jelaskan, ini keputusan papa.”
“Baiklah, kalau gitu aku mau pengawalku Yohan kembali.”
Walaupun terkekang, kalau ada Yohan pasti dia bisa keluar secara diam-diam. Itulah yang dipikirkan Lucy sehingga meminta Yohan kembali padanya.
“Dia ada urusan lain.”
“Aku mau pengawalku Yohan bukan Aris!”
“Tidak bisa Lucy.”
__ADS_1
“Kalian, benar-benar-” Tak melanjutkan perkataannya Lucy berjalan kembali meninggalkan mereka untuk ke kamarnya sendiri. Tatapan begitu kosong dengan air mata yang terus jatuh dari matanya. Rasa sakit hatinya begitu besar, hidup yang terkekang dan juga teman yang berkhianat.
Di sekolah, Vivi menatap bangku Lucy yang tidak ada penghuni. “Bentar lagi bell masuk, Lucy kok belum datang ya?” gumam Vivi menatap sendu bangku Lucy.
“Dia marah sama kamu mungkin,” sambung Karin denga nada mengejek.
Pukul delapan guru pun masuk, sebelum pelajaran dimulai dia ingin mengumumkan sesuatu. “Anak anak, teman kalian Lucy mengikuti program kelas online. Jadi dia tidak akan datang ke sekolah kecuali saat ujian.”
Seisi kelas pun jadi riuh, sedangkan Vivi merasa kalau ini adalah salahnya. “*Sebegitu muak kah dia dengan ku*?” batinnya, sedih sekali dia tidak bisa melihat Lucy lagi dalam waktu dekat. Tidak mungkin pergi ke rumah Lucy, rumah itu tidak membiarkan orang luar masuk tanpa izin tuan besar.
Tbc.
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
__ADS_1
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....