
Air mata belum kering dari pelupuk mata Lucy. Gadis ini hanya menangisi satu kematian, Yaitu kematian Yohan. Dia tidak memperdulikan papanya yang dikuburkan agak jauh dari makam Yohan.
Ya, dia sedang terduduk sendiri di samping kuburan Yohan dengan tatapan kosong. Kenangan bersama dengan Yohan mengalir dalam pikirannya, banyak sekali bukti jelas kalau Yohan sangat mencintainya.
Yohan yang tidak pernah kasar dengan Lucy, Yohan yang selalu memprioritaskan Lucy, Yohan yang melakukan apapun untuk Lucy. Setelah kepergiannya barulah Lucy merasakan cinta pemuda itu.
“Yohan, aku sendiri di sini. Tolong bawa aku,” gumamnya dengan kepala yang terbaring di dekat nisan Yohan.
Kemudian Lucy merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang dari belakang. “Kau Lucy?” tanya wanita itu, Lucy pun mengangguk.
PLAK!
Tiba-tiba wanita itu menampar Lucy, tetapi Lucy yang sedang berduka tidak punya tenaga untuk menentang.
Wanita itu menangis. “Gara-gara kau! semua ini gara-gara kau! Putraku Yohan mati kerna kau!”
Lucy tersentak, ternyata wanita itu adalah mamanya Yohan, pantas saja dia marah. Lucy tidak berani menatap wajah wanita itu, dia tau kerna dirinyalah Yohan meninggal.
“Kenapa kau diam hemm! Kenapa!” Dilla menarik rambut Lucy, tidak ada niat bagi Lucy untuk mengelak. Benar, aku yang salah.
Tian datang menengahi mereka, dia membawa beberapa orang untuk membawa Dilla pergi. Dilla berteriak menyumpahi Lucy.
“Nona, ayo kita pulang,” ajak Tian menggunakan suara pelan.
“Kau saja, aku masih mau di sini.”
__ADS_1
“Tapi nona sudah cukup lama duduk di sini.”
Lucy menggelengkan kepala tanda dia belum ingin pulang. Tian yang tidak bisa memaksa Lucy, terpaksa harus pergi setidaknya untuk sekarang dia bisa mengawasi Lucy dari jauh.
Kalian tau? Tian berterima kasih pada Yohan yang telah melenyapkan Dion. Berkat itu dia sekarang bisa keluar dari sakte sesat itu, dan berencana menjalani hidup dengan normal.
Dari dalam mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari area pemakaman, Tian mengawasi Lucy yang masih enggan bergerak dari tempatnya. Hari semakin gelap juga berangin, Tian khawatir sebentar lagi akan hujan.
“Nona tidur?” heran Tian kerna Lucy tidak bergerak sejak tadi dengan kepala yang dibaringkan di atas kuburan Yohan.
.
.
Sampai rintikan hujan jatuh pun Lucy masih sama di tempatnya, hujan itu menyembunyikan air mata Lucy. Kesadaran Lucy semakin menepis, hari ini sangat melelahkan dan penuh emosi, waktunya untuk istirahat.
Pada akhirnya Lucy tidur di bawah guyuran hujan.
“Eng,” lenguh Lucy membuka mata perlahan. Netranya menelusuri tempat yang sekarang menampung dirinya. *Dimana* **ini**?
__ADS_1
Sampai kehadiran seseorang menyadarkan Lucy sepenuhnya. “Lucy kau sudah bangun?” Yang barusan bersuara adalah Vivian. Dia diminta untuk menemani Lucy untuk sementara oleh paman Tian.
Vivi langsung memeluk Lucy terharu, dia senang Lucy masih hidup.
“Vivi Yohan meninggalkanku,” adu Lucy menatap satu arah dengan tatapan kosong.
“Kamu yang sabar ya, Cy. Yohan akan sedih jika melihatmu sedih, mulai sekarang kamu harus berjalan menggunakan kakimu sendiri, aku akan selalu menemanimu.”
Kata-kata semangat dari Vivi tidak membantu Lucy sama sekali. Lucy hanya diam membiarkan tubuhnya di peluk oleh Vivi.
Dari balik pintu ada mama papa Vivi yang tengah mengintip, ini rumah mereka wajar saja mereka penasaran dengan Lucy yang dikabarkan meninggal, namun tiba-tiba seorang pria datang membawa Lucy meminta bantuan untuk menjaga Lucy sementara di rumah mereka.
Tbc.
__ADS_1