Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 51


__ADS_3

Waktu berjalan begitu lambat, tujuh bulan berasa tujuh tahun. Setelah selesai dengan tugas menjaga para gadis yang disekap di hutan, kini akhirnya Yohan kembali ke rumah sang majikan.


Dengan langkah cepat terkesan tidak sabar, Yohan menaiki tangga. Ia penasaran tentang nona yang sudah lama ia rindukan.


“Yohan.”


Tap.


Langkah Yohan berhenti, ada paman Tian yang menghadang jalan nya.


“Ada apa, Paman?”


“Sudah lama tidak bertemu ya.”


“Ck, aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi”


Kaki Yohan kembali melangkah, saat dia melewati paman Tian, pundaknya ditahan oleh pria yang lumayan tua itu. “Tuan besar memanggil,” sambungnya.


Padahal Yohan baru saja datang, jangan sampai dia diberi pekerjaan baru lagi. “Apa perlu sekarang?”


“Pergilah ke ruangannya.” Paman Tian melanjutkan langkahnya ke bawah, sedangkan Yohan di sini mengepalkan tangan sangking geramnya, entah apalagi urusan Dion pada Yohan. “Aku tidak akan terima kalau sampai dioper pergi lagi,” Batinnya.


>>>


Tok tok tok.


“Masuk,” jawab orang di dalam sana.


Yohan menghela napas berat, dia harus menyembunyikan ekpresi tidak enak ini di hadapan Dion, sambil tersenyum tipis dia berkata, “Tuan memanggil saya?”


“Oh iya, Yohan sini duduk dulu.”

__ADS_1


Tangan Yohan terulur menarik kursi di hadapan Dion.


“Gimana tujuh bulan kamu?”


“Di luar kesepakatan, katanya enam bulan sudah yang paling lambat.” Dengan santai Yohan mengatakannya, namun di balik itu semua ada batin yang tengah menyumpahi.


“Ahaha, kan kamu saya bayar lebih.”


“Saya yang merupakan anak modern ini merasa hampa di sana, Tuan.”


“Kenapa?”


“Tidak ada jaringan internet.”


“Ahahah benar juga ya.” Dion kembali tertawa, anggap saja untuk detik ini dia adalah atasan yang friendly. Laki-laki kehilangan arah itu bisa saja mengelabui semua orang, tapi tidak dengan Yohan yang mengetahui semua rahasianya.


“Jadi tuan hanya ingin menanyakan itu?”


Dion berhenti tertawa. “Baiklah aku akan langsung saja. Yohan, seminggu lagi ritualnya. Kau ikut kan?”


“Tidak apa-apa, lebih cepat lebih baik. Ketua sudah mengumumkannya semalam, aku juga baru tahu.”




Kalau biasanya Lucy kesabarannya setipis tisu dibelah dua, namun kini dia seperti mayat hidup yang tidak pernah meninggalkan kamar. Dia tidak banyak bicara bahkan saat pelayan tidak sengaja menumpahkan air di kepalanya, Lucy hanya diam saja tidak mengeluarkan ekpresi.



Selesai mengantar sarapan Lucy, maid memulai gosipan mereka di depan pintu kamar Lucy yang sudah ditutup.

__ADS_1



“Nona Lucy semakin hari semakin parah ya.”



“Dia banyak menung, takutnya nona Lucy depresi loh.”



“Dia punya kekayaan tapi tidak punya kebebasan, kasihan.”



“Bayangin aja, seberapa bosannya dia terkurung di dalam kamar itu. Ini sudah masuk bulan ke tujuh kan?”



Ya, selama itu Lucy tidak pernah keluar kamar. Aris juga seperti pengangguran kerna dia tidak perlu mengawal Lucy ke sana kemari. Aris hanya perlu memastikan gadis itu masih berada di dalam kamarnya.



Gadis itu bagaikan hidup segan mati tak mau, dia sudah hilang kepercayaan bahwa Yohan akan kembali. Bahkan bulan ke enam sudah lewat, Lucy menyimpulkan bahwa Yohan pergi meninggalkannya.



Tbc.



...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....

__ADS_1



...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....


__ADS_2