
Di tempat lain, Lucy memejamkan mata mengucapkan permohonannya dalam hati di hadapan lilin di atas kue. Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 18, pagi-pagi Yohan memberikannya suprise bahkan merayakan di saat Lucy belum sikat gigi dan mandi.
Selesai dengan permintaannya Lucy memotong kuenya. “Yohan, aaaa,” kata Lucy sembari mengarahkan sendok ke mulut Yohan.
Suapan pertama ia berikan pada Yohan, ya siapa lagi? Mereka hanya berdua di situ. Yohan menerima suapan dengan senang hati, sebisa mungkin dia menahan salting, Yohan harus jaga image di depan Lucy, jangan sampe gadis itu tau kalau Yohan menyukainya.
“Apa permintaanmu tadi, Nona,” tanya Yohan.
“Aku meminta pada Tuhan agar menggerakkan hati Bagas untukku.”
Seketika raut bahagia Yohan hilang. Padahal sudah lebih dari enam bulan Lucy tidak pernah bertemu dengan pria itu lagi, tapi ternyata perasaan itu tidak hilang, Yohan kecewa.
“Upss kenapa aku kasih tau ke kamu? Kata orang kalau permohonannya dikasih tau gak bakal terkabulkan. Yohan kamu sih kenapa nanyain!”
“Maaf, Nona.” Yohan tersenyum tipis. Kado kecil yang tersembunyi di balik hoodienya pun tidak jadi keluar, dia jadi takut kalau kado itu tidak spesial sama sekali.
Lucy melihat sedikit kado kecil berlapis warna ungu muda itu. “Yohan itu apa?”
__ADS_1
“Bukan apa-apa.”
“Sepertinya itu kado deh, sini lihat.”
“Bukan.”
“Pelit banget sini lihat!” Lucy menarik baju Yohan hingga bingkisan kecil itu keluar, secepat kilat Yohan mengambilnya dan kemudian lari keluar.
“Yohan mau kemana kau!” teriak Lucy ingin mengejar tapi tidak jadi kerna sadar bajunya terlalu terbuka untuk pergi keluar. “Iss apa sih itu, aku kan jadi penasaran. Untukku atau untuk pacarnya? Hah pacar! Tidak tidak tidak, Yohan tidak boleh punya pacar, aku harus tanya padanya nanti.”
>>>
Sementara itu Yohan dia melamun di tepi sungai berarus deras. Bukan maksudnya dia meninggalkan Lucy sendiri di hari spesial ini, tapi dia hanya tidak tahan dengan rasa sesak di dada. Biarkan dia sendiri untuk menenangkan diri, rasa cemburu dan kecewa membuat otaknya panas.
“Bagas lagi Bagas lagi, bolehkah aku melenyapkan pria itu?” gumamnya sendiri.
.
__ADS_1
.
“Bibi kau melihat Yohan,” tanya Lucy pada salah satu warga. Dia memutuskan untuk mencari Yohan, menunggu pria itu pulang entah sampai kapan. Ini sudah maghrib, Lucy tidak punya bayak kesabaran untuk itu.
“Tadi bibi lihat dia duduk di tepi sungai, mancing kali ya?”
“Makasih Bibi, aku pergi lihat dulu.” Lucy berlari ke jembatan sungai. Tapi, di mana Yohan? Tidak adapun. Saat mata Lucy menelusuri area bawah, dia dapat melihat Yohan yang termenung di dekat rerumputan tepi sungai.
“Astaga, di semak sana ternyata. YOHAAAAAN!” teriak Lucy memanggil.
Yang di panggil pun menoleh, dia sangat hapal dengan suara Lucy Ranxio. “Nona, ngapain Nona di sana?” sahut Yohan berdiri dan juga berteriak.
“Kau yang di sana ngapain! Kesurupan baru tau. Pulang! ini sudah magrib, gak dengarkah suara ngaji mushola?” Lucy sudah seperti seorang ibu yang mencari anaknya yang pergi main tidak ingat pulang.
Yohan berlari di semak-semak itu, menuju Lucy yang di atas jembatan gantung sana.
Tbc.
__ADS_1
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....