Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 71


__ADS_3

Kini Lucy mengerti alasan ketakutannya sejak tadi. Pukul 14.45, sekumpulan orang berada di depan rumahnya. Lucy mematung seraya mengatur nafas yang kian memburu, jantungnya seakan ingin meledak melihat ada Aris sebagai pemimpin mereka.


“Sudah lama tidak bertemu, Nona,” sapanya tersenyum lebar.


Lucy tersadar dari pemikiran sendiri. “Pergi!” tegas Lucy yang hendak menutup pintu. Namun, tidak mungkin Aris membiarkannya.


“Bawa nona,” perintah Aris pada mereka. Lalu Aris masuk ke dalam untuk mencari satu orang lagi, yaitu Yohan.


Aris menelusuri rumah kecil itu namun tidak menemukan siapa pun di sana, kemudian dia kembali lagi untuk bertanya pada Lucy yang di sana tengah memberontak.


“Nona, pengawal kesayanganmu ada di mana?”


“Kalau dia ada di sini maka kalian sudah habis sejak tadi!”


Aris berdecak sebal, Lucy ataupun Dion sama-sama meremehkannya. “Lihat saja, pengawal kesayanganmu itu akan mati di tanganku.”


“Kau tidak akan pernah bisa membunuhnya!” Ucap Lucy dengan kerlingan penuh kebencian.


Ingin sekali Aris menusuk mata itu kalau saja tidak ingat dengan perintah Dion, sudah sejak tadi dia membanting Lucy ke tanah. “Yohan ada di mana?”


Walaupun sekarang Lucy dalam keadaan terdesak dan membutuhkan pertolongan, tapi dia tidak mau Yohan hadir sekarang. Tujuan mereka sudah jelas untuk membunuh Yohan, perasaan takut kehilangan Yohan tiba-tiba saja hadir dalam benak Lucy, dia tidak mengerti kenapa.


“Dia... meninggalkanku,” tipu Lucy menatap sendu dengan kepala yang tertunduk.

__ADS_1


Aris terdiam sebentar.


“Bawa dia masuk ke mobil,” lanjutnya.


Lucy ditarik paksa oleh mereka, gadis itu terus memberontak menjerit berharap ada orang sekitar yang menolongnya. Warga hanya bisa melihat, mereka tidak bisa menolong Lucy sebab sekumpulan orang yang dibawa Aris itu membawa senjata tajam dan juga senjata api.


Kring.


Kalung yang sebelumnya tidak pernah lepas sejak dipasangkan oleh Yohan dulu sekarang jatuh ke tanah tanpa disadari oleh Lucy. Gadis itu terus terisak menyesali ketidak berdayaannya. 


Pukul 15.23, Yohan melangkah dengan perasaan yang sangat senang membawa cake dan juga puding kesukaan Lucy dari kota. Sebelum membuka pintu dia menyembunyikan terlebih dahulu barang bawaannya di belakang tubuh guna untuk memberi kejutan untuk Lucy.


“Ehem.. Nona.” Panggilnya seraya membuka pintu dan berjalan masuk.


Yohan kembali keluar berpikir mungkin Lucy sedang main ke luar. Ada sesuatu yang berkilau di halaman, Yohan menghampiri untuk melihat benda apa itu. 


“Ini.. kalung Lucy?” ujarnya lalu mengambil liontin bentuk jam pasir dan juga jam yang sama dengan jam Ben Tower di London.


Sibuk memperhatikan kalung, Yohan tidak sadar sudah ada beberapa warga yang menghampirinya. “Yohan,” panggil salah satu dari mereka.


Yohan menghadap ke depan untuk melihat siapa yang memanggil. “Iya Pak, ada apa?”


“Lucy...”

__ADS_1


“Saya juga sedang mencarinya, ada yang liat di mana Lucy?” 


Para warga saling berpandangan merasa kasihan pada Yohan. Itu malah membuat Yohan tidak mengerti kenapa mereka datang rame-rame seperti ini hanya menyebut nama Lucy dan kemudian diam.


“Ada apa pak?” Tanya Yohan sekali lagi.


Buk rt pun maju paling depan. “Yohan ibu minta maaf, tadi keponakan ibu datang membawa rombongan bersenjata untuk menculik Lucy.”


“Hah? Maksud ibu apa?”


“Keponakan ibu bernama Aris, ibu tidak tahu kenapa dia datang setelah ibu menceritakan tentang kau dan Lucy.”


Kaki Yohan melemas, belanjaan yang ia tentang jatuh ke tanah. Dadanya terasa panas antara marah dan juga takut kehilangan, tak memperdulikan para warga lagi, Yohan langsung berlari naik ke motor kemudian mengegasnya kencang.


Tidak perlu di tanya lagi ke mana tujuan Yohan, tentu saja menyelamatkan Lucy.


 


Tbc.


...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....

__ADS_1


__ADS_2