
Baru seminggu bekerja, Aris sudah marasa tidak betah. Majikannya kali ini benar-benar sangat menguras emosi, sering kali Aris ditampar dan dipermalukan di depan khalayak umum.
Kini di dalam toilet sekolah dia menatap bayangan di cermin, wajah itu basah dengan air yang menetes di rahangnya. Malang sekali, pria gagah sepertinya menelan malu kerna sang majikan.
“Lucy sialan!” umpat Aris pelan. Jangan sampai ada orang lain yang mendengarnya, bisa mampus Aris.
“Kesal dengan Lucy?” sahut orang yang ada di dalam Wc, kemudian pintu itu terbuka menampilkan Bagas di ambang pintu. “Kenapa kau mau jadi pengawal Lucy?”
“Ya kerna uang lah!”
“Ah benar juga, pengawal Lucy yang lainnya juga begitu, mereka sangat membenci Lucy, gadis itu adalah mimpi buruk bagi mereka.”
“Memang siapa yang tahan sama gadis itu?”
“Yohan, dari sekian banyak pengawal yang pernah mendampingi Lucy, hanya Yohan lah yang sama sekali tidak menunjukkan mata kebencian. Dengan Lucy tatapannya begitu lembut, apapun yang dilakukan Lucy dia tidak pernah mengeluh, ku rasa pria itu mencintai Lucy.” Ujar Bagas yakin. Hanya Lucy yang tidak sadar akan ketulusan Yohan.
“Cih menyedihkan, itu adalah hal yang tabu bagi keluarga Ranxio. Kalau benar si Yohan Yohan itu mencintai Lucy, maka siap-siap saja dia akan jadi sad boy ahahha” Aris pergi duluan, tinggalah Bagas yang tengah memperbaiki pakaiannya di depan cermin.
“Hmm siapa yang tahu ke depannya,” gumam Bagas.
Lucy melihat sosial medianya, dia paling suka melihat konten food floger di kota ini. Kali ini yang Lucy lihat berada di kota sebelah, dia ingin sekali pergi, tapi tau Aris bukanlah Yohan yang memiliki keberanian tingkat tinggi.
“Ada apa Cy, kok bete gitu?”
“Pingin makan seafood di tempat ini.” Lucy memperlihatkan HP nya.
“Yaudah pergi aja.”
__ADS_1
Lucy mengehela napasnya berat, kekangan keluarga selalu berhasil membuatnya sesak. Lucy benci Dion, benci Sangga dan segala-galanya yang ada di rumah itu.
“Kalau aku dibolehin, kamu mau gak ikut?”
“Kapan?”
“Wekend.”
“Aku gak bisa Cy, mau bantu mama papa.”
“Dari kemarin gak bisa terus pas aku ajak jalan.”
Kemudian Aris datang setelah selesai dengan urusannya di toilet, dia diam berjalan ke bangku di belakang Lucy.
Lucy berbalik menghadap Aris. “Aris aku mau ke kota X.”
“Apa sudah bilang ke tuan besar, Nona?”
“Gak usah bilang, kamu cukup bawa aku dan urus sisanya sendiri.”
__ADS_1
“Tidak bisa Nona, saya takut dimarahin tuan.”
“Kalau gak ketahuan gak bakal marah dia, makanya kamu harus pintar-pintar.”
“Saya akan meminta izin pada tuan besar duhulu.”
“Ck bodoh, gak bakal diizinin.” Lucy kembali lagi berbalik menghadap depan. Tangan Vivi menyentuh pundaknya halus, dia siap membisiki sesuatu di telinga Lucy.
“Sudah ku bilangkan Cy, kamu memang paling enak sama Yohan.”
“Iya sih.”
“Berdo'a saja dia cepat kembali, tidak hanya berpindah kota, dia bahkan sanggup membawamu keliling dunia.”
Lucy diam menatap papan tulis, akhir-akhir ini dia kembali merasakan kebosanan yang hampa. Hanya bisa di rumah saja persis seperti dulu, seperti sebelum kedatangan Yohan.
Tbc.
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
__ADS_1
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....