Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 39


__ADS_3

Di tempat yang berbeda, Sangga sedang bercinta dengan pacarnya. Kamar hotel itu sudah berantakan kerna kegilaan mereka yang mencoba bermacam macam gaya.


“Misa ah,” des*hnya mencapai puncak. Sangga menghempas diri ke samping.


Misa pacarnya sangga memeluk pria itu dengan manja. “Mau lagi?” godanya.


“Kau kuat sekali Misa, aku sudah lelah.”


Kemudian Sangga duduk mengambil rokoknya di atas nakas, asap pun mengebul memenuhi ruangan. Misa memeluk Sangga dari belakang dengan tubuh mereka yang sama sama polos, Misa tidak masalah dengan bau rokok.


“Sangga.”


“Hmmm.”


“Kapan kau akan menikahiku? Kita sudah lama seperti ini terus loh,” singgung Misa, dia tidak pernah bosan menanyakan keseriusan Sangga.


“Kau sabarlah, Misa.”


Misa melepaskan pelukannya, muak sekali mendengar kata sabar. “Sabar sabar dan sabar terus! Sebenarnya kamu cinta aku gak sih sama aku? Atau sebenarnya aku hanya pelampiasan nafsumu saja!”

__ADS_1


“Keputusanku menikahimu atau tidak, aku menyentuhmu juga tidak geratis!” Sangga mulai emosi, dia tidak bisa menikahi Misa, hatinya untuk orang lain yaitu adiknya sendiri.


“Kau tega Sangga! Aku udah setia sama kamu selama empat tahun ini.” Misa menangis, dia berbaring menyembunyikan diri di dalam selimut.


Tok tok tok.


Sangga melilit handuk di pinggang untuk membukakan pintu. Suruhan Dion menyapanya. “Tuan muda anda sudah di tunggu tuan Dion.”


“Hmm, aku akan menyusul setelah berpakaian.”


Sangga mengabaikan Misa yang merajuk di atas ranjang sana. Setelah mandi dan berpakaian Sangga pergi begitu saja yang membuat sang wanita benar-benar merasa hanyalah pelampiasan bukanlah seorang kekasih.


...***...


Setelah tujuh hari lamanya tidak menginjak daratan, akhirnya hari ini Lucy dan Yohan kembali. Kelegaan dari seluruh penghuni rumah menyambut kedatangan mereka.


“Yohan sialan! Kami takut banget tuan besar pulang lebih dulu,” rutuk paman Tian.


“Nyatanya kami yang lebih dulu kan Paman?”

__ADS_1


“Berhentilah bertingkah, membawa nona Lucy ke sana kemari! nona Luc-” Paman Tian terdiam ketika menoleh ke arah Lucy, ada sesuatu yang berbeda dari Lucy. Auranya berbeda dari yang sebelumnya dengan yang sekarang, seperti aura seorang wanita bukan lagi gadis.


“Ada apa?” tanya Lucy menyadari tatapan paman Tian.


“Ti-tidak ada Nona, anda silahkan istirahat di kamar. Kalian! Bawakan barang nona Lucy.”


Kemudian paman Tian menarik tangan Yohan ke tempat yang tidak ada orang. “Yohan, tidak ada yang terjadi dengan nona Lucy kan?” tanyanya.


“Tidak”


“Tapi aura nona Lucy sekarang kok beda ya.” Paman Tian memang ahli menilai seseorang, selain sebagai kepala pelayan tugasnya juga mencari gadis perawan, dia tau perbedaan aura mereka.


Sebenarnya dengan mengambil mahkota Lucy, Yohan berhasil menyelamatkan nonanya untuk menjadi hidangan utama persembahan, tapi bukan berarti Lucy tidak bisa di jadikan tumbal, darahnya masih bisa digunakan, untuk diminum oleh mereka atau di setubuhi di hadapan patung baphomet saat waktu ritual nanti.


Kenapa tidak membawa kabur Lucy saja? Percuma! Keluarga ini pasti akan dengan mudah menemukannya. Satu-satunya cara adalah menunggu waktu ritual, dan kemudian membunuh Dion dan juga orang yang membuat janji dengannya.


Tbc.


...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!...

__ADS_1


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....


__ADS_2