
Tok tok tok.
Lucy terbangun setelah sekian kali pintu rumah diketuk dari luar. Saat dia meregangkan tubuh dia tidak merasakan keberadaan seseorang seperti semalam, kemana Yohan?
Tok tok tok.
Sekali lagi ketukan pintu terdengar, terpaksa Lucy yang harus bergerak. “Iya sebentar,” jawab Lucy melangkah lesu dengan wajah ngantuknya.
Kreek~
Saat pintu dibuka, ada seorang ibu berhijab yang tidak dikenali Lucy berada di depan pintu rumah. Lucy menyerigit, siapa ibu ini? Pertanyaan itulah yang muncul dalam batin.
“Tentangga baru yang dimaksud ibu ijah semalam, ya?”
Buk Ijah? Siapa pula itu buk Ijah, Lucy tidak mengenalnya, dan kenapa pula ibu ini datang menyebut nama buk Ijah. “Buk Ijah?” ulangnya.
“Iya, ibu yang ngobrol denganmu semalam.” ujar ibu itu mengingatkan Lucy.
Lucy kembali teringat pasal wanita yang pertama kali berbicara dengan mereka semalam. “Oh ternyata wanita semalam namanya buk ijah?”
“Iya, saya Desi istri dari rt di sini.”
Memang kalau buk Rt bisa seenaknya mengetuk pintu rumah orang?, sumpah pagi pagi ganggu banget, ngantuk nih mata.
__ADS_1
“Siapa namanya dek?”
“Lucy.”
“Suaminya mana?”
“Gak tau, pagi-pagi dah hilang.”
“Gini, ibu mau nyampaikan saja sekalian berkenalan ya kan? Besok ada acara hajatan di rumah saya, di desa kami para wanita akan saling membantu untuk urusan dapur. Adek bisa datang ya? Sekalian kenalan sama tetangga lain.”
Saling bantu? nih ibu -bu cari pembantu geratis kah? ogah aku datang, gak tau aku urusan dapur itu kayak mana.
Lucy hanya mengangguk-angguk saja sampai buk desi pergi. Lucy mau menutup pintu tapi dia melihat Yohan berjalan membawa sesuatu di sana, Yohan berpapasan dengan buk Desi juga menyapa ramah.
Pandangan Lucy gak lepas dari Yohan sampai pemuda itu berada di hadapannya. “Dari mana kamu?”
“Beli sarapan dan juga sembako.”
Lucy membiarkan Yohan masuk. Pria itu menyiapkan piring untuk mereka makan, Lucy duduk dan mulai mengadukan tentang buk Desi.
“Eh eh Yohan, di desa menerapkan sistem perbudakan ya? Kita orang baru pasti jadi budakkan?”
Yohan ter bengong, kenapa Lucy berpikir seperti itu?
__ADS_1
“Enggak, memang nya ada apa, Nona?”
“Itu loh, ibu yang berpapasan denganmu tadi. Ngajak aku ke rumahnya buat ikut ngurusin dapur dia, katanya dia ada hajatan besok.”
“Pffft ahaha.” Yohan terkekeh.
“Kenapa kau tertawa?”
“Itu bukan perbudakan tapi namanya rewang, memang sudah tradisi orang desa seperti itu. Kalau tidak mau, tidak apa-apa jika tidak datang.”
“Rewang tuh apa sih?”
“Nona datang aja kalau mau tau lebih jelas, tapi intinya mereka saling membantu dengan ikhlas tak meminta bayaran. Nona datang saja biar dapat teman, saya juga ikut buat bantuin bapak-bapak.”
“Jadi aku datang nih?”
“Terserah Nona, tapi saran saya datang saja. Saya ikut keputusan Anda.”
Walaupun desa penduduknya tampak adem namun sisi gelap juga mengikuti mereka. Mengatai orang sebagai bahan rumpian mungkin bisa disebut sebagai salah satu tradisi mereka, Yohan khawatir kalau Lucy di anggap sombong. Omongan mereka bisa saja sampai ke telinga Lucy, dan entah apa yang terjadi setelah itu.
Tbc.
...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....
__ADS_1
...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....