
Untuk pertama kali gadis manja ini berhadapan dengan wajah asli Dion. Tatapan yang tidak selembut biasanya juga perlakuan kasar para orang suruhan Dion yang mendorong Lucy kasar.
Sebenarnya mereka sedikit telat karena ada pohon tumbang di jalan tadi. Namun pada akhirnya Lucy sampai juga di hadapan Dion pukul lima sore.
“Kalian pergilah,” titah Dion, mereka pun pergi. Sekarang hanya ada Lucy dan Dion di ruang kosong yang tampak tidak semewah isi rumah lainnya. “Apa alasanmu membuat kematian palsu Lucy?” tanya Dion membelai lembut surai panjang Lucy.
Tidak ada gunanya Lucy takut, dia tidak ingin membuat setan di depannya itu senang. Dengan berani Lucy menegapkan kepala menatap lantang Dion seolah dia tidak takut akan apa-apa lagi.
“Setelah tahu aku hanyalah tumbal kekayaanmu, kau parkir aku akan diam saja, papa?” tutur Lucy tersenyum tipis.
“Sombong sekali kau, Lucy? Mirip seperti mamamu.”
“Apa papa akan mengawetkanku seperti mama yang mayatnya di biarkan cantik di gudang atas?”
“Ternyata kau sudah tahu sejauh itu.” Dion sudah menduga ini sebelumnya, jadi dia tidak terkejut lagi. “Aku tidak bisa membiarkanmu hidup, ketua tahunya aku sudah mengorbankan putriku. Kehadiranmu hanya akan membongkar kebohonganku, nak.”
Kemudian Lucy di tarik dan di ikat di sebuah kursi kayu berjarak satu meter dari pintu masuk, gadis itu dapat melihat dari jarak empat meter, Dion mengarahkan senjata api laras pendek padanya. Mungkin tujuan Dion adalah kepala Lucy agar gadis itu langsung mati.
__ADS_1
Sebelum itu Dion berkata, “Mayatmu akan aku kubur, tenang saja.”
Lucy memejamkan matanya pasrah. Dia takut, sangat takut! Ingin ia menjerit meminta tolong pada siapa pun di luar sana, tapi... ini adalah sarang Dion, tak ada siapa pun yang bisa di harapkan oleh Lucy di rumah ini.
Bunyi jam tiap detiknya sangat jelas, ini bukti detik-detik kematian Lucy. Dia semakin memejamkan mata rapat, menahan tubuh yang gemetaran.
Dan...
DOOOR!
Apakah ini kematian? Kenapa tidak ada rasa sakit sama sekali. Hangat, siapa yang memelukku? Apa aku sudah sampai di pelukan mama? Berbagai macam pertanyaan timbul, hingga satu suara menyadarkan Lucy.
Suara itu adalah suara yang sangat dikenali Lucy, perlahan gadis itu membuka mata. Benar, itu Yohan. Pemuda itu terbatuk darah namun tangannya masih bisa melepaskan ikatan tubuh Lucy dari kursi.
“Yohan...” Lucy menangis, yang terkena tembakan adalah Yohan, sebab pemuda itu menjadikan tubuhnya perisai untuk melindungi Lucy.
Dengan posisi kepala yang di pangku oleh Lucy, Yohan mengarahkan pistol yang ia bawa ke Dion yang tengah panik kerna senjatanya tidak bekerja lagi setelah tembakan pertama. Dia langsung berlari hendak melompat dari jendela, tapi peluru Yohan lebih cepat.
__ADS_1
DOR!
Yohan menembak kepala Dion hingga pria tua itu langsung terkapar mati di tempat.
“Yohan.. kita ke rumah sakit ya.” Lucy menutupi darah yang terus saja keluar dari dada Yohan.
Dengan tangan yang gemetar Yohan mengelus pipi Lucy, “Nona, syukurlah kau baik-baik saja.” Yohan tersenyum tipis, Lucy semakin dibuat menangis oleh pemuda yang tidak berdaya di pangkuannya itu.
Walaupun begitu Yohan menarik rambut Lucy agar lebih dekat dengannya, Klik, Liontin yang tadinya jatuh kini kembali lagi ke leher Lucy. Yohan tersenyum setelah berhasil memasangnya.
Lucy mencoba berdiri agar bisa menyeret Yohan ke rumah sakit, tapi pria itu malah menahan posisi mereka sekarang lalu berkata, “Lucy, aku mencintaimu.” Mata Yohan tertutup pelan setelah mengatakan kalimat yang selama ini dia tahan tanpa menunggu jawaban dari Lucy.
Jantung Lucy berdegup kencang. “Bangun! Kenapa kau tidur? Bangun Yohan!” teriak Lucy sambil terisak menampar-nampar pipi Yohan.
“Kau belum matikan? Kalau kau mencintaiku kau tidak boleh meninggalkanku!” Genangan air mata Lucy jatuh ke wajah Yohan, Yohan sudah tidak bernapas lagi, tubuhnya sudah pucat dan dingin. Pemuda itu meninggal dalam pangkuan wanita yang di cintainya, Lucy berteriak histeris memeluk mayat Yohan.
“Tolong... tolong jangan tinggalkan aku,” Lirihnya berbisik di telinga Yohan.
__ADS_1
Tbc.