Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 37


__ADS_3

Pagi-pagi Lucy sudah duduk termenung menatap laut dari jendelanya, ombak laut tampak tinggi namun tidak membuat Lucy takut kerna pikirannya sekarang sangat kusut berkelana kemana-mana. Terus merenung dan merenung, dia cukup terpukul dengan kenyataan yang terjadi.


Seorang laki-laki yang masih terbaring memperhatikan Lucy di kasurnya, gadis itu butuh waktu untuk menerima kenyataan.


”Yohan,” panggil Lucy tiba-tiba namun tidak menoleh sama sekali, dia masih melihat ombak di luar sana.


“Iya Nona.”


“Aku lapar.”


Yohan bernafas lega, akhirnya Lucy mengasihani dirinya sendiri. “Saya akan bawakan.”


“Aku mau makan di deck luar.”


“Baiklah,” sahut Yohan. Sepertinya Lucy mencoba melupakan segalanya, mau bagaimanapun yang hilang itu tidak akan bisa kembali, murung hanya akan tambah menyiksa diri sendiri.




Matahari pagi ini terselimuti awan mendung di atas sana, sepertinya sebentar lagi akan ada badai. Tapi suasana berangin dengan cuaca mendung sangat enak untuk duduk di luar, Lucy dan Yohan menikmati sarapan di deck luar, mereka tidak sendiri, ada banyak orang juga yang melakukan hal sama.



Lucy bahkan bisa mendengar obrolan mereka.



“Eh kalian udah tau belum? ada tragedi pembunuhan di kapal ini.”



“Iya udah dengar aku, katanya pelaku belum di temukan ya.”



“Masih di cari sih katanya.”



“Kasihan banget, padahal cowok itu masih muda loh. Tadi abangnya nangis histeris, liat adiknya udah tak bernyawa di dalam kamar.”



“Moga aja cepat jumpa si pelakunya.”

__ADS_1



Obrolan mereka mendapat respon ringan dari Lucy, sambil menyuap spageti ke dalam mulut dia berkata. “Siapa sih yang meninggal.” ucapnya datar.



“Kelvin,” sahut Yohan.



“Kelvin yang kemarin itu! Kok bisa sih?”



Yohan mendekati telinga Lucy kemudian berbisik. “Kemarin Nona yang menyuruh saya untuk membunuhnya.”



Lucy mematung dengan mulut yang berhenti menguyah, matanya membulat sempurna menatap Yohan yang sudah kembali duduk sempurna. “Yo-yohan ayo kita kembali ke kamar.”



“Habiskan makanan anda dulu Nona.”




\>\>\>


Sampai di kamar Lucy menutup pintu rapat, kemudian dia berbalik menatap Yohan yang berdiri di belakangnya. “Kau yang membunuh Kelvin?”



“Iya.”



“Kenapa kau lakukan itu!”



“Nona semalam yang menyuruhku.”


__ADS_1


“Hais Yohan kau bodoh sekali! kenapa kau turuti perkataan orang yang dalam keadaan kesal, disituasi itu kata *bunuh* adalah sesuatu yang biasa keluar!”



Biasanya orang yang sedang marah memang sering mengungkapkan kata *Bunuh*, namun saat suasana hatinya sudah tenang dia akan melupakan kata itu, mereka tidak benar-benar ingin membunuh, itu hanyalah emosi sesaat.



“Dia sudah terlanjur mati Nona, gimana dong?”



“Gimana kepalamu! Tentu saja ini gawat. Bagaimana kalau kau ketahuan?”



“Tenang saja, saya sudah menyingkirkan semua bukti.”



“Yohan, sepandai-pandai lnya tupai melompat pasti akan jatuh juga.”



“Tapi saya bukan tupai, Nona.”



“Ahhh! terserah kau!” Lucy tambah pusing, dia tidak menyangka Yohan akan benar-benar membunuh Kelvin. Kedepannya Lucy harus berhati-hati memberi perintah, bodyguardnya itu sangat penurut.



“Nona katanya tadi mau pesan makan lagi.”



“Gak jadi! udah gak selera lagi aku.” Lucy membaringkan tubuhnya di kasur, ia menenggelamkan diri dalam selimut, ia harus menenangkan pikirannya dengan tidur.



Tbc.



...**Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib**!....

__ADS_1



...**Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada**....


__ADS_2