Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 70


__ADS_3

Aris melangkah pincang memasuki satu ruang rumah sakit yang terdapat Dion dan Sangga di sana. Tampak Dion yang tengah termenung memandang kosong wajah Sangga yang pulas.


“Permisi tuan,” ujar Aris sopan. Aris berdiri di samping Dion yang mulai berpaling padanya.


“Ada apa?”


Masih berada di dalam posisi yang sama, di mana membuktikan perbedaan atasan dan bawahan di antara mereka, Aris setia berdiri di samping Dion. “Saya membawa informasi tentang nona Lucy.”


“Sudah ditemukan mayatnya?”


“Dia masih hidup,” jawab Aris cepat. Spontan Dion memandangnya tajam dengan raut mengintrogasi.


Aris mengerti dengan mimik wajah itu. “Dia berada di desa kecil tempat bibi saya tinggal.”


“Kau jangan mengada-ngada.” Dion tidak ingin terlihat bodoh di hadapan bawahannya. Kembali lagi dia dengan ekspresi yang tenang seakan tidak pernah ada masalah dalam hidupnya.


“Saya tidak mengada-ngada tuan, bibi saya buk Rt di desa itu. Saat anaknya menikah aku tidak datang, tapi aku melihat foto pernikahan sepupuku, ada Lucy dan Yohan yang menyempil di foto itu.”


Selanjutnya Aris menyerahkan selembar foto pada Dion, memang ada Lucy dan Yohan yang tidak sengaja tertangkap di gambar itu. Dion mengepalkan tangannya, rahangnya menggeram karena merasa tertipu.


“Yohan!” tekannya dengan kerlingan benci dan amarah.


“Mereka tinggal di sana tuan, saya sudah menanyakan tentang mereka pada bibi saya.” Aris semakin gencar untuk mengadu domba. Ingat, dia menyimpan dendam pada Lucy yang selalu menyiksanya semasa bertugas menjadi pengawal gadis itu.


“Bawa 20 orang untuk membunuh Yohan, sedangkan Lucy, bawa saja dia hidup-hidup ke hadapanku.”

__ADS_1


titah Dion.


“Dua puluh orang tidak kebanyakan tuan?”


Aris heran kenapa perlu banyak orang untuk menangani Yohan?


“Yang kau hadapi adalah Yohan, dia bukan orang yang bisa diremehkan.”


Mendengarnya telinga Aris panas. Perkataan Dion seolah meremehkan Aris. Apakah Aris tidak ada apa apanya di bandingkan Yohan? Aku sendiri saja sudah cukup untuk membunuh Yohan, apa maksudnya membawa 20 orang?


Entah insting atau bagaimana, tiba-tiba tangan Lucy gemetar dengan perasaan takut yang entah datang sebab apa. Perasaan Lucy resah, segera dia menelfon Yohan untuk menyuruhnya segera pulang karena dia merasa sangat terancam sekarang.


“Yohan, kapan kau pulang?”


“Aku takut.” Mata Lucy sudah berair, bahkan gelombang suaranya pun terdengar seperti ingin menangis.


“Nona, ini siang. Tidak akan ada pocong.”


“Bukan, bukan itu yang aku takutkan.”


“Jadi apa?”


“Tidak tahu.” Alhasil Lucy menjatuhkan air mata yang tadi tertahan, isakannya terdengar jelas oleh Yohan.


“Saya akan pulang secepatnya.”

__ADS_1


“Jam berapa?”


“Setengah empat.”


“Janji?”


“Janji.”


“Awas saja bohong!”


Lucy memutuskan panggilan telfonnya. Walaupun jam setengah empat sebenarnya masih terlalu lama bagi Lucy, tapi dia mencoba mengerti kalau Yohan sedang bekerja. Untuk sementara dia mencari kesibukan lain untuk menghilangkan rasa takut itu.


60 menit kemudian.


Apa ini? Kenapa rasa takut ini tidak hilang-hilang. Aku sakit ya? Tuhan tolong beritahu aku perasaan apa ini? Lucy merasa tersiksa, banyak hal yang ia coba untuk mengalihkan pikiran negatifnya, tapi tidak ada yang berhasil.


Tbc.


...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!.


...


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada.


...

__ADS_1


__ADS_2