
Pada pukul tujuh pagi seorang gadis sudah siap dengan seragam sekolahnya. Hari ini dia akan diantar lagi oleh sang kekasih, namun untuk pulang nanti dia harus pulang sendiri karena alasan Yohan yang pulang di waktu fajar tenggelam.
“Yohan, ayo,” katanya yang kemudian langsung pergi keluar terlebih dahulu.
Saat membuka pintu, Lucu berpapasan dengan gadis pirang yang entah habis dari mana.
“Sudah kau buang kotak itu?” singgung Lucy dengan nada mengejek.
“Ka- Yohan?” Gadis itu menyebut nama setelah kehadiran seorang pria di belakang Lucy.
Seketika Lucy langsung berbalik dan memeluk Yohan posesif. “Yohan kau kenal gadis norak itu?”
“Ah dia anak temannya mamaku, Bina.”
Lucy mendorong Yohan kasar, raut marah tergambar di wajah Lucy. Yohan tidak mengerti kenapa Lucy tiba-tiba seperti itu.
“Ada apa, Cy?”
“Jadi ini alasan kamu memilih apartemen di sini, agar bisa bersebelahan dengan dia, Iya?”
Yohan menepuk jidatnya sendiri, sepertinya ada kesalahpahaman ini. Namun belum sempat menjelaskan Lucy malah pergi duluan. Tentu saja Yohan mengejar gadis yang suka menilai sendiri.
Sedangkan Bina mematung di tempat dengan ekspresi terkejut. Bagaimana tidak? Ternyata Yohan bertetangga dengannya, terlebih lagi tentang gadis yang dulu fotonya selalu dilihat Yohan ternyata aslinya sangat cantik.
“Kalau ceweknya secantik itu mana mungkin aku bisa bersaing.”
.
.
__ADS_1
Yohan menarik Lucy masuk ke dalam mobil, namun gadis itu enggan melihat ke ayahnya dan menganggap jalanan lebih tampan dari pada Yohan.
“Katanya sudah dewasa, kok langsung pergi saja sebelum mendengar penjelasan?” singgung Yohan diiringi tawa kecil sebab merasa lucu.
Lucy tidak menjawab, dia tetap diam walaupun Yohan mengejeknya.
“Aku juga tidak tahu kalau dia tinggal di situ. Begini saja, kita pindah apartemen, ok?” tawar Yohan yang cukup menarik perhatian Lucy.
“Ya sudah pindah,” jawab Lucy yang setuju.
“Tapi tunggu dulu, uangku belum cair untuk menyewa yang baru.”
“Kita kan belum ada seminggu tinggal di situ, ambil saja sisa uangnya.”
Pemikiran sederhana Lucy membuat Yohan geleng-geleng kepala, goblok banget pokoknya. “Uangnya sudah enggak bisa dikembalikan.”
“Maaf,” kata Lucy tiba-tiba.
“Maaf kenapa?”
“Aku egois, kita enggak usah pindahlah, tapi kamu benaran enggak ada apa-apa kan dengan gadis norak itu?”
“Iya, enggak ada.”
.
.
Sampai di sekolah Lucy terlebih dahulu mengecup pipi Yohan, mulai sekarang itu akan menjadi kebiasaannya. “Bye Yohan, aku masuk dulu.”
__ADS_1
“Iya, belajar yang benar, Nona.”
“Nona apanya? Sayang!” protes Lucy menerbitkan rasa berbunga-bunga di hati Yohan.
Setelah mobil Yohan jauh, beberapa cowok datang menghampiri Lucy yang berjalan sendiri. Mereka berani karena berita Lucy tak lagi didampingi pengawal sudah tersebar di sekolah, ini kesempatan untuk mendekati sang primadona.
“Hai Lucy,” goda mereka dengan menghadang jalan Lucy.
“Ada urusan apa?” Tidak biasanya Lucy dihadang seperti ini, jadi dia pikir para lelaki itu memiliki urusan penting dengannya.
“Boleh minta nomor WA enggak?”
“Enggak!” Saat Lucy hendak menerobos mereka, dia malah tertahan dan dikelilingi hingga tidak ada jalan keluar. “Apa-apaan ini? Minggir!”
Mereka tidak ingin menyingkir, bahkan satu tangan menepuk pantat Lucy hingga gadis itu berteriak meminta tolong, orang di sekitar tidak ada yang mau menolong, mungkin mereka adalah geng yang paling ditakuti di sekolah.
Tapi ada seorang pria yang menerobos lingkaran para murid laki-laki itu. “Apa-apaan ini? Kalian ingin melecehkan seorang gadis, bubar!”
“Siapa kamu!” tanya lelaki yang menepuk pantat Lucy tadi.
“Aku guru baru di sini.”
Mendengar kata ‘guru’ membuat mereka pergi begitu saja, mereka tidak mau kalau sampai ada yang namanya surat pemanggilan orang tua untuk sekian kalinya, bisa repotkan?
“Terima kasih,” ucap Lucy.
Pria yang katanya guru baru itu hanya mengangguk diam bahkan sampai Lucy meninggalkan dia.
“Pantas saja diganggu, dia secantik itu.” Batinnya yang jatuh ke dalam pesona Lucy.
__ADS_1