Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 24


__ADS_3

Semenjak itu, setiap hari Yohan tidur di depan pintu kamar Lucy. Kamar Yohan hanya tempat untuk mandi dan berganti pakaian, seperduli itu Yohan pada Lucy. Sangga beberapa kali datang dan tentunya akan dihadang oleh Yohan.


Hari ini hari jumat itu berarti malam ini Lucy akan menginap di rumah buk Asya sesuai perjanjian sebelumnya.


“Yohan bawalah pakaian gantimu.”


“Kita akan langsung ke sana setelah Anda pulang sekolah?”


“Iya.”


Lucy mengekori langkah Yohan yang ingin ke kamarnya, dia penasaran bagaimana suasana kamar yang ditempati Yohan. “Uwaaah,” kagum Lucy melihat bertapa bersih dan rapinya kamar itu.


“Ada apa Nona?”


“Kamarmu wanginya kamu banget.”


Senyuman tipis Yohan lemparkan, dia ambil pakaian yang ada di lemari lalu di masukan ke dalam tas. “Non, aku udah siap.”


“Cuman itu yang kamu bawa?”


“Emang kita berapa hari di sana?”


“Sehari.”


“Ini saja sudah cukup Non.”


“Bawa sikat gigimu juga.”

__ADS_1


Saran Lucy benar juga, hampir saja Yohan melupakannya.


...***...


Pulang sekolah Asya berlari menghampiri Lucy yang akan masuk ke dalam mobil. “Lucy tunggu!”


“Ada apa Bu?”


“Kamu mau langsung ke rumah ibu?”


“Engga, kami mau jalan jalan dulu. Ini masih jam satu, ngapain cepat-cepat. Yok Yoha-”


“Tunggu! boleh ibu menumpang?”


“Yaudah kami akan antarkan Ibu pulang.”


“Kenapa Ibu mau ikut jalan-jalan sama saya?”


“Please boleh ya.”


“Yaudah deh ayo masuk.”


Buk Asya menunggu dibukakan pintu oleh Yohan, kerna Yohan berlaku seperti itu pada Lucy, dengan penuh harap dia berdiri menantikannya.


“Kenapa belum masuk?” tegur Lucy.


“Ah iya.” Tak dapat perhatian dari Yohan membuat buk Asya membuka pintu mobil sendiri, tapi bukan di belakang dekat Lucy melainkan di samping Yohan.

__ADS_1


Lucy tidak senang, ngapain Asya di situ. “Ibu ngapain di situ, sini!”


“Bukannya itu bangku untuk majikan ya? gak apa+apa ibu di sini saja.”


”Huh~ terserah!”


“Aku udah terlihat kaya istrinya belum sih?” batin Asya menahan senyum sendiri sedangkan yang menyetir hanya diam saja.


Lucy ingin jalan-jalan ke tempat yang terbuka, salah satunya adalah taman hiburan terbesar di kota, dia ingin mencoba wahana yang terlihat menyenangkan di sosial media.


“Ibu mau main juga?”


Asya menelan ludah kasar, bukan takut atau apa, melainkan dompetnya sangat tipis hanya untuk dihabiskan bermain di taman hiburan, bagaimana dengan makannya nanti?


“Enggak kamu aja yang main, ibu akan nunggu di sini sama Yohan.”


“Yohan ikut main bersama aku, berarti Ibu sendiri. Yuk Yohan kita beli karcisnya.”


Pede sekali Asya kalau Yohan juga akan menunggu di sini, pemuda ini stay hampir 24 jam bersama Lucy. Mana mungkin Yohan membiarkan nonanya pergi sendiri, bagaimana terjadi sesuatu? Siapa yang akan melindungi Lucy?


“Kenapa aku sangat miskin ya Allah. Yohan nya pergi huhu aku sendiri di sini.”


Dari bawah sini Asya dapat melihat Lucy dan Yohan berada di kora-kora gantung, dia iri sekali melihat Lucy bergelayut ketakutan di tangan Yohan. Mereka tidak seperti majikan dan bodyguard melainkan sepasang kekasih yang menikmati wahana.


Tbc.


...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....

__ADS_1


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....


__ADS_2