Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 32


__ADS_3

Sejak tadi Lucy hanya diam saja, dia merajuk kerna Yohan melihat tubuh telanj*ngnya. Yohan juga jadi merasa bersalah, kenapa dia harus memegang handuk sekenceng itu tadi.


“Nona maafkan saya.”


“Diam kau!”


Yohan terdiam, Lucy pasti malu sekali, apalagi dia tidak bisa menyembunyikan diri dari Yohan kerna ini bukanlah di rumah, dia butuh Yohan di sini kalau tidak sudah pasti Lucy tidak ingin melihat Yohan lagi dalam waktu sebulan atau lebih, mungkin.


Selesai makan mereka ke pelabuhan, ada kapal besar yang terparkir di sana. Lucy menatap kagum sambil menaiki tangga bersamaan dengan penumpang lain.


Sampai di atas kapal Lucy semakin kagum merasa tidak percaya dia benar benar berdiri di sini, namun baru mau menjelajah Yohan malah menariknya untuk masuk.


“Yohan aku masih mau liat di luar!” bentak Lucy.


“Nanti saja Nona, orang ramai naik dan mengangkat barang di luar, lebih baik kita membereskan barang di kamar terlebih duhulu.”


Suasana di luar tadi memang cukup padat, bahaya membiarkan Lucy di sana. Tapi interior dalam juga menarik untuk dipandang, benarkah ini semua di dalam kapal?

__ADS_1


Lucy yang tadinya bad mood sepertinya sekarang sudah lebih baik, di balik jendela transparan dia melihat ombak laut biru yang luas. Lagi-lagi mereka berada di kamar yang sama dengan double bad, jangan tanya alasannya kenapa, Lucy yang sangat awam pada pengetahuan luar berbahaya dibiarkan sendiri.


“Yohan kapan kita keluar?” tanya Lucy, sudah dua jam mereka di kamar tapi Yohan belum ingin membawa Lucy keluar.


“Baiklah ayo keluar,” pasrah Yohan.


>>>


Ada banyak hal yang bisa dijumpai dari kota terapung ini. Pusat perbelanjaan, bar, kasino, resto, gym, kolam renang bahkan lapangan futsal dan juga basket pun ada, masih banyak lagi. Semua bisa dinikmati secara geratis!.


“Boleh.”


Yohan membawa Lucy ke tempat duduk menghadap pentas bersamaan dengan orang lainnya. Pertunjukan balet cukup menyenangkan, tarian indah dan juga akting mereka membawa penonton masuk ke dalam cerita.


“Uwah~ aku jadi pingin belajar balet.”


“Kaki anda harus kuat Nona, lihatlah cara mereka melangkah dengan kaki meruncing.”

__ADS_1


“Kalau belajar aku pasti bisa.”


Prok prok prok, Tepukan tangan meriah dari para penonton setelah para penari di sana menyelesaikan drama mereka.


“Yohan ajak aku keluar, aku sudah cukup puas di sini,” ujar Lucy, Yohan mengangguk menerima permintaan Lucy. Mereka keluar tepatnya di deck utama berdiri di pagar kapal seperti Rose dan Jack di film Titanic.


“Nona hati-hati, nanti jatuh.” Yohan bediri di samping memegang lengan Lucy, mata gadis itu terfokus pada matahari yang seakan tenggelam di sana.


Sangat cantik, bukan matahari tapi Lucy nya! Yohan terpaku pada Lucy mengabaikan pemandangan indah yang dilihat gadis itu, tanpa sadar mulutnya berbicara, “Cantik.”


“Iyakan Yohan cantik banget,” sambung Lucy masih dengan posisi yang sama, padahal yang Yohan kagumi adalah dirinya bukanlah posisi matahari. Biarkan Lucy seperti itu, bisa bahaya kalau Lucy tau Yohan menyukainya. Takutnya Yohan dipecat.


Tbc.


...Sebelum lanjut Like and Comment terlebih dahulu, jangan jadi pembaca goib!....


...Author mau memperingatkan kalau novel ini hanya sekedar fiksi, jauh dari kenyataan yang ada....

__ADS_1


__ADS_2