Jangan Pergi, Yohan

Jangan Pergi, Yohan
Part 07


__ADS_3

Jam istirahat Lucy hanya duduk di bangkunya sambil memainkan ponsel. Dia malas sekali keluar, Vivi sudah duluan, memang gadis itu pada dasarnya friendly, jadi punya banyak teman, tidak seperti Lucy yang hanya memeiliki Vivi sebagai sahabat.


"Yohan aku mau kebab dan juga satu cap es cream rasa vanila."


"Saya akan belikan." Yohan berdiri dari duduknya kemudian pergi keluar untuk memenuhi permintaan Lucy.


Sepuluh menit kemudian Yohan kembali tapi yang ia dapat tatapan kesal dari Lucy. "Kenapa lama sekali?"


"Ngantri, Nona"


"Sudahlah aku tidak berselera lagi, kau buang saja itu."


Brak!


Yohan melempar kebab dan es cream yang ia bawa ke tong sampah di dekat pintu. Lucy terkejut tentunya, ia tak menyangka Yohan akan langsung menuruti tanpa memujuk atau memberi penjelasan terlebih dahulu padanya.


Plak!


Sebuah tamparan melayang begitu saja di pipi Yohan, Lucy pelakunya. "Kenapa kau buang, kau tau aku sedang lapar!"


"Maafkan saya, Nona. Saya akan pergi beli lagi." Yohan sedikitpun tidak membantah atau membela diri, dia langsung kembali keluar untuk membeli makanan yang sama.


Tidak mau nonanya marah lagi, Yohan mengancam orang yang marah antriannya direbut tidak peduli jika dia seorang wanita, ataupun nenek-nenek.


Berhasil mendapatkan kebab dan es creamnya, Yohan langsung berlari secepat mungkin bahkan ia memanjat gedung sekolah karena menaiki tangga dan menunggu giliran lift akan memakan waktu lebih lama dibandingkan memanjat langsung ke kelas.

__ADS_1


"Ini, Nona," ucapnya yang berada di jendela. Lucy kembali kaget oleh kejutan Yohan.


"Kau memanjat?"


Yohan menangguk, Lucy pun menerima apa yang Yohan bawa. "Tiga menit, cepat juga," kata Lucy sambil melihat jam tangannya.


Pemuda yang berterung dengan waktu tadi kembali duduk di tempatnya di belakang Lucy. Dia membuka kotak bekal yang ia bawa dari rumah Lucy.


"Kau bawa bekal?" Lucy mengernyit. Bekal yang dibawa Yohan tampak lucu, seperti buatan para ibu di Jepang.


Paham dengan maksud tatapan Lucy, Yohan pun menjawab, "Ini Maid yang berikan tadi pagi."


"Maid yang mana?"


"Sepertinya seumuran dengan saya."


"Ini Nona, air mineral cukup?" tawar Yohan, menyerahkan sebotol air kemasan yang masih tersegel rapat.


Lucy gagal mencari alasan untuk marah, dia berdecak lalu merebut kasar botol air. "Sini!" gertaknya sebal.


.


.


Pukul 14.30 kelas selesai, Yohan sekarang mengerti kenapa banyak yang tidak betah menjaga Lucy, ternyata nonanya itu sangat kasar dan tukang suruh. Bagi Yohan ini bukanlah masalah, dia sangat pro dalam menahan emosi.

__ADS_1


"Yohan aku mau ke mall."


"Tidak bisa, Nona, Tuan besar bilang harus langsung pulang ke rumah."


"Aku mau ke mall."


"Nona-"


"Aku tidak perduli, pokoknya aku mau ke mall." Lucy melupat kedua tangannya di dada, bersikap angkuh layaknya manusia tak terdidik.


"Tidak bisa."


"Ok." Lucy langsung lari keluar, Yohan menghela napasnya lalu kemudian mengejar.


Tin tin~


Suara klakson bus memekakkan telinga saat Lucy sembarangan ingin menyebrang. "Aaaa~" Lucy terjatuh kerna terkejut, dia meringis memegangi kakinya.


"Nona, Anda tidak apa-apa?"


"Sakit," tangisnya berlinangan air mata. Yohan melihat kaki Lucy yang ternyata terkilir, dia pun mengurutnya dan mendapat pukulan dan teriakan keras dari Lucy kerna kesakitan.


"Brengsek! Kau ingin mematahkan kakiku, ya!"


"Maaf Nona, setidaknya kaki Anda tidak bengkok lagi." Dengan kesabaran yang plus-plus Yohan mengangkat Lucy kembali ke mobil untuk mengobati luka gores Lucy.

__ADS_1


Mampuslah aku, batin Yohan mengingat Sangga meminta Yohan menjaga Lucy hingga tidak ada luka gores sedikit pun.


Tbc.


__ADS_2